Berfokus pada Kelebihan Anak

source: brainleadersandlearners.com
source: brainleadersandlearners.com

Oleh: M. Syahruzzaky Romadloni

Thomas Alva Edison adalah seorang ilmuwan asal Amerika Serikat. Berkat karya-karyanya, kita bisa menjalani hidup dengan lebih mudah. Bagaimana tidak, selama masa hidupnya, dia telah menelurkan sedikitnya 1.039 penemuan yang telah dipatenkan. Diantaranya yang paling berpengaruh pada kehidupan kita sekarang adalah bola lampu listrik, gramaphone dan kamera listrik.

Siapa tahu kalau Thomas Alva Edison ternyata hanya mengenyam tiga bulan pendidikan formal. Selebihnya dia belajar pada ibunya yang berprofesi sebagai guru. Konon, Edison dikeluarkan dari sekolahnya, karena guru-guru dan teman-temannya sudah tidak tahan dengan sikap idiotnya ketika berada di sekolah. Edison dianggap aneh, bahkan tidak mampu untuk mengikuti pelajaran paling rendah sekalipun di sekolah.

Lain lagi ceritanya dengan Albert Einstein, fisikawan terkenal abad ini. Di balik kecemerlangan akademisnya, ternyata menyimpan cerita menarik ketika Einstein masih kecil. Einstein kecil dicap sebagai siswa yang mengidap disleksia, penyakit ketidakmampuan belajar dan juga terkenal dengan sifat pemalunya. Bahkan ada yang beranggapan bahwa Einstein menderita sindrom asperger, sebuah kondisi yang berkaitan dengan autisme. Siapa sangka, karena ketekunan dan keoptimisannya ia menjadi ilmuwan fenomenal yang karya-karyanya dikenang oleh umat manusia sampai saat ini.

Edison dan Einstein adalah contoh konkrit betapa setiap anak, disamping kekurangan-kekurangan yang dimilikinya, dilahirkan istimewa oleh Allah SWT. Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sayangnya, kita, para orang tua, justru seringkali berfokus pada kekurangannya dan mengabaikan kelebihannya.

Apa kira-kira reaksi orang tua ketika anak mereka mendapatkan nilai 30 dalam pelajaran Matematika atau Sains? Atau tidak mendapatkan rangking di kelasnya? Bisa ditebak, mayoritas orang tua akan merasa kecewa, bahkan tidak sedikit yang marah kepada anak mereka. “Anak saya tidak pandai”, “anak saya masa depannya akan suram”, “anak saya tidak bisa apa-apa”, dan persepsi-persepsi negatif lainnya. Setelah itu biasanya, orang tua akan menyusun jurus-jurus jitu yang bertujuan mengatasi keterbatasan-keterbasan tersebut seperti les tambahan, menghadirkan guru privat dan lain sebagainya yang seringkali membuat anak stres dan tidak nyaman.

Adalah hal yang wajar apabila orang tua menginginkan setiap anaknya sukses. Namun seringkali hal itu selalu parents-oriented tanpa disertai ruang diskusi bagi anak untuk menyatakan pendapat mereka. Memberikan pendapat tentang apa yang baik itu wajib, akan tetapi sungguh tidak bijak apabila orang tua memaksakan kehendaknya ketika berbicara tentang bagaimana anaknya harus meniti masa depan, padahal anaknyalah yang akan menghadapi itu semua.

Ketika melihat anaknya kurang bisa bersosialisasi dengan orang lain, agak pendiam dan lebih senang menyendiri seringkali para orang tua lebih melihatnya sebagai kekurangan yang harus diatasi bukan “kelebihan” yang harus dieksplorasi. Wallahu a’lam kalau ternyata anak itu lebih cocok dan sukses menjadi penulis, sastrawan, penulis keagamaan, fisikawan teoretis atau analis keuangan dibandingkan menjadi manajer, pimpinan, dokter atau profesi bergengsi lainnya. Selagi profesi itu baik, kenapa kita harus memaksakan kehendak dengan mengebiri fitrah-fitrah potensial mereka?

Yang cukup memprihatinkan, selama ini, kita sebagai orang tua juga sering berangkat dari paradigma yang salah dalam mendidik anak-anak kita. Kita selalu menganggap bahwa disiplin ilmu umum lebih penting dari ilmu agama, matematika lebih bergengsi dari bahasa, ilmu alam lebih penting dari ilmu sosial, sains lebih penting dari musik dan olahraga dan setersunya. Demi paradigma yang kurang tepat ini, akhirnya anak selalu menjadi korban pemaksaan kehendak dari orang tua dan juga diskrimansi dari lingkungan sekitar. Anak yang mahir dalam bidang eksak biasanya mendapatkan previllege yang lebih dari anak yang passion nya adalah ilmu sosial atau bahasa. Anak yang piawai dalam memainkan alat musik seringkali dianggap sebelah mata bila dibandingkan dengan mereka yang piawai memecahkan soal-soal matematika. Kondisi ini, menurut hemat saya, terjadi karena kita berangkat dari perspektif yang kurang tepat.

Tidakkah cukup terhormat apabila kita menjadi seperti Asma Nadia yang menginspirasi masyarakat dengan novel-novelnya yang syarat nilai? Atau seperti Ustadz Yusuf Mansyur yang mencerahkan ummat? Atau Andrea Hirata dengan novel-novel inspiratifnya? Atau J.K Rowling dengan sequel Harry Potternya? Atau Prof. Boediono yang mengabdikan diri sebagai Wapres republik ini? Padahal mereka berjuang di lapangan-lapangan yang kita anggap tidak bergengsi; agama, sastra dan ilmu sosial. Apapaun yang anak kita pilih, baik itu bahasa, ilmu agama, ilmu sosial, ilmu alam, atau lainnya, selagi itu baik dan mereka bisa menjadi terbaik di bidangnya adalah terhormat. Dengan begitu kita telah memberikan rasa nyaman bagi anak kita.

Selain paradigma yang kurang tepat di atas, kita juga terlalu mengagung-agungkan kecerdasan kognitif yang direpresentasikan dengan alat ukur tes IQ. Kita kadung menganggap bahwa anak pintar adalah mereka yang IQ nya tinggi, sedangkan yang memiki IQ rendah dianggap sebagai anak bodoh. Hal ini ternyata menjadi perdebatan para psikolog selama berpuluh-puluh tahun semenjak dimunculkannya tes IQ oleh Alfred Binet. Sampai akhirnya Dr. Howard Gardner mencetuskan teori kecerdasan majemuk (multiple intelligences) yang tidak membatasi kecerdasan dengan kecerdasan kognitif saja. Dalam rumusan Gardner kecerdasan itu luas meliputi kecerdasan imaji, kecerdasan aksara, kecerdasan diri, kecerdasan relasi, kecerdasan musik, kecerdasan alam, kecerdasan tubuh, kecerdasan spiritual dan kecerdasan logika. Anak kita mungkin lemah dalam bidang matematika, tapi mungkin dia pandai dalam menjalin relasi. Anak kita bisa jadi kurang mampu bersosialisasi, akan tetapi mungkin dia pandai dalam berkontemplasi dan mengenali dirinya.

Menyadari bahwa setiap anak dilahirkan istimewa, sungguh sangat bijak apabila kita sebagai orang tua sekarang merubah sikap dalam melihat potensi anak dengan berfokus pada kelebihannya, bukan kekurangannya. Wallahu A’lam.

*Penulis adalah Guru di SMP-SMA Terpadu Riyadlul Ulum Wadda’wah dan peneliti di Center for Educational Research and Training Pondok Pesantren Riyadlul Ulum Wadda’wah Condong. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s