Kesatuan Tubuh

kesatuan tubuh

Rasululullah SAW pernah mengumpamakan hubungan kasih sayang antar sesama Muslim sebagai kesatuan tubuh, di mana ketika salah satu organ tubuh merasakan sakit, maka anggota badan yang lain ikut merasakan demam dan panas. Hadis ini mengindikasikan bahwa seorang Muslim yang baik akan ikut merasakan duka dan berusaha untuk membantu, ketika melihat saudara seimannya menghadapi kesulitan hidup.

Nyatanya, dewasa ini, umat Islam di pelbagai belahan dunia sedang dirundung duka yang sangat mendalam akibat rezim berkuasa yang zalim. Umat Islam di Palestina, Moro, Uighur, Rohingya, Pattani dan yang lainnya mengalami penindasan yang kejam dari orang-orang yang tidak suka Islam tumbuh berkembang di sana. Ruang gerak mereka dibatasi, kebebasan beragama mereka dikebiri, bahkan sebagian dari mereka harus terusir dari tanah tempat mereka berpijak.

Sayangnya, kondisi umat Islam dalam menyikapi hal ini tak seindah seperti yang diumpamakan Rasul SAW. Respon dunia Islam terhadap keadaan ini sangat lemah— untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali. Tidak ada usaha signifikan yang dilakukan oleh dunia Islam untuk memberikan pressure kepada dunia internasional agar kezaliman yang dihadapi oleh saudara mereka segera dihentikan. Yang terjadi, setiap pemerintahan negara Muslim berpikir dan bertindak aman dengan tidak mau ikut campur dalam masalah tersebut dan mencari solusi cepat untuk mengatasinya.

Ketidakpekaan sebagian umat Islam terhadap penderitaan saudaranya apabila merujuk pada sabda Rasul SAW di atas ibarat tubuh yang terserang penyakit saraf dan menyebabkan tidak berfungsinya sebagian organ tubuh. Tubuh yang terserang penyakit ini biasanya akan mengalami kelumpuhan dan kehilangan fungsi kontrol terhadap anggota tubuh lain. Tubuh tidak akan bereaksi ketika anggota badan yang lain terkena sakit.

Dalam hemat saya penyakit saraf itu hadir dalam bentuk lumpuhnya sistem kepemimpinan kuat dan efektif di dunia Islam sehingga mereka tidak mampu bergerak untuk mengambil keputusan-keputusan strategis di kancah internasional. Dunia Islam tidak memiliki daya tawar yang kuat untuk memberikan tekanan pada rezim zalim maupun masyarakat dunia untuk segera menyelesaikan penderitaan yang dialami oleh umat Islam.

Sudah sangat lama umat ini kehilangan sosok pemimpin yang hadir untuk melindungi kepentingan umat. Semenjak kehancuran kekhalifahan Utsmani, dunia Islam tercerai berai dan asyik masyuk dengan urusan internal dalam negerinya sendiri. Organisasi Konferensi Islam pun yang berfungsi sebagai pelindung dunia Islam khususnya dalam kepentingan keamanan anggotanya tumpul; tidak memiliki pengaruhnya sama sekali dalam peta diplomasi dunia.
Untuk itulah, sudah saatnya umat Islam memikirkan kembali bagimana membangun struktur kepemimpian umat seperti yang dicontohkan oleh Rasul SAW dan para khalifah yang dapat mengadvokasi kepentingan umat di kancah internasional. Saya tidak berbicara tentang gerakan transnasional, tapi bagaimana umat di era nation state ini bisa bersatu seperti yang diisyaratkan oleh titah Rasul SAW di atas. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s