Memuliakan Peran Ibu

httpmuslimahzone.com

M. Syahrul Zaky Romadhoni
@syahruzzaky

Februari 2009 silam, warga Inggris heboh setelah mendengar kabar seorang bocah berumur 13 tahun yang menjadi ayah termuda di negeri itu. Bocah ingusan tersebut menghamili pacar perempuannya yang berumur 15 tahun. Kejadian ini bermula ketika sang bocah berhubungan intim dengan pacarnya setelah pesta minuman keras. Walhasil, sang pacar hamil dan melahirkan anak laki-laki yang diklaim sebagai hasil dari hubungan ilegal ini. Meskipun, pada akhirnya beberapa bulan kemudian tes DNA menunjukan bahwa anak tersebut ternyata berasal dari hubungan dengan laki-laki lain yang berbeda.

Kejadian seperti ini – yang kita anggap bejat secara moral dalam perspektif agama dan etika ketimuran — nampaknya sudah menjadi hal yang lumrah di dunia Barat. Pasalnya, fenomena ini sudah menjadi tren di kalangan masyarakat Barat. Ini terbukti dengan merajalelanya artis dan pesepakbola pesohor di sana yang memilih untuk melakukan praktek kumpul kebo dengan pasangannya. Pada titik ini perzinahan menjadi gaya hidup, dan bukan lagi hal yang tabu. Na’udzubillah.

Berbagai fenomena relasi antara laki-laki dan perempuan di luar nikah yang terjadi di dunia Barat, menunjukan kehancuran lembaga keluarga. Hal ini berimbas pada hilangnya tugas-tugas tradisional keluarga seperti pembagian tugas kepala keluarga, pendidikan anak, dan lain sebagainya. Ini pulalah yang ternyata memicu hilangnya peran seorang ibu dalam keluarga, yang berimbas pula pada hilangnya norma dan nilai tradisional dalam kehidupan masyarakat Barat modern. Paus Benedictus XIV sempat mengeluh, “Periode sebelumnya, keluarga-keluarga masih bersama dengan anak-anak mereka dan kemudian berpegangan tangan untuk melanjutkan masa depan peradaban dan saat ini masyarakat Eropa tampaknya sudah tidak berminat lagi untuk memiliki keturunan dan kita mesti merebut kembali sejarah yang hilang itu.”

Maka wajar apabila kita melihat berbagai macam penyakit-penyakit sosial akut lahir di sana sebagai akibat dari hilangnya peran lembaga keluarga dalam kehidupan sosial masyarakat.

Di saat semakin gencarnya penetrasi dunia Barat modern terhadap institusi keluarga, peringatan hari Ibu yang selalu kita rayakan setiap tanggal 22 Desember sangat relevan menjadi bahan perbincangan dalam rangka penguatan kembali peran ibu dalam membangun bangsa melalui jalur keluarga Apalagi, apabila merujuk pada fakta sejarah, Ir. Soekarno menjadikan tanggal ini sebagai hari ibu dengan maksud mendorong setiap perempuan Indonesia untuk ikut serta berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Untuk itu, kesadaran setiap perempuan akan hal ini menjadi titik tombak bagi lahirnya generasi bangsa yang kuat dan siap dalam melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa.

Beberapa Tantangan

Dewasa ini, usaha untuk mereduksi peran ibu dalam keluarga datang dari berbagai pihak, terutama berasal dari nilai dan filsafat yang berkembang di dunia Barat. Pemikiran mainstream saat ini mendorong setiap perempuan untuk meninggalkan lembaga keluarga dan berkiprah di luar dengan dalih kesetaraan gender (gender equality). Bahkan, gerakan ini telah menjadi agenda global yang mana United Nations Depelopment Programme (UNDP), salah satu lembaga di lingkungan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), menjadikannya sebagai salah satu indikator dalam Millenium Development Goals (MDGs).

UNDP yang fokus pada isu-isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan menggulirkan konsep kesetaraan gender “fifty-fifty” di mana mengharuskan setiap negara melakukan affirmative action dengan memberikan hak yang seluas-luasnya terhadap perempuan untuk berkiprah di dunia publik. Menurut Khalil Hasibi, MA, peneliti gender dari The Center for Gender Studies, usaha ini dimulai dengan mengharuskan setiap negara untuk memenuhi tuntunan kuota 30% perempuan di lembaga-lembaga pemerintahan seperti parlemen, kementrian, dan lain sebagainya.

Di sisi lain, muncul gerakan pemikiran yang aktif mempromosikan kampanye ini yaitu feminisme, sebuah paham yang mencoba melawan penindasan pada perempuan oleh tirani laki-laki. Gerakan ini tumbuh berkembang di dunia Barat, dan berdiaspora ke negara-negara berkembang melalui pusat-pusat kajian perempuan. Paham ini lahir dan berkembang menjadi sebuah gerakan masif karena perempuan di dunia Barat mengalami sejarah kelam dalam bentuk “penindasan” dan “eksploitasi” yang disebabkan oleh kebijakan-kebijakan yang bias gender dan merugikan kiprah mereka.

Mengutip pendapat Dr. Dinar Dewi Kania, aktivis Muslimah CGS Jakarta, perempuan dalam sejarah dunia Barat mengalami penindasan yang cukup berkepanjangan. Pada abad ke-16 Masehi, misalnya, masyarakat Eropa menganggap bahwa perempuan adalah sumber dosa dan makhluk kelas dua di dunia. Mereka memandang perempuan sebagai makhluk inferior dan memiliki kadar intelektual yang sangat rendah. Bahkan, seorang profesor di Universitas Wittenberg melakukan perdebatan serius mengenai apakah perempuan itu manusia atau bukan. Thomas Aquinas sendiri, seorang filosof Kristen terpandang, mengatakan bahwa perempuan adalah laki-laki yang cacat atau memiliki kekurangan. Maka wajar, karena beban sejarah tersebut, kaum feminis dalam masyarakat Barat modern meminta perubahan radikal atas apa yang mereka alami di masa silam.

Menurut Dr. Akhyar Yusuf, dosen filsafat Universitas Indonesia yang mengutip pendapat Sylvia Walby, mengatakan bahwa secara umum pemikiran feminis terbagi menjadi empat; Radikal, Marxis, Liberal dan Teori Sistem Ganda (dual-system theory). Meskipun aliran pemikiran ini berbeda, tapi secara asumsi memiliki dasar yang sama; yaitu memerdekakan perempuan dan menjadikannya equal dengan kaum laki-laki. Sekilas gerakan ini sangat ‘mulia’, namun apabila kita telisik lebih jauh memiliki implikasi yang sangat negatif terhadap tatanan sosial masyarakat yang telah ada. Kita ambil contoh salah satunya adalah feminisme radikal.

Feminisme radikal menganggap bahwa konstruksi sosial patriarkis menjadi biang keladi penindasan terhadap perempuan selama berabad-abad. Untuk itu, supaya perempuan terbebas dari penindasan ini, maka struktur masyarakat patriarkis harus berubah. Caranya adalah dengan melakukan sebuah revolusi biologis dimana perempuan harus menolak menjadi obyek penindasan biologis melalui tradisi-tradisi yang sudah mapan seperti pernikahan, keharusan untuk hamil, mendidik anak, dan tugas-tugas domestik lainnya. Maka jangan heran apabila anda melihat para pengusung gerakan ini menolak untuk menikah; kalaupun menikah pun banyak berujung pada perceraian. Yang lebih parah, banyak perempuan yang membekukan sel telur mereka, sehingga tidak memungkinkan mereka untuk bisa melahirkan.

Cara berpikir seperti ini tentunya sangat membahayakan baik bagi kelangsungan manusia maupun norma-norma agama. Apabila perempuan menolak hamil, hal itu bukan saja melawan kodrat alami mereka sebagai perempuan, tapi juga mengancam kelangsungan hidup manusia. Tidak heran dunia Barat saat ini mengalami krisis demografi yang cukup akut, dimana – sebagai imbas dari rendahnya angka kelahiran — terjadi penumpukan kaum tua dan semakin jarangnya kaum muda usia produktif. Tentunya, hal ini akan berakibat fatal bagi kelangsungan suatu bangsa.

Pemikiran seperti ini juga berbenturan langsung dengan nilai-nilai keagamaan tradisional yang sangat memuliakan institusi keluarga dan pernikahan sebagai pintu gerbangnya. Dalam Islam misalnya, pernikahan sangat penting untuk melindungi keturunan dan pelestarian nilai-nilai keagamaan dalam ranah terkecil. Untuk itu, gerakan feminisme “fifty-fifty” ini sangat kontra-produktif bahkan mengancam tatanan masyarakat dan nilai-nilai keagamaan tradisional.

Bahkan, Dr. Ratna Megawangi, staf pengajar Institut Pertanian Bogor, secara khusus mengulas konsep kesataraan gender fifty-fifty ini dalam bukunya “Membiarkan Berbeda?” Menurut beliau, arus pemikiran mainstream ini memiliki beberapa cacat yang cukup serius. Di antaranya adalah kegagalan paham ini dalam mengakui keragaman wanita dan laki-laki baik secara biologis maupun psikologis yang nyata merupakan produk ilmiah empiris.

Secara biologis, laki-laki dan perempuan memiliki hormon yang berbeda sehingga memengaruhi sifat dan tingkah laku mereka. Begitupun dalam beberapa penelitian dalam bidang psikologi menunjukan bahwa seorang ibu memiliki sifat-sifat yang relevan dengan pekerjaan-pekerjaan domestik terutama yang berkaitan dengan pendidikan bagi anak-anak mereka.

Lebih jauh, istri Menko Perekonomian Kabinet Kerja ini, memaparkan bahwa agenda global ini gagal dalam melihat bahwa kemampuan dasar manusia terbagi dua; yaitu kemampuan universal dan spesifik. Memang, seiring dengan semakin terbukanya akses pendidikan bagi perempuan, saat ini perempuan memiliki kemampuan dasar yang hampir sama dengan laki-laki seperti dalam kecerdasan, daya nalar, keterampilan dan lain sebagainya. Akan tetapi, dalam kemampuan spesifik, karena adanya keragaman biologis, membuat mereka berbeda. Perempuan dengan sifat khas feminimnya, berpengaruh pada proses pemilihan wantita untuk terjun dalam kegiatan publik. Hal ini bisa dilihat dari penelitian empiris di Amerika Serikat yang mengungkap bahwa mayoritas perempuan memilih profesi pekerjaan tertentu seperti guru SD, sekretaris, babysitter dan pekerjaan-pekerjaan paro waktu yang tidak menyita energi.

Sementara di sisi lain, agenda Human Development Index yang digagas UNDP dengan memasukan gender equality di dalamnya tidak terbukti secara empiris memiliki korelasi positif terhadap kemajuan suatu bangsa secara ekonomi. Semenjak 40 tahun program ini berjalan, tujuan dari kesetaraan gender fifty-fifty di ruang publik masih jauh yang diharapkan. Dr. Ratna Megawangi mencontohkan bahwa di Jepang yang mana tingkat partisipasi perempuannya di dunia publik lebih rendah dari Indonesia, justru tingkat perkembangan perekonomian di sana lebih tinggi daripada di Indonesia.

Sebenarnya Islam tidak melarang perempuan untuk berkiprah di luar rumah. Dr. Yusuf Qardhawi, Ketua Persatuan Ulama Dunia, mengatakan bahwa pada dasarnya perempuan boleh (jaiz) bekerja di luar rumah, tentunya dengan memenuhi syarat-syarat tertentu. Di antaranya adalah pekerjaan itu harus syar’i. Artinya, pekerjaan itu tidak haram atau bisa mendatangkan sesuatu yang haram, seperti wanita yang bekerja sebagai sekretaris khusus bagi seorang direktur yang karena alasan kegiatan mereka sering berkhalwat. Selain itu, dalam bekerja di luar rumah, seorang wanita harus memenuhi adabnya dalam berpakaian, berjalan, berbicara dan melakukan gerak-gerik. Jangan sampai tingkah lakunya di luar rumah menimbulkan hal-hal yang justru merugikan mereka. Terakhir, seyogyanya pekerjaan di luar rumah tidak mengabaikan kewajiban-kewajiban lain yang tidak boleh diabaikan seperti mengurus suami, anak dan lain sebagainya.

Memuliakan Peran Ibu

Islam memandang profesi ibu sebagai pekerjaan mulia dan memberikan posisi yang istimewa di sisi Allah. Seorang ahli hikmah mengatakan bahwa seorang ibu adalah tiangnya negara. Apabila kaum perempuan itu baik, maka baiklah negara itu. Sebaliknya apabila kaum wanita rusak, maka rusaklah negara.

Perkataan ahli hikmah ini—yang sebagian umat Islam menganggapnya hadits Rasul saw — mengindikasikan bahwa ibu memainkan peran yang sangat penting dalam membangun sebuah negara. Tentunya, hal ini bukan hanya retorika, akan tetapi sudah terbukti secara empiris. Bahkan, di dunia Barat, untuk melawan hegomini pemikiran feminis muncul gerakan-gerakan yang mendorong para wanita untuk kembali melihat positif profesi ibu bagi anak-anak mereka.

Maka wajar apabila Hafidzh Ibrahim, penyair Arab kenamaan, menulis, “wanita ibarat sekolah, jika kalian mendidiknya dengan baik berarti kalian sedang mempersiapkan sebuah bangsa dengan baik.”

Lalu apa yang harus ibu perankan dalam sebuah keluarga? Dr. Sofia Retnowati Noor, psikolog dari Universitas Gadjah Mada, memaparkan bahwa sedikitnya ada tiga peran utama yang mana seorang ibu dapat memainkannya. Pertama, sebagai pemenuh kebutuhan anak, baik secara psikologis, psikis maupun psikomotorik. Kedua, sebagai teladan atau model bagi anaknya. Terakhir, sebagai pemberi stimuli bagi perkembangan anak.

Lebih lanjut, guru besar psikologi klinis UGM ini memaparkan bahwa peran ibu sebagai sumber pemenuhan kebutuhan anak berarti bahwa seorang ibu harus menyediakan waktu bukan saja untuk selalu bersama tapi juga untuk selalu berinteraksi maupun berkomunikasi secara terbuka dengan anaknya. Seorang ibu harus menjadi katalisator bagi anak untuk tumbuh kembang secara fisik, psikis, sosial dan spiritual.

Lebih jauh, dosen yang memperkarsai layanan psikologi di puskesmas ini, menyarankan ibu untuk menjadi model atau teladan bagi anaknya, karena dia adalah orang pertama yang senantiasa ditiru yang kemudian dijadikan panduan dalam perilaku anak. Seorang ibu adalah role model bagi anaknya terutama ketika masa golden age yang mana anak akan mengambil, kemudian memiliki nilai-nilai, sikap maupun perilaku dari ibu. Dari sini jelas bahwa perkembangan kepribadian anak bermulai dari apa yang mereka lihat dari sang ibu.

Terakhir, ibu harus berperan sebagai pemberi stimuli bagi perkembangan anaknya dengan memberikan rangsangan yang akan memperkaya pengalamannya dan mempunyai pengaruh yang besar bagi perkembangan kognitif anak. Wallahu A’lam.

Tentunya apabila perempuan bersedia untuk menjadi guru pertama dan utama bagi anak-anaknya, berarti mereka telah berkontribusi dalam pembangunan bangsa dengan mencetak kader-kader kuat yang akan melanjutkan estafeta perjuangan bangsa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s