KECERDASAN MAJEMUK

source: brainleadersandlearners.com
source: brainleadersandlearners.com

Oleh, M. Syahruzzaky Romadloni
(pernah dimuat di Majalah Condong Edisi 3).

Sebut saja namanya Julian. Dia adalah guru di salah satu sekolah dasar di Kota Tasikmalaya. Sudah enam tahun ini dia mengabdikan diri sebagai pegawai negeri sipil pasca menamatkan Pendidikan Guru SD di sebuah perguruan tinggi negeri di kotanya. Tiga tahun lalu dia menyunting seorang perempuan yang dulu satu SMP dengannya dan baru tahun lalu mereka dikaruniai momongan. Kini keluarga kecil tersebut hidup bahagia di rumah mungil yang baru mereka beli.

Di sekolah tempatnya mengajar, karir Julian cukup cemerlang. Selain sering menjadi penanggung jawab setiap kegiatan kesenian di sekolahnya, dia juga sering mendapatkan kepercayaan dari Kepala Sekolah untuk mewakilinya menghadiri acara-acara resmi di luar sekolah seperti workshop, BIMTEK, dan lain sebagainya. Maklum, selain sebagai guru laki-laki dan masih muda, Julian juga cukup terengginas menunaikan kepercayaan yang diberikan.

Siapa sangka kalau Julian kecil dulu adalah seorang siswa yang sangat tertinggal baik secara akademis maupun non-akademis. Di kelas dia selalu menjadi salah satu dari sepuluh siswa yang langganan menempati ranking terbawah. Dalam pelajaran olahraga dia tidak begitu menonjol, begitupun dalam kegiatan organisasi siswa; dia hanya ikut-ikutan temannya. Julian kecil adalah seorang pemalu bahkan untuk berintekrasi dengan teman-teman sekelasnya pun agak gagu.

Tentu saja orang tua mana yang tidak khawatir melihat perangai anaknya seperti itu; tertinggal secara akademis dan non-akademis, pemalu, serta susah untuk bersosialisasi. Namun satu hal yang luput dari perhatian orang tuanya adalah ternyata anak mereka memiliki ketertarikan yang sangat besar pada seni musik. Julian sewatu-waktu ikut latihan band dengan teman-temannya. Namun, karena konotasi anak band pada waktu itu jelek, orang tuanya tidak terlalu antusias dengan kecenderungan anaknya ini.

Perjalanan hidup Julian berubah tatkala dia mulai berkenalan dengan komunitas musik etnik ketika duduk di bangku SMA. Keterlibatan Julian dalam komunitas ini mengharuskan dia tidak hanya berintekrasi dengan orang banyak tapi juga merubah sifatnya yang tadinya pemalu menjadi luwes dan supel. Dalam komunitas ini pula dia belajar banyak hal seperti membangun kedewasaan dan memupuk kepemimpinan. Lambat tapi pasti, Julian mulai menunjukan perubahan. Dia pun diterima di perguruan tinggi negeri di kotanya.

Kini, Julian bersyukur karena dia menemukan kondisi terakhirnya. Memang dia “hanya” menjadi seorang guru SD di sebuah kota kecil, namun hal itu benar-benar di luar dugaan teman-temannya, orang tuanya, bahkan dirinya sendiri. Banyak orang yang menyangsikan masa depannya, namun kenyataan berkata lain. Julian kecil yang “tidak cerdas” ternyata bisa melakukan sebuah “discovering ability” sehingga menjadi Julian besar yang “cerdas”.

***

Kisah Julian di atas menyiratkan bahwasanya konsep kecerdasan tidaklah sesederhana dengan mengatakan anak ini cerdas atau kurang cerdas merujuk pada ranking anak di kelas atau prestasi akademiknya di sekolah. Sampai saat ini wacana tentang kecerdasan masih menjadi bahan perdebatan di kalangan para ahli psikologi dan neurosains. Ketika disodorkan pertanyaan tentang siapakah yang lebih cerdas: B.J. Habibie, Bill Gates, Asma Nadia, J.K Rowling atau Michael Jordan, kebanyakan dari mereka masih kebingungan menjawabnya mengingat masih banyak misteri tentang kecerdasan yang harus mereka ungkap.

Memang wacana tentang kecerdasan sudah menjadi perbincangan di kalangan umat manusia semenjak ribuan tahun lalu. Namun, menurut pendapat Munif Chatib, CEO Next Worldview, wacana tentang kecerdasan di zaman modern dapat ditelusuri dari tahun 1905 dimana Alfred Binet, seorang psikolog Prancis berhasil menemukan sebuah alat ukur kecerdasan yang diklaim dapat mengukur secara objektif dan dinyatakan dalam satuan angka, yaitu nilai intelligence quotient atau IQ. Tes kecerdasan ini pun dikembangkan lagi oleh seorang Psikolog Jerman, William Stren, dengan mengusulkan untuk membagi usia mental anak dengan usia kronologi. Rumusan ini kemudian dikembangkan lagi oleh Lewis Terman, Psikolog dari Amerika Serikat yang mengalikan rumus yang dikembangkan Stern dengan angka 100. Perhitungan inilah yang kemudian menjadi rumus untuk menentukan tingkat kecerdasan seseorang yang kemudian populer dengan nama Stanford-Binet Intelligence Test yang sampai saat ini masih sering digunakan.

Tes kecerdasan ini, selain berhasil menjadi rujukan oleh sebagian orang untuk mengukur kecerdasan juga mendapatkan kritikan pedas yang tidak sedikit dari para psikolog dan ahli neurosains. Para ahli beranggapan bahwa angka-angka tidak mampu merepresentasikan kecerdasan manusia secara utuh. Menurut Howard Gardner, profesor psikologi dari Universitas Harvard, tes kecerdasan yang direpresentasikan dalam angka-angka tersebut memiliki keterbatasan-keterbatasan terutama menyangkut instrumen tes dan cara penggunaannya. Tes mungkin saja cocok dalam konteks tertentu seperti dalam lingkungan sekolah, tapi mungkin saja tidak cocok dijadikan rujukan dalam konteks yang lebih luas seperti ekonomi dan sosial.

Selain itu Gardner juga beranggapan bahwa tes IQ buta secara empirik (blindly empirical), karena tes tersebut didasarkan semata-mata pada kekuataan dugaan tentang kesuksesan pada sebuah teori mengenai bagaimana pikiran bekerja. Tidak ada isu tentang proses bagaimana seseorang memecahkan masalah. Yang ada hanyalah isu mengenai apakah seseorang sampai pada sebuah jawaban yang benar.

Selama abad 20, teori kecerdasan IQ tradisional menjadi rujukan bagi banyak orang dan menjadi simbol kecerdasan seseorang. Namun seiring berjalannya waktu para psikolog mulai menemukan bahwasanya kecerdasan manusia tidaklah sesempit seperti yang digambarkan oleh teori IQ tradisional. Ada banyak “kecerdasan-kecerdasan” lain yang berhasil ditemukan oleh para ahli seperti Emotional Quotient oleh Daniel Goleman, Adversity Quotient oleh Paul Stotltz, dan yang terbaru sepasang suami isteri, Ian Marshall dan Danah Zohar mencetuskan Spiritual Quotient yang dianggap sebagai kecerdasan tertinggi. Yang menarik dan berhasil menyedot perhatian insan pendidikan dunia internasional saat ini adalah teori kecerdasan majemuk yang dikemukakan pertama kali oleh seorang ahli neurosains berkebangsaan Amerika Serikat, Professor Howard Gardner.

Howard Gardner mendobrak paradigma psikologi lama yang mengkerangkeng konsep kecerdasan dengan hanya menawarkan serangkaian tes psikologis kemudian hasil tes itu diubah menjadi standar kecerdasan. Dalam hal ini menurut Munif Chatib, praktisi kecerdasan majemuk di Indonesia, Howard Gardner melakukan redefinisi kecerdasan dengan mengatakan bahwa kecerdasan adalah “kemampuan untuk menemukan dan menyelesaikan masalah dan menciptakan produk yang bernilai dalam budayanya.” Dalam pandangan Gardner, kecerdasan tidak diukur dari hasil tes psikologi standar, namun dapat dilihat dari kebiasaan seseorang terhadap dua hal; kebiasaan orang menyelesaikan masalahnya (problem solving) dan menciptakan produk-produk baru yang punya nilai budaya (creativity).

Cerita tentang Julian di atas menunjukan bagaimana kecerdasan tidaklah cukup bisa direpresentasikan dengan angka-angka saja akan tetapi memiliki entitas majemuk yang berkaitan satu sama lain. Ketika Julian belum menemukan kompetensi kecerdasannya, dia dicap sebagai orang yang tertinggal di lingkungannya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan proses belajar berlangsung, Julian menemukan bahwa kecerdasan musik adalah salah satu kompetensi yang ia miliki. Ketika berhasil menemukan kecerdasannya tersebut, Julian mampu menyelesaikan masalah-masalah yang membelitnya ketika kecil seperti kurang bisa bergaul, tertinggal dalam bidang akademik dan lain sebagainya. Julian juga berhasil menciptakan sebuah produk berharga dalam kebudayaannya yaitu berupa prestasi yang ia tunjukan di dunia kerja. Suatu hal yang sangat mahal dalam kehidupannya di masa kecil.

Dari sini Munif Chatib lebih jauh memaparkan bahwa kecerdasan itu selalu berkembang dan bersifat dinamis. Mengutip Howard Gardner, Chatib menjelaskan bahwa kecerdasan itu dapat dilihat dari kebiasaan seseorang dan kebiasaan adalah perilaku yang diulang-ulang. Karena kecerdasan itu adalah kebiasaan, maka dapat dirangsang melalui stimulus-stimulus yang tepat sesuai dengan kompetensi yang dimiliki, sehingga akan menghasilkan suatu kondisi akhir. Proses stimulasi kompetensi-kompetensi tersebut dinamakan sebagai discovering ability seperti yang dimisalkan dalam kisah Julian di atas.

Proses discovering ability ini sangat kentara terlihat ketika kita mengambil misal dari beberapa tokoh yang secara tiba-tiba melejit ketika berhasil menemukan kondisi akhir terbaiknya. J.K. Rowling, seorang penulis novel Best Seller Harry Potter, misalnya, ketika belum menemukan kondisi akhir terbaiknya sebagai penulis fenomenal, dia hanyalah seorang guru biasa di salah satu sekolah menengah di Inggris. Begitupun dengan penulis tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata yang mana dia hanyalah seorang pegawai salah satu perusahaan BUMN bidang telekomunikasi, sebelum menjadi fenomenal dengan tetraloginya. Belum lagi ada Albert Einstein yang pernah mengidap tanda-tanda autisme pada masa kecilnya, atau Thomas Alva Edison yang dikeluarkan dari sekolah karena kedunguannya; mereka berhasil menemukan kondisi akhir yang terbaik di sisa hidup mereka. Proses kondisi akhir terbaik tersebut akan terus berkembang apabila mereka terus mengembangkannya dengan melakukan stimulus-stimulus yang tepat.

Temuan Gardner juga menunjukkan bahwa intelegensi bersifat jamak: bermakna banyak dan luas, menandakan kecerdasan pada hakikatnya tidak terbatas. Sampai saat ini Gardner telah menemukan sedikitnya 9 macam kecerdasan, yaitu: kecerdasan linguistik, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestis, kecerdasan musik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan terakhir kecerdasan ekstensialis. Tentunya kecerdasan-kecerdasan ini bukanlah final dan masih ada intelegensi lain yang masih menunggu untuk ditemukan dan dibuktikan secara ilmiah oleh para ahli.

Implikasi terhadap Dunia Pendidikan

Penerapan kecerdasan majemuk memiliki konsekuensi positif bagi dunia pendidikan yaitu sebuah pandangan bahwasanya setiap anak manusia dilahirkan istimewa ke muka bumi ini. Disamping kekurangan yang dimilikinya, seorang anak memiliki kelebihan-kelebihan yang mungkin akan berkembang dan bermetamorfosis menjadi kondisi akhir terbaik. Seyogyanya para pendidik dan orang tua memfokuskan diri pada kelebihan tersebut bukan justru terus mengungkit kekurangannya (Lihat Kolom Tarbiyah: Berfokus pada Kelebihan Anak).

Selain itu, kecerdasan majemuk juga menuntut para pendidik dan orang tua untuk dapat memberikan stimulus-stimulus yang tepat agar kecerdasan anak dapat berkembang dengan baik. Caranya adalah dengan mencari metode pembelajaran kreatif, inovatif dan berbasis pada kecerdasan majemuk. Dengan ini diharapkan anak-anak kita akan tumbuh kembang sesuai dengan fitrah yang dianugerahkan Allah SWT.

 Tabel

Kecerdasan Majemuk Menurut Howard Gardner

NO

Kecerdasan

Sistem Neurologis

Kompetensi

Kegiatan Budaya

1

Linguistik Lobus temporal kiri & lobus bagian depan (misalnya wilayah Wernicke). Kemampuan membaca, menulis, berdiskusi, beragumentasi dan berdebat. Budaya berbicara, pembacaan cerita dan kesusastraan.

2

Matematika-logis Lobus fronal kiri Kemampuan berhitung, bernalar dan berpikir logis, memecahkan masalah. Matematika, sistem klasifikasi dan penghitungan.

3

Visual-Spasial Bagian belakang hemisfer kanan Kemampuan menggambar, memotret, membuat patung dan mendesain. Navigasi desain, arsitektur karya cipta

4

Kinestis-Jasmani Sereblum, basal ganglia, motor koreteks Kemampuan gerak motorik dan keseimbangan. kemampuan adetik, karya drama, seni pahat.

5

Musikal Lobus temporal kanan Kemampuan mencipta lagu, membentuk irama, mendengar nada dari sumber bunyi atau alat bunyi. Komposisi musik, penampilan di panggung rekaman.

6

Interpersonal Lobus bagian depan, lobus temporal, hemisfer kanan dan sistem limbik. Kemampuan bergaul dengan orang lain, memimpin, kepekaan sosial yang tinggi, negosiasi, bekerjasama, punya empati yang tinggi. Dokumen politik, lembaga sosial.

7

Intrapersonal Lobus bagian depan, lobus parietal, sistem limbik Kemampuan mengenali diri sendiri secara mendalam, kemampuan intiutif dan motivasi diri, penyendiri, sensitif terhadap nilai diri dan tujuan hidup. Sistem keagamaan, teori psikologi, ritual hidup sehari-hari.

8

Naturalis Lobus parietal kiri Kemampuan meneliti gejala-gejala alam, mengklasifikasi, identifikasi. Pengetahuan tentang tumbuhan, berburu mitologi ruh binatang.

Sumber: diolah dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s