Landasan Teoretis “Deschooling” dan Beberapa Penerapannya (1)

sumber: https://redefineschool.wordpress.com
sumber: https://redefineschool.wordpress.com

Moh. Syahrul Zaky Romadhoni

A. Latar Belakang
Masa 1970-an ditandai dengan lahirnya aliran filsafat posmodernisme (selanjutnya disingkat posmo) yang awalnya berkembang di dunia arsitektur. Aliran ini masuk ke dalam dunia pemikiran filsafat dan langsung mencancap pengaruhnya ke disiplin-disiplin ilmu yang bergantung pada perkembangan pemikiran filsafat seperti pendidikan, ekonomi, kebudayaan, dan lain sebagainya. Pemikiran posmo memiliki karakteristik mengakomodir keunikan-keunikan dari berbagai aliran pemikiran dengan merelatifkan kebenaran. Apa yang benar di suatu tempat, belum tentu benar di tempat lainnya.

Aliran filsafat posmo ini, tak dapat kita pungkiri, mempengaruhi wacana deschooling society yang pertama kali digulirkan oleh Ivan Illich bersama rekan-rekannya di CIDOC (Center for Intercultural Documentation) sekitar tahun 1970. Pada saat itu, CIDOC melaksanakan serangkaian seminar di Brazil yang dimaksudkan untuk menyerang wacana alliances for progress yang digulirkan oleh Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy yang terlihat kentara membuat ilmu pengetahuan menjadi sebuah komoditas. Pada awalnya, wacana ini lahir dari sebuah essay protes Ivan Illich dan rekan-rekan yang menentang proses pendidikan berbasis sistem persekolahan yang mengebiri kebebasan dan kreativitas siswa. Kemudian dibukukan atas prakarsa Cass Canfield, Sr., Presiden Penerbit Harper. Seketika wacana ini menyebar ke seluruh dunia sebagai alternatif dari sistem pendidikan yang sudah mapan sekarang.

Sebelum mengupas wacana ini, alangkah lebih baiknya kalau kita bahas konteks waktu, di mana wacana ini pertama kali bergulir. Saat itu, Amerika Latin sedang membangun sistem persekolahan (schooling system) besar-besaran untuk mendongkrak SDM dan ekonomi negara. Namun kenyataanya, keadaan itu justru menimbulkan implikasi buruk seperti timbulnya benih-benih korupsi dalam setiap lembaga pendidikan yang dibangun, dan semakin melebarnya jarak antara si kaya yang memiliki kapital untuk menyekolahkan anak-anaknya, dan si miskin, yang tidak memiliki akses pada pendidikan. Bahkan, bagi kaum miskin yang memiliki akses pun mendapatkan pendidikan yang berkualitas lebih rendah.
Sistem pendidikan yang berjalan menggunakan konsep bank (banking concept of education), yaitu anak-anak menabung pengetahuan secara bertahap dan bertahun-tahun, yang akan tumbuh berlipat-lipat di masa yang akan datang. Tentunya, mereka mendapatkannya dari guru yang terus menerus mencekoki muridnya dengan berbagai macam informasi dan pengetahuan.

Ivan Illich dan rekan-rekannya di CIDOC seperti Paulo Freire dan Everett Reimer mengkritik sistem pendidikan persekolahan tersebut. Menurut Illich, sistem persekolahan membungkus ilmu pengetahuan menjadi sebuah komoditas yang mana tidak setiap rakyat mampu untuk mengaksesnya. Akibatnya, sekolah-sekolah dibanderol mahal dan ilmu pengetahuan menjadi barang mewah yang tidak dapat diakses oleh orang-orang yang tidak memiliki modal besar. Keadaan ini akan menyebabkan semakin lebarnya jurang antara si kaya dan si miskin.
Selain itu, guru-guru di sekolah berperan sebagai orang yang memiliki segalanya dan berhak untuk mencekoki anak materi-materi pembelajaran yang mereka anggap penting, tanpa harus tahu anak memerlukannya atau tidak. Proses pengajaran seperti ini akhirnya merusak daya kreativitas dan kebebasan berpikir para siswa. Inilah yang menjadi fokus kritik dari Ivan Illich dan kawan-kawan.

Untuk itu, Ivan Illich mencoba merumuskan sistem pembelajaran yang menurutnya ideal. Menurutnya, pendidikan harus merawat kebebasan berpikir setiap siswa. Siswa harus mengembangkan sikap berpikir bebas dalam memilih dan mencerna ilmu pengetahuan. Selama, sistem pendidikan mendesain standar-standar yang harus diraih oleh setiap siswa setelah menempuh sekian tahun pendidikan di sekolah. Alih-alih mencerdaskan, hal ini justru seringkali mematikan kebebasan berpikir dan kreativitas siswa.

Selain itu, pendidikan juga harus memberikan ruang bagi masukan-masukan umum tentang pendidikan dari setiap orang. Setiap orang berhak untuk mendapatkan dan memberikan pengetahuan kepada orang lain tanpa harus tersekat oleh ruang kelas dalam lembaga pendidikan sekolah. Kurikulum dan desain pembelajaran bersama-sama dibuat dan dikembangkan oleh komunitas terbuka sehingga menciptakan suatu atmosfir belajar yang demokratis serta ramah terhadap keunikan setiap individu.

Tujuan pendidikan yang ideal juga mensyaratkan terbukanya akses secara luas bagi setiap warga negara untuk mendapatkan fasilitas pendidikan dan sumber-sumber belajar. Tentunya, hal ini akan mustahil terjadi kalau pemerintah tetap mempertahankan sistem pendidikan yang berbasis sekolah.

Setelah menentukan tujuan pendidikan yang ideal, Ivan Illich mengusulkan perubahan paradigma mendasar dalam sistem pendidikan dengan menghancurkan sekolah-sekolah yang sudah established dan menggantinya dengan prinsip-prinsip pendidikan yang ramah bagi setiap orang tanpa memandang kelas dan umur. Salah satu prinsip pendidikan yang radikal yang disodorkan olehnya adalah perlunya menghapus kontrol lembaga pendidikan yang mendegradasi kebebasan berkreativitas dan berpikir serta melakukan diskriminasi dalam sistem persekolahan. Selama ini, sekolah dianggap menjadi biang kerok pemasungan kebebasan yang merupakan hak prinsipil dari setiap insan.
Dalam sistem pendidikan yang baru, anak-anak harus mendapatkan kebebasan dalam berpikir, berkreativitas serta memilih siapa-siapa yang akan menjadi guru mereka. Perlu dicatat bahwa guru di sini bukanlah orang yang memiliki kedudukan lebih superior akan tetapi lebih sebagai partner belajar yang bersama-sama mengembangkan sistem pendidikan terbuka. Ketika hal ini terwujud, maka sistem pendidikan yang terbangun akan menjamin kebebasan setiap individu untuk bebas mengajar dan mempraktekan ilmu yang telah mereka dapatkan dari sistem pendidikan seperti ini.

Selanjutnya, sistem pendidikan juga harus mengakomodir demokratisasi dalam pendidikan. Maksud dari demokratisasi ini bukan saja bermakna bebas dalam menentukan gaya belajar, akan tetapi juga mencakup kebebasan dalam menentukan dan mengembangkan kurikulum. Pemerintah tidak berhak untuk mendikte apa saja yang mesti dipelajari oleh rakyatnya, akan tetapi harus membiarkan masyarakat belajar untuk menentukan dan mengembangkan apa yang kira-kira baik bagi mereka dan mereka butuhkan.

Sistem pendidikan yang telah dipaparkan di atas akan menghancurkan apa yang Illich sebut sebagai hidden curriculum yang selama ini mempertahankan status quo dari lembaga pendidikan konvensional. Maksud dari hidden curriculum adalah sebuah anggapan bahwa dalam kehidupan ini ada rahasia-rahasia yang harus dimiliki oleh setiap orang, jika mereka menginginkan sukses dalam kehidupannya. Celakanya, ada sebuah setingan bahwa rahasia tersebut hanya dapat ditemukan dalam setiap tahapan yang ada di lembaga sekolah. Anak-anak akan menemukan rahasia tersebut apabila mereka pergi ke sekolah dan mendapatkannya secara bertahap dan bertahun-tahun dari guru-guru mereka. Secara tidak langsung, anggapan ini membentuk sebuah asumsi bahwa hanya mereka yang mengikuti sistem persekolahan yang akan sukses dalam menjalani kehidupan.

B. Solusi dan Penerapannya
Selanjutnya, Ivan Illich mengembangkan solusi sebagai pengganti dari sistem persekolahan. Pertama, Illich menganggas apa yang namanya pendidikan universal yang mana dibangun atas fondasi sistem persekolahan yang ada. Hal ini tidak dilaksanakan dengan memperbaiki sistem persekolahan yang sudah established, akan tetapi menghancurkannya terlebih dahulu, setelah itu barulah membangun sistem pendidikan universal dengan fondasi sistem persekolahan tersebut.

Kedua, Ivan Illich mengusulkan untuk mengembangkan jaringan-jaringan kesempatan (opportunity webs) yang akan mengakomodir setiap orang untuk mendapatkan ilmu, mengembangkannya dan membagikannya. Jaringan ini, yang dia sebut juga sebagai jaringan-jaringan pembelajaran (learning webs) akan menjadikan setiap momen untuk berbagi dan mendapatkan ilmu. Jaringan ini dapat dilakukan dengan mengembangkan teknologi informasi yang memungkinkan setiap orang untuk mengikutinya, tanpa harus pergi ke sekolah.

Contoh nyata dari penerapan learning webs adalah apa yang berjalan di komunitas belajar Qoryah Thayyibah Salatiga, Jawa Timur. Di kampung ini setiap individu berhak untuk mendapatkan akses belajar melalui fasilitas-fasilitas pendidikan yang tersedia seperti jaringan internet, pesawahan, alat-alat kesenian, olahraga dan lain sebagainya. Mereka mempelajari materi yang didesain bersama-sama antara pemangku desa, para pakar, orang tua, guru dan anak didik. Mereka juga bebas belajar pada siapa saja yang memiliki kompetensi dalam bidangnya masing-masing.
Selain itu berkembang pula pola pendidikan homeschooling yang muncul sebagai anti-tesis dari sistem persekolahan. Homeschooling adalah proses pembelajaran yang dimulai di rumah dan menggunakan sumber daya yang ada di sekitar rumah sebagai sumber belajar. Pada prakteknya, homeschooling di Indonesia terbagi menjadi tiga tipe, yaitu:

  1. Homeschooling tunggal adalah homeschooling yang dilaksanakan oleh orang tua dalam suatu keluarga tanpa bergabung dengan lainnya. Dalam hal ini orang tua terjun langsung sebagai guru menangani proses belajar anaknya, jika pun ada guru yang didatangkan secara privat hanya akan membimbing dan mengarahkan minat anak dalam mata pelajaran yang disukainya. Guru tersebut bisa berasal dari lembaga-lembaga yang khusus menyelengarakan program homeschooling, contonya adalah lembaga Asah Pena asuhan Kak Seto dan Komunitas Homeschooling Berkemas. Lembaga ini mempunyai tim yang namanya Badan Tutorial yang terdiri dari lulusan berbagai jenis profesi pendidikan.
  2. Homeschooling majemuk adalah homeschooling yang dilaksanakan oleh dua atau lebih keluarga untuk kegiatan tertentu sementara kegiatan pokok tetap dilaksanakan oleh orang tua masing-masing, contohnya adalah Rumah Inspirasi.

  3. Sementara homeschooling komunitas adalah gabungan beberapa homeschooling majemuk yang menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok (olah raga, seni dan bahasa), sarana/prasarana dan jadwal pembelelajaran. Dalam hal ini beberapa keluarga memberikan kepercayaan kepada Badan Tutorial untuk memberi materi pelajaran. Badan tutorial melakukan kunjungannya ke tempat yang disediakan komunitas, contoh dari homeschooling ini adalah; Morning Star Academy, Primagama Homeschooling.

Referensi
Mu’ammar, Arfan M. “Gagasan Ivan Illich dalam Pendidikan.” 17 Maret 2015. http://arfanmuammar.blogspot.com/…/gagasan-ivan-illich-dala…
Tirtayasa. “Berguru Pada Ivan Illich.” 17 Maret 2015. http://www.radarkepri.com/berguru-kepada-ivan-illich/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s