Urgensi Pendidikan al-Quran

muslim-teacher-3bpblogspotcom

M. Syahrul Zaky Romadhoni

Tahun 2011 lalu, LSI bekerjasama dengan Goethoe Institut dan The Friedrich Naumann Foundation for Freedom melakukan survei yang bertajuk “Tata Nilai, Impian, Cita-cita Pemuda Muslim di Asia Tenggara.” Seperti yang dikutip dari Kompas.com, survei ini bertujuan untuk mengetahui kehidupan beragama dan perilaku kaum muda Islam Indonesia. Survei ini menanyakan identitas diri, pelaksanaan ritual shalat lima waktu, puasa, baca al-Quran, dan hal-hal yang berkaitan dengan sentimen keagamaan.

Hasilnya cukup mengkhawatirkan. Jawaban untuk pertanyaan “Seberapa seringkah anda membaca al-Quran”, misalnya, menunjukan bahwa presentase golongan Muslim muda Indonesia yang selalu membaca al-Quran (10,8 persen), yang sering (27,5 persen), yang kadang-kadang (61,1 persen), dan yang tidak pernah (0,7 persen). Data ini membuktikan bahwa mayoritas dari mereka jarang membaca al-Quran.

Tahun berikutnya, Institut Ilmu al-Quran mengadakan survei kemampuan membaca al-Quran umat Islam Indonesia. Hasilnya seakan melegitimasi survei sebelumnya; sekitar 65 persen umat Islam di Indonesia tidak bisa membaca al-Quran, 35% bisa membaca al-Quran, dan 20 persen saja yang bisa membaca al-Quran dengan benar. Kondisi ini tentu kurang begitu menggembirakan bagi kita, mengingat al-Quran adalah sumber penting yang mesti kita kuasai.

Data di atas akan lebih mengkhawatirkan apabila aspek-aspek substansial pemahaman al-Quran tercantum sebagai bagian dari pertanyaan survei, misalnya seberapa jauh umat Islam di Indonesia mendalami makna al-Quran, memahami tafsirnya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Secara kasat mata kita bisa menyimpulkan hanya segelintir orang saja yang terbiasa melakukannya.

Sekali lagi, kondisi ini akan sangat merugikan kita. Syekh Salah bin Mohamed bin Thalib, Imam Masjid Haramain, dalam sebuah kesempatan mengatakan bahwa jauh dari al-Quran menyebabkan perpecahan umat Islam dewasa ini. Al-Quran mewajibkan kita untuk selalu berpegang teguh pada tali agama Allah, akan tetapi kini perpecahan menyelimuti setiap faksi dalam agama kita. Kalau saja kita mendengarkan seruan ini, insya Allah perseteruan tidak akan terjadi, seberapa pun besarnya perbedaan pemahaman keagamaan. Dengan begitu, kita akan semakin mudah meraih kejayaan Islam wal muslimin.

Jauh dari al-Quran memungkinkan terjadi berbagai bencana. Seperti yang dikutip dari Republika.co.id, ada beberapa bencana yang mungkin terjadi ketika kita jauh dari al-Quran. Yang pertama adalah bencana moral. Orang yang jauh dari al-Quran tidak akan mengindahkan aturan moral yang termaktub di dalamnya. Maka, setiap orang akan berbuat sesuatu dengan mengikuti hawa nafsunya. Kedua, bencana fisik. Kisah-kisah dalam al-Quran menunjukan bagaimana Allah membinasakan kaum-kaum yang menentang aturan-aturan-Nya yang tertulis dalam kitab suci-Nya.

Ketiga, bencana ekonomi. Al-Quran menyiratkan bahwa sikap jauh dari kitab suci akan menyebabkan kesempitan ekonomi, ma’isyatan danka. Keempat, bencana sosial. Masyarakat yang jauh dari al-Quran akan mengalami kohesi sosial yang rapuh sehingga rentan konflik. Kelima, bencana iman. Iman akan pasti terkikis apabila kita meninggalkan panduan-panduan Allah yang termaktub dalam al-Quran.

Jika kita renungkan, hipotesis ini nampaknya nyata terjadi di sekitar kita. Dewasa ini, kita mengalami bencana multi-dimensional yang mungkin diakibatkan jauh dari ajaran al-Quran. Kita tak pernah melihat suatu keadaan di mana umat Islam sangat rusak secara moral seperti sekarang ini. Praktek sex bebas, penyalahgunaan narkoba, tawuran antar pelajar, dan korupsi yang menjangkit para pemimpin. Belum lagi bencana alam dan non-alam yang tak hentinya-hentinya menyelimuti; bencana banjir, tsunami, pesawat terbang jatuh, gunung meletus, longsor dan bencana-bencama lainnya.

Kesulitan ekonomi nampak nyata di depan kita; rupiah melemah menyebabkan komoditi impor naik membumbung yang mengakibatkan harga bahan-bahan pokok meroket. Tarif listrik, telepon, dan air minum juga ikutan naik. Tentunya, masyarakat bawah yang sangat menderita dari kondisi seperti ini.

Kesulitan-kesulitan tersebut pada akhirnya menyebabkan krisis sosial dan iman di kalangan umat. Saat ini, tidak sedikit orang yang mengorbankan iman mereka hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Masyarakat tidak sungkan lagi untuk meninggalkan shalat, shaum dan kewajiban-kewajiban keagamaan lainnya karena faktor ekonomi. Walhasil, krisis multi-dimensional ini seakan membuktikan hipotesis di atas.

Untuk itulah para ulama berpendapat bahwa jalan keluar dari krisis ini adalah kembali pada al-Quran. Syekh Sakib Arsalan dalam bukunya Limadza Taakhara menyimpulkan bahwa penyebab dari lemahnya umat adalah karena mereka tidak mau memahami al-Quran dan menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Dia pun membandingkan bagaimana orang Barat mempraktekan “nilai-nilai al-Quran” yang universal dalam keseharian mereka.

Begitupun dengan cendikiawan Muslim Fazlur-Rahman yang menyuarakan al-Quran sebagai solusi permasalahan umat. Menurut beliau, hanya dengan mendekati al-Quran dengan metodologinya yang benar, umat Islam akan keluar dari lubang jarum ini. Baginya, ayat-ayat al-Quran memuat berbagai macam solusi atas berbagai masalah musykil yang mendera umat seperti kejumudan berpikir, kebodohan, keterbelakangan dan kemiskinan.

Ali Syariati, sosiolog Iran kenamaan, menyodorkan konsep sosiologi Islam yang mengakomodir nilai-nilai al-Quran dalam konsepnya. Dia yakin, umat akan maju apabila al-Quran mereka jadikan pedoman, dan para cendikiawan ikut turun tangan dalam menyelesaikan permasalahan umat di level akar rumput. Ternyata alasan ini pulalah yang menjadikan organisasi masyarakat NU & Muhamamadiyah menjadikan al-Quran sebagai sumber utama dan para cendikiawannya yang turun ke bawah. Mereka mendirikan perguruan tinggi, pesantren, rumah sakit, dan panti asuhan sebagai usaha mereka untuk mendampingi umat keluar dari keterpurukan.

Usaha Membumikan al-Quran

Berpijak dari fenomena di atas, sudah saatnya umat Islam melangkah untuk mendekatkan al-Quran kepada masyarakat. Bukan sekedar membacanya akan tetapi memahami maknanya, menyerap nilai-nilainya, melaksanakan prinsip-prinsipnya, dan menyebarkannya sebagai rahmatan lil ‘alamin. Seorang mukmin harus yakin bahwa al-Quran datang sebagai panduan dan petunjuk kepada jalan hidup yang benar.

Cita-cita ‘Membumikan al-Quran’ yang gencar disosialisasikan oleh pakar tafsir terkemuka Prof. M. Qurasish Shihab (Prof. MQS) menarik untuk kita cermati dalam konteks mendekatkan al-Quran pada khalayak ramai. Meskipun beberapa pemikirannya sering memantik kontroversi umat, namun usaha ini patut kita apresiasi. Program yang bermula dari penerbitan buku Membumikan al-Quran 1 & 2” ini, memiliki cita-cita mulia untuk menyebarkan pesan-pesan universal al-Quran kepada masyarakat Indonesia yang majemuk.

Untuk merealisasikan cita-citanya Prof. MQS mendirikan Pusat Studi Quran yang bertujuan mengkaji dan mengembangkan studi al-Quran sehingga pesan-pesannya akan mudah menjangkau masyarakat, baik mereka yang berkutat dalam studi Quran, maupun yang awam. Usaha-usaha ini terkejawantahkan dalam berbagai program seperti halaqah tafsir untuk masyarakat umum, Training of Trainer untuk penguatan penyuluh agama, Pendidikan Kader Mufassir untuk mahasiswa studi Quran S2 dan S3, Pesantren Bayt Quran untuk santri pasca tahfidz, Living Quran untuk generasi muda dari SD sampai SMA, dan penerbitan.

Dengan berbagai kegiatannya, MQS berharap nilai-nilai al-Quran menginspirasi masyarakat, bahkan bagi mereka yang Muslim, sehingga al-Quran bisa menjalankan perannya sebagai hudan linnas.

Memulai dari Keluarga

Cita-cita menginspirasi masyarakat dengan nilai-nilai al-Quran dapat kita mulai dari institusi keluarga. Syaratnya, semua komponen keluarga dari orang tua sampai anak-anak harus berkomitmen dalam mengeksplorasi al-Quran sehingga mengakar kuat dalam kepribadian mereka.

Ini bukanlah hal musykil, apalagi mustahil. Lihat saja kisah segelintir keluarga yang ternarasikan dalam bingkai satu keluarga satu penghapal al-Quran. Ceritanya menghiasi salah satu kolom dalam sebuah majalah wanita Muslimah ibu kota ternama. Di sana kita bisa melihat pernak-pernik keluarga-keluarga yang dengan tekad kuat berkomitmen menggali khazanah al-Quran yang terpendam dalam baris-baris ayatnya. Orang tua dan anak-anak mereka bersinergi untuk meraih kemuliaan dengan menghapal, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai al-Quran.

Tentu saja komitmen ini membutuhkan perjuangan. Drs. H. Dede Khoerudin, M.Pd.I., Pimpinan Pesantren Tahfidzul Qur’an Nurul Iman Indihiang menegaskan bahwa keluarga penghapal setidaknya harus berkomitmen dengan syarat; pemberian keteladanan, pembentukan lingkungan dan pembiasaan. Jika tidak, cita-cita ini hanya akan berkarat dalam bingkai mimpi.

Keteladanan adalah syarat pertama dari proses transformasi menuju keluarga Qurani, di mana figur orang tua berada dalam garda terdepannya. Orang tua harus menjadi inisiator dalam setiap kegiatan. Alih-alih menyuruh anak untuk menghapal al-Quran, hendaknya orang tua mencontohkannya terlebih dahulu. Dengan begitu, anak-anak akan, Insya Allah, serta merta mengikuti jejak orang tua mereka. Maka, tepatlah pepatah bahasa Arab yang berbunyi, “Lisaanul hal afsohu min lisaanil qaul.” Perbuatan lebih efektif dari sekedar perkataan.

Pepatah inilah yang menginspirasi Drs. H. Dede Khoerudin, M.Pd.I, dalam menghadirkan al-Quran di keluarganya dan pesantrennya. Sebelum menyuruh anak-anaknya menghapal al-Quran, beliau telah berusaha keras melakukannya. Dengan izin Allah, beliau memiliki hapalan al-Quran 30 juz. Dengan modal ini dan izin Allah, beliau tidak menemui kesulitan dalam mengajak anak-anak dan santri-santri beliau dalam menghapal al-Quran.

Keteladanan saja tidak cukup. Perlu dukungan lingkungan yang tepat untuk merealisasikan cita-cita mulia ini. Kyai Dede memiliki trik khusus untuk syarat ini, yaitu beliau sering menyetel lantunan ayat suci al-Quran dari qari ternama setiap harinya. Hal ini ternyata mampu menstimulus anak untuk rela meluangkan waktunya untuk mempelajari al-Quran.

Selain itu, melibatkan anak dalam even-even pengkajian al-Quran juga efektif dalam menumbuhkan rasa cinta terhadap al-Quran. Karena sering mengikuti pengajian ayahnya, anak-anak Kyai Dede menjadi terbiasa dan secara alami tumbuh kecintaan terhadap kitab suci yang Allah turunkan sebagai Mukjizat Nabi Muhammad saw ini.

Walakhir, istiqamah menjalankan program-program pengkajian al-Quran menjadi kunci sukses terbentuknya generasi Qurani. Kita membutuhkan konsistensi yang kokoh dalam menjalani perjalanan panjang keluarga penghapal al-Quran. Kesulitan pasti ada, akan tetapi apabila kita terbiasa menghadapinya, maka kita akan anggap itu adalah duri kecil dalam perjalan panjang kita demi mewujudkan keluarga Qurani. Semoga Allah swt memberikan jalan bagi kita menjadi keluarga pecinta al-Quran yang menjalankan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Amin. (Sumber: Laporan Utama Majalah Condong Edisi 7)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s