Perjuangan Versus Kesejahteraan

dakwah

Ada garis yang sangat tipis antara perjuangan menegakkan agama Allah dengan keinginan untuk mendapatkan kesenangan duniawi. Selama ini, mayoritas masyarakat kita menganggap agama sebagai hal yang sakral dan penting, sehingga orang yang mempunyai otoritas dan berjuang di dalamnya (baca: kyai, ustadz, pendakwah, dll) seringkali menjadi panutan dan sanjungan dari banyak orang dan tak jarang karena hal itu mereka mendapatkan keuntungan-keuntungan duniawi. Kalau saja mereka tidak memiliki integritas yang kuat, maka saya khawatir mereka akan tergelincir dan lupa akan niat awal mereka dalam berjuang.

Mari kita ambil contoh.

Anda mungkin masih ingat bagaimana perjuangan para murabby gerakan tarbiyah di Indonesia dalam menegakkan kalimat Allah di masa-masa sulit ketika Presiden Soeharto masih memimpin. Mereka harus rela main kucing-kucingan dengan aparat hanya untuk menyebarkan ajaran Islam di sekolah-sekolah dan kampus-kampus sekuler di Indonesia. Beberapa dari mereka bahkan harus merasakan dinginnya hotel predeo karena tertangkap basah oleh aparat. Sebagian dari mereka kehilangan pekerjaan dan harus dikeluarkan dari sekolah karena ngeyel menjalankan syariat Islam. Dan tentu masih banyak cerita-cerita berat lainnya yang harus mereka hadapi.

Ketika reformasi tiba, mereka menggunakan momen itu untuk mendirikan partai dakwah. Saya yakin pada saat itu niat mereka ikhlas tanpa ada embel-embel mencari harta duniawi. memanfaatkan momentum reformasi untuk memudahkan jalan yang dulu sangat berliku ketika berdakwah. Mereka menjadikan politik sebagai alat, bukan tujuan. Hal itu terlihat dari banyaknya petinggi partai tersebut yang hidup sederhana dan tidak melupakan aktivitas-aktivitas dakwah seperti liqo’, mentoring, kajian dan lain sebagaienya. Tidak pernah saya melihat berita para politikus partai ini yang tersandung kasus-kasus yang sudah menjadi penyakit politikus negeri ini seperti korupsi, seks bebas, dan lain-lain. Walhasil, rakyat pun banyak yang bersimpati pada partai ini.

Sayangnya, seiring dengan perjalanan waktu, para petinggi partai tak kuat melawan indahnya nikmat duniawi sehingga mereka terlena dibuatnya. Mulai terlihat beberapa berita tentang pelencengan dari khittah mereka sebagai partai dakwah seperti kasus anggota dewan yang terpergoki melihat video porno, terjaring razia di panti pijat esek-esek, korupsi, perilaku elit partai yang hedonis hingga perseteruan antar elit partai. Puncaknya di tahun 2013 ini, pucuk pimpinan tertinggi partai ini tersandung kasus korupsi, sungguh memalukan!

Di sini kita lihat garis yang sangat tipis antara perjuangan menegakkan kalimat Allah lewat partai politik dengan ambisi meraih kenikmatan duniawi.

Selanjutnya mari kita lihat ke ranah yang lebih kecil. Kita seringkali melihat para da’i yang sehari-hari menyerukan umat ke jalan Allah hidup bergelimang harta sedangkan kita masih melihat masyarakat di sekitarnya hidup dalam keadaan serba kekurangan. Dari ladang dakwah, mereka memiliki rumah  berlantai tiga, mobil Fortuner, motor honda CBR, empat isteri cantik dan kekayaan lainnya. Ironisnya, tetangga di sebelahnya kelaparan karena tidak mendapatkan nasi untuk mereka makan hari ini!

Sekali lagi garis perjuangan dan ambisi dunia sangatlah tipis!

Bagaimana dengan kyai di lembaga pendidikan Islam? Ternyata sama saja! Mereka mematok harga mahal untuk santri yang mau belajar di sana. Alasannya, untuk membangun gedung-gedung, untuk dakwah Islamiyah, untuk menyediakan sarana dan pra sarana, padahal dari hasil tersebut mereka bisa membeli mobil fortuner, rumah mewah, isteri empat, bahkan pesawat terbang!

Ada contoh menarik sekaligus ironis. Suatu pesantren besar dan legendaris. Pimpinannya anggota DPR, pengurusnya menjadi bupati, mobil dan rumah mereka mewah, isteri mereka di mana-mana, tapi ironisnya kawasan pesantren tersebut sangat kumuh dan mereka masih menyimpan kotak-kotak amal untuk pengembangan pesantren di tempat-tempat umum. Apa sang bupati dan anggota DPR sudah bershodaqoh untuk pesantrennya?

Sungguh sangat tipis garis antara perjuangan menegakkan kalimat Allah dengan perjuangan memuaskan hasrat duniawi. Selayaknya saya, anda, mereka yang katanya berjuang di jalan Allah sadar akan hal ini!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s