Peradaban Maju, Peradaban Buku

syaariati

Oleh, M. Syahrul Zaky Romadhoni

Buku secara nyata memiliki peran sangat penting dalam membangun dan merawat peradaban. Buku menjadi penghantar efektif penyebaran ilmu pengetahuan di kalangan masyarakat. Dengan buku juga, tingkat literasi dan intelektualitas masyarakat menjadi meningkat sehingga berkontribusi positif dalam membangun peradaban yang maju. Tanpa buku, masyarakat akan tertinggal karena terkungkung oleh mitos-mitos mistis yang jauh dari kebenaran.

Dr. Ali Syari’ati, sosiolog Iran ternama, menyatakan bahwa sebuah peradaban akan lahir dan runtuh secara bergantian dari satu tempat ke tempat lain. Kita mengenal peradaban Mesir kuno yang sangat hebat, namun seiring dengan berjalannya waktu, peradaban ini punah dan “hanya” meninggalkan Piramida dan Sphinx yang sangat menakjubkan. Jika anda mengunjungi situs bersejarah tersebut, anda bisa membayangkan betapa majunya peradaban ini pada masanya. Menurut catatan sejarah, masyarakat Mesir adalah bangsa pertama yang menemukan tulisan. Lalu, bila anda menengok belahan dunia lain, anda akan menemukan sebuah peradaban besar lain yaitu Mesopotamia di lembah sungai Eufrat dan Tigris. Namun kini peradaban tersebut seakan hilang tak berbekas ditelan derasnya zaman.

Dewasa ini, kita melihat peradaban Barat berdiri sangat kuat dan dominan dalam hampir semua aspek kehidupan. Peradaban yang diwakili oleh Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa Barat ini unggul dalam berbagai hal dimulai dari ekonomi sampai pendidikan. Kita melihat pemerintahan di Barat telah berhasil menerapkan konsep negara sejahtera (welfare state) yang menjamin kesejahteraan tiap-tiap penduduknya, sehingga menciptakan kemakmuran secara merata. Kesejahteraan bisa merata karena negara mendapatkan uang banyak dari korporasi-korporasi besar dunia yang berada di kawasan ini. Lebih jauh, kondisi perpolitikan regional yang kondusif memungkinkan aspek-aspek kehidupan lain berjalan dengan lancar.

Peradaban Barat modern dewasa ini sangat jauh berbeda dari keadaan kawasan ini lima ratus tahun lalu, tepatnya pada abad pertengahan. Pada masa itu, kawasan Eropa terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil yang memiliki otonomi penuh. Kerajaan tersebut saling berebut pengaruh sehingga mengakibatkan peperangan sipil yang tiada henti. Untuk membiayai perang, para raja memungut upeti yang cukup besar dari rakyat, sehingga menyebabkan kemiskinan dan kelaparan merajalela. Lebih lagi sikap para pendeta yang memanfaatkan dominasi gereja dalam hal otoritas keagamaan untuk kepentingan-kepentingan pribadi ikut memperparah kondisi masyarakat yang sudah sangat menderita.

Di belakang negara Barat, peradaban Tiongkok mulai muncul dan diperhitungkan pada dekade terakhir ini. Saat ini negeri Tiongkok diklaim sebagai negara pengekspor produk manufaktur terbesar di dunia. Produk-produk berlabel Made in China yang terkenal dengan harganya yang miring menancapkan pengaruhnya dalam perdagangan bebas dunia. Bahkan di Amerika Serikat yang merupakan negara pengusung utama perdagangan bebas, produk negeri ini mengalahkan dominasi produk lokal.

Dalam sebuah kesempatan, Prof. Amien Rais, tokoh reformis Indonesia dan kritikus Amerika Serikat kenamaan, mengatakan bahwa hegemoni negeri Tiongkok mulai mengancam pengaruh Amerika Serikat. Beliau berpendapat negeri Tiongkok mulai mengalahkan dominasi AS dalam beberapa sektor, terutama sektor ekonomi yang menjadi salah faktor utama keunggulan suatu bangsa. Bahkan, Fareed Zakaria, host program GPS di Stasiun TV CNN, menyebut negeri ini sebagai salah satu kekuatan “the others” yang akan segera menyulitkan dominiasi Amerika Serikat di masa depan. Bagaimana tidak, saat ini negeri Tiongkok mulai unggul dalam berbagai hal seperti ekonomi, pendidikan, kebudayaan dan juga dominasi dalam kancah perpolitikan global. Padahal sebelum perang dunia, negeri ini adalah jajahan negara Jepang selama kurang lebih empat belas tahun.

Dari negeri Tiongkok, kita bergeser ke sebelah timur, tepatnya negeri Jepang yang juga menjadi salah satu kekuatan di dunia modern. Saat ini boleh kita katakan teknologi otomotif dan mekanik di negeri ini merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Hal ini sangat kontras dengan keadaan Jepang seratus tahun yang lalu yang sangat tertinggal karena terkungkung oleh Kekaisaran Jepang yang kaku. Paska kekalahan dalam perang dunia kesatu dan kedua, Jepang mampu bangkit dan membangun negerinya sehingga menjadi salah satu negara terkuat dan termakmur di dunia. Peradaban Barat, Tiongkok dan Jepang adalah representasi dari perdaban maju di alam modern saat ini.

Bila kita memutar arah waktu ke masa lima ratus tahun silam, kita bisa menemukan peradaban Islam di Timur Tengah menjadi salah satu peradaban yang maju dan berpengaruh. Saat itu, masyarakat Muslim hidup dalam kesejahteraan karena negara telah memiliki sistem ekonomi yang cukup mapan. Negara mendapatkan banyak keuntungan dari sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Selain itu, perdagangan transit antara Timur dan Barat juga memberikan kekayaan yang tidak sedikit. Hal ini didukung dengan sistem pemerintahan yang cukup stabil sehingga pelayanan terhadap masyarakat bisa lancar.

Keadaan umat Islam pada masa kejayaannya sangat kontras dengan apa yang kita lihat sekarang. Saat ini masyarakat muslim sedang sakit, sehingga tertinggal dalam berbagai hal dari masyarakat dalam komunitas lain. Umat sedang terjerumus pertikaian tiada akhir sebagai akibat dari output pendidikan yang tidak bisa menghasilkan manusia yang menghargai dan menyikapi keragaman dalam sebuah masyarakat. Jika pandangan kita tujukan ke negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim seperti Syiria, Irak, Yaman, dan Afganistan niscaya akan menemukan sebuah keadaan yang sangat jauh dari bayangan indah kejayaan Islam. Lalu mengapa sebuah peradaban bisa lahir dan tenggelam?

Menurut Ibnu Khaldun, sosiolog Muslim berpengaruh, seperti yang dikutip oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan adalah faktor utama yang membangun peradaban maju. Kita melihat peradaban Islam bisa maju karena setiap ilmuwan yang berada dalam kawasan jazirah Arab secara serius dan sistematis mengembangkan ilmu pengetahuan yang berkontribusi langsung terhadap kehidupan masyarakat pada waktu itu. Kemajuan dalam bidang kedokteran dan kesehatan, misalnya, menjadikan masyarakat Muslim relatif menikmati hidup sehat. Pun, kemajuan dalam bidang teknologi menjadikan mereka maju beberapa tahap dari masyarakat dalam komunitas lain.

Akan tetapi majunya ilmu pengetahuan suatu bangsa tidaklah bisa muncul secara tiba-tiba. Hal ini memerlukan komunitas yang concern dalam mengembangkan dan menyebarkan ilmu pengetahuan. Dalam bentuk lain, perlu jejaring keilmuan yang kuat di seantro negeri, sehingga segala bentuk penemuan baru bisa cepat diketahui dan diterapkan oleh masyarakat dari daerah lain. Tentunya hal ini memerlukan media yang menghantarkan informasi ke seluruh penjuru negeri.

Dalam kasus peradaban Barat, misalnya, perubahan signfikan yang ditandai dengan terbentuknya zaman pencerahan (reniassance) mendapat sokongan dari penemuan mesin cetak sekitar tahun 1440 oleh Johannes Gutenberg di kota Mainz, Jerman. Gutenberg menciptakan sebuah metode pengecoran potongan-potongan huruf di atas campuran logam yang terbuat dari timah. Potongan-potongan ini dapat ditekankan ke atas halaman berteks untuk percetakan. Dengan metode ini pencetakan buku dianggap lebih canggih dan membuat ongkos percetakan lebih murah dari teknologi percetakan yang sudah digunakan sebelumnya di Timur Tengah dan negeri Tiongkok.

Penemuan Gutenberg dianggap sama pentingnya dengan penemuan huruf ribuan tahun silam dan internet pada tahun 1980-an. Gutenberg menjadikan produksi buku lebih mudah dan murah. Bayangkan saja, pada tahun 1424, perpustakaan Universitas Cambridge hanya memiliki 122 buku yang masing-masing memiliki nilai setara dengan sebuah pertanian atau kebun anggur. Betapa mahalnya ongkos produksi mencetak sebuah buku pada masa itu. Namun, penemuan mesin cetak Gutenberg merubah situasi ini. Mesin cetak mampu memproduksi buku secara masal dan murah sehingga meningkatkan tingkat melek huruf di atara orang-orang kelas menengah dan mahasiswa di Eropa Barat.

Penemuan mesin cetak menyebabkan ledakan informasi yang cukup signifikan di antara komunitas Eropa Barat. Hal ini menciptakan kultur ilmiah yang kuat di antara mereka. Maka, dengan semakin mudahnya masyarakat membeli buku, perkembangan ilmu pengetahuan bergerak semakin cepat sehingga melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar. Hal ini membantu memudahkan terciptanya Peradaban Barat yang maju sampai saat ini.

Buku secara nyata memiliki peran sangat penting dalam membangun dan merawat peradaban. Buku menjadi penghantar efektif penyebaran ilmu pengetahuan di kalangan masyarakat. Dengan buku juga, tingkat literasi dan intelektualitas masyarakat menjadi meningkat sehingga berkontribusi positif dalam membangun peradaban yang maju. Tanpa buku, masyarakat akan tertinggal karena terkungkung oleh mitos-mitos mistis yang jauh dari kebenaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s