Panca Jiwa, Pilar-pilar Perjuangan dan Kesuksesan Santri

pendidikan islam

Oleh, M. Syahruzzaky Romadloni
untuk santri-santriku

Sebuah lembaga akan maju, apabila memiliki nilai-nilai dan falsafah yang senantiasa menjadi pijakan bagi setiap anggotanya dalam bertindak, bertutur, dan bersikap. Nilai dan falsafah tersebut biasanya diformulasikan oleh para pendirinya dan diwariskan kepada generasi sepeninggal mereka. Nilai dan falsafah tersebut kemudian bertransformasi menjadi ruh yang membangkitkan setiap anggotanya dalam memajukan lembaga tersebut.

Pondok Pesantren Condong sebagai lembaga pendidikan tidak terlepas dari hal tersebut. Semenjak berdirinya, terutama pasca berlakunya sistem keterpaduan, pesantren memiliki nilai dan falsafah yang mendasari setiap usaha yang dilakukan oleh para pengurusnya. Nilai dan falsafah tersebut kemudian dikenal dengan nama Panca Jiwa, yang merupakan adopsi dari nilai-nilai milik Pondok Modern Gontor dan Pilar-pilar perjuangan yang murni berasal dari pemikiran para pendiri pondok. Nilai-nilai tersebut harus senantiasa dirawat dan disebarkan karena akan menjadi warisan yang paling berharga dari para pendirinya bagi generasi penerus lembaga ini.

Lalu apakah Panca Jiwa dan Pilar-pilar Perjuangan tersebut memiliki hubungan dengan kita sebagai santri terutama kaitannya dengan kesuksesan kita dalam menjalani kehidupan? Pertanyaan tersebut akan coba saya ulas dalam tulisan sederhana ini.

Panca Jiwa adalah ruh yang membangkitkan setiap warga pondok untuk terus berjuang dan berjibaku dalam menjalankan misi mulia dakwah wa tarbiyah Islamiyah. Tanpa ruh ini, orang-orang yang ada di sini (baca: kyai, ustadz dan santri) bak robot yang biasa menjalankan rutinitas, akan tetapi nirmakna, tanpa makna. Tidak ada tujuan mulia yang hendak dicapai. Semua orang terjerembab dalam kubangan materialisme, yang selalu mendewakan kekuatan materi, dan mengebiri eksistensi ruh.

Nilai-nilai yang terkandung dalam Panca Jiwa hendaknya juga menjadi landasan bagi para santri dalam bertindak dan meniti kehidupan baik selama belajar di pesantren maupun ketika mereka telah menyelesaikan belajarnya. Jiwa ini harus selalu menjadi motivator dalam setiap gerak langkah santri. Jiwa-jiwa ini pula harus menjadi pembeda antara santri Condong dengan santri dari lembaga lainnya.

Mari kita ulas poin-poin dari Panca Jiwa tersebut satu persatu.

Jiwa yang pertama adalah keikhlasan. Setiap santri Condong harus selalu mendedikasikan pekerjaan yang dia laksanakan sebagai bentuk ibadah (penghambaan) kepada Allah swt. Mereka tidak akan melihat materi atau hal-hal lain selain Allah sebagai tujuan akhir dalam hidup. Setiap pekerjaan diniatkan ibadah dan niat ibadah selalu mewarnai pekerjaan mereka.

Mari kita melihat contoh konkrit. Hari-hari ini santri akhir sibuk dalam mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri maupun swasta. Apabila jiwa keikhlasan ini mereka fahami dan hayati, maka tujuan masuk perguruan tinggi bukanlah untuk mencari pekerjaan atau penghidupan yang layak. Akan tetapi, mereka akan meniatkan ini semua sebagai ibadah tholabul ilmi yang memang disyariatkan oleh Allah. Kalau toh mereka mendapatkan pekerjaan yang layak setelah lulus kuliah, itu adalah bonus yang Allah anugerahkan pada mereka.

Jiwa yang kedua adalah kesederhanaan. Kesederhanaan bukan berarti miskin, akan tetapi bertindak sesuai dengan kemampuan, bahkan kalau bisa di bawah kemampuan yang dimiliki, dan merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Dewasa ini kita disuguhi oleh fenomena korupsi yang menjangkit para pejabat di negeri ini. Tak tanggung-tanggung, ratusan milyar mereka curi dari kas negara. Untuk apa uang sebesar itu? Ternyata mereka menggunakan uang tersebut untuk memuaskan nafsu duniawi. Mereka membeli puluhan mobil yang harganya milyaran, rumah, villa, emas, perempuan-perempuan (maaf) jalang, dan lain sebagainya. Padahal, di sekitar mereka orang-orang miskin berteriak merasakan beban hidup yang semakin hari semakin berat.

Alhamdulillah, kita hidup di atmosfir pendidikan yang penuh dengan suasana keserhanaan. Kita melihat guru-guru kita hidup dengan penuh kesederhanaan. Mereka tinggal di rumah sederhana, yang penting bisa melindungi keluarga dari panas dan dingin. Kendaraan mereka tidaklah mewah, yang penting dapat membuat mobilitas mereka lancar. Suasana kesederhanaan ini adalah contoh yang diberikan oleh guru-guru kita agar kita mampu menghayati kesederhanaan dalam hidup.

Yang ketiga adalah jiwa berdikari; berdiri di atas kaki sendiri, dalam artian berani hidup sendiri, tanpa terlalu menggantungkan diri pada orang lain. Santri Condong akan merasa bahagia meskipun makan nasi dan garam, tapi hasil keringat sendiri, daripada makan pizza, burger, atau makanan “hebat” lainnya tapi dari hasil mencuri atau meminta-minta. Santri Condong akan senantiasa menggunakan segalah potensinya agar dia bisa berpijak di atas kaki sendiri. Pesantren ini telah membuktikannya. Unit usaha yang jumlahnya tidak kurang dari 20 unit adalah bentuk semangat Condong untuk bisa mandiri dalam mengembangkan pesantrennya.

Selanjutnya adalah ukhuwah diniyah. Persaudaraan yang dilingkupi semangat keagamaan. Santri Condong akan sadar bahwa imannya tidak akan sempurna sebelum dia mencintai sahabatnya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. Konsekuensinya, santri Condong akan peka dalam melihat sekitarnya. Dia tidak akan membiarkan dirinya hidup kekenyangan sedangkan tetangganya hidup dalam kelaparan.

Kebebasan. Kebebasan di sini diartikan membebaskan diri dari segala hal-hal yang dapat menjerumuskan diri pada kekufuran. Santri Condong adalah manusia-manusia terbebaskan, yang tidak akan pernah berhasil diperbudak oleh nafsu mereka.


Setelah mengulas Panca Jiwa, mari kita lanjut pada pembahasan tentang Pilar-pilar Perjuangan. Selayaknya rukun Islam yang menjadi pilarnya agama, pilar-pilar perjuangan ini juga menjadi pilar yang membuat perjuangan dan pengabdian di pesantren tetap kokoh. Pilar-pilar perjuangan ini adalah prasyarat bagi suksesnya pendidikan dan pengajaran di pesantren ini.

Dalam konteks santri sebagai individu, pilar-pilar perjuangan dapat berperan sebagai tiang penyangga kesuksesan santri dalam meniti kehidupan di dunia. Hendaknya pilar-pilar perjuangan ini menjadi prinsip hidup setiap santri dalam berjuang dan memperjuangkan kehidupannya. Pilar-pilar ini juga akan menjadi bukti bahwasanya santri Condong akan senantiasa bermanfaat baik bagi dirinya maupun orang lain.

Mari kita bahas pilar-pilar tersebut secara lebih detail.

Keikhlasan. Ikhlas dalam berjuang berarti memurnikan niat dalam berjuang. Ketika seorang santri berhasil mencapai derajat keikhlasan dalam berjuang, maka bukan hanya kenikmatan dunia yang mereka dapat akan tetapi juga kenikmatan di akhirat kelak.

Kebersamaan. Perjuangan tidak dapat dilakukan sendirian, tapi harus dilaksanakan secara berjamaah. Santri sukses senantiasa memanfaatkan segala cara untuk menggunakan konsep berjamaah dalam berjuang seperti menyambung silaturahim, membangun jejaring dan lain sebagainya. Kita harus sadar, satu lidi akan mudah dipatahkan tapi kumpulan lidi akan menjadi kekuatan yang sangat besar.

Pondok ini pun telah memberikan contoh yang baik bagi kita tentang pilar kebersamaan. Di saat pesantren lain bergelut dengan perpecahan antar keluarga, yang berimbas pada kemunduran pesantren, para pengurus di pesantren ini hidup dalam suasana penuh rukun, harmonis dan saling bekerjasama. Setiap orang bekerja sesuai porsinya masing-masing. Semoga Allah swt. senantiasa memberikan nikmat kebersamaan ini bagi setiap pengurus pondok ini selamanya. Amin.

Kesungguhan. Man Jadda Wajada. Barangsiapa yang bersunguh-sungguh maka dia akan sukses. Dalam berjuang, setiap santri senantiasa harus bersungguh-sungguh dengan melaksanakan suatu pekerjaan secara penuh, pol-polan dan tidak setengah-setengah. Dalam sejarah umat manusia pun, peradaban dibangun dengan sungguh-sungguh dan kerja keras.

Istiqomah. Kesungguhan tanpa konsistensi (istiqomah) adalah omong kosong. Setelah bersungguh-sungguh dalam bekerja, kita seharusnya mengimbanginya dengan konsistensi yang kuat.

Kesabaran. Dalam berjuang tentunya kita akan menghadapi tantangan dan cabaran. Kesabaran yang kuat adalah kunci dari keberhasilan melewati rintangan dan cabaran tersebut.

***

Paparan di atas sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan yang saya ungkapkan di muka tulisan. Apakah Panca Jiwa dan Pilar-pilar Perjuangan berkaitan dengan kesuksesan kita sebagai individu? Jawabannya adalah “iya”. Insyallah, nilai-nilai ini akan bermanfaat bagi kita hari ini dan juga esok hari. Amin. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s