Pendidikan Islam dan Dikotomi Ilmu Pengetahuan

(Draf awal salah satu bab dari proyek buku saya)

Oleh: M. Syahruzzaky Romadloni*

Apabila kita lihat dari berbagai segi, Dinul Islam memiliki kaitan yang sangat erat dengan peradaban ilmu pengetahuan. Kita bisa mengatakan bahwa Islam dan ilmu pengetahuan adalah bak dua sisi mata uang yang tidak dapat kita pisahkan satu sama lain. Al-Quran, sebagai rujukan utama ajaran Islam, mengandung banyak sekali ayat yang berbicara tentang ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di alam semesta ini seperti proses penciptaan bumi, langit, manusia dan bahkan fenomena-fenomena sosial, meskipun toh kita tidak bisa melakukan simplifikasi bahwa al-Quran adalah kitab tentang ilmu pengetahuan.

Secara nature, Dinul Islam menganjurkan ummatnya untuk menggali dan menyelidiki rahasia-rahasia alam melalui kegiatan-kegiatan ilmiah. Dalam tataran implementasi, para cendikiawan muslim terdahulu telah membuktikannya dengan membangun peradaban Islam yang bersandarkan ilmu dan penyelidikan. Bahkan, ketika cahaya Islam mulai memasuki masa surut, fondasi-fondasi keilmuan yang telah mereka bangun tersebut menjadi rujukan utama bagi peradaban Barat yang berdiri kokoh saat ini. Buku the Canon of Medicine, misalnya lama menjadi rujukan para dokter dari Barat, di samping banyak contoh lainnya.

Namun sayangnya, perjalanan sejarah menunjukan gejala anomali. Umat Islam teralienasi dari pemahaman yang benar tentang ilmu pengetahuan. Dewasa ini, dikotomisasi ilmu pengetahuan yang akut melanda sebagian besar umat Islam di muka bumi. Pemahaman yang berkembang menunjukan bahwa ilmu ‘agama’ dan ilmu ‘umum’ adalah sesuatu hal yang berbeda. Mereka melakukan penyelidikan dalam ilmu-ilmu yang bersumber dari al-Quran dan al-Hadits dan meninggalkan sama sekali ilmu-ilmu yang berasal dari hasil penyelidikan alam semesta. Sebagai contoh, Universitas Al-Azhar Mesir yang merupakan Universitas tertua di dunia hanya berfokus pada pengkajian ilmu-ilmu ‘agama’ saja, sebelum adanya gerakan reformasi dari Muhammad Abduh. Walhasil, tafaqquh fiddin tersubordinasi maknanya dengan hanya memahami ayat-ayat Allah yang bersumber dari al-Quran dan al-Hadits saja.

Kontras dengan sekelompok kaum Muslim di atas, ada kelompok lainnya yang menomorduakan pendidikan ‘agama’. Sebagai imbas dari imprealisme dan kolonialisme Barat, kelompok ini menjadikan pendidikan agama hanya sebagai lip service, dan memberikan porsi yang sangat kecil dalam pengajaran sekolah. Mereka membedakan sains dan agama dan menganggap tidak ada hubungan sama sekali antara keduanya. Maka terbentuklah manusia-manusia sekuler yang tidak mengenal kehidupan beragama dalam kehidupan sosial. Sekedar contoh, dalam perdebatan merumuskan ideologi negara Indonesia, banyak sekali kaum Muslim (khususnya kaum nasionalis sekuler) yang menolak ideologi Islam menjadi dasar negara karena pemahaman mereka terbentuk dari sistem pendidikan sekuler yang menafikan peran agama dalam kehidupan sosial.

Kedua corak pendidikan tersebut tentunya sangat tidak tepat dengan semangat pendidikan Islam.

Lalu bagaimanakah seharusnya kita memandang permasalahan ini? Tentunya Islam tidak pernah mengenal dikotomi ilmu pengetahuan menjadi ilmu ‘agama’ dan ilmu ‘umum’ karena toh semua ilmu pada hakekatnya milik Allah. Al-Quran adalah ayat-ayat Allah, pun dengan alam semesta. Bahkan, sebagaian  intelektual Muslim kontemporer berpendapat bahwa ayat-ayat Allah yang termaktub dalam al-Quran dikategorikan sebagai ‘Kitab Kecil’, sedangkan ayat-ayat Allah yang tersebar di alam semesta adalah ‘Kitab Besar’. Mempelajari alam semesta sama wajibnya dengan mempelajari al-Quran karena alasan  di atas.

Penyelidikan terhadap dua ranah yang seakan ‘berbeda’ tersebut akan membawa kita pada bukti kemahabesaran Allah. Allah tidak hanya kita temukan dalam sekat-sekat masjid saja, akan tetapi juga dalam bilik-bilik laboratorium, ruang observasi, lembaga-lembaga negara dan lain sebagainya. Pemandangan seperti ini akan sulit kita temukan dalam corak pendidikan sekuler seperti yang kita temukan sekarang ini.

Selanjutnya mari kita tengok praktek dikotomi ilmu pengetahuan di lembaga-lembaga pendidikan Islam.

Lembaga pendidikan Islam adalah institusi yang bertujuan untuk melestarikan dan menanamkan nilai-nilai Islam ke dalam pemahaman peserta didik. Tujuan ini terkejawantahkan dalam proses ta’dib, tarbiyah dan ta’lim yang kontinyu. Saya sangat setuju dengan pendapat Al-Attas yang lebih memilih ta’dib sebagai aktivitas utama pendidikan karena cakupan yang melingkupinya lebih luas dari ketiga istilah di atas. Konsekuensinya pendidikan kita arahkan dalam kerangka pembentukan individu-individu beradab (agent of individual change) yang suatu saat kelak dapat menjadi pendobrak di masyarakat (agent of social change). Pembentukan individu dapat kita lakukan dengan penanaman akhlak yang mulia, nilai-nilai tawhidi dan pandangan hidup Islam (ru’yatul Islam lil wujud) yang kokoh.

Selain sebagai tempat penanaman nilai-nilai Islam universal, lembaga pendidikan Islam harus menjadi tempat pengembangan ilmu-ilmu Islam dalam semua jenisnya, baik itu ilmu tanziliyah, kauniyah (yang mana keduanya dikategorikan sebagai ilmu hushuli) maupun ilmu hudhori yang ghoir hushuli. Pengembangan ilmu-ilmu tersebut harus kita laksanakan secara terpadu dan tidak hanya terbatas pada aspek parsial kognitif saja. Perhatian terhadap aspek spiritual dan etika bagi para pencari dan pengembang ilmu merupakan sebuah keharusan mutlak. Dengan begitu lembaga pendidikan Islam dapat berbeda dengan lembaga-lembaga pendidikan non-Islam.

Atas dasar pemahaman bahwa pengkajian atas ilmu-ilmu qauliyah (revealed knowledge) adalah fardu ‘ain, maka tentunya pengkajian ilmu-ilmu tersebut harus menjadi landasan pertama sebelum melangkah ke ilmu-ilmu kauniyah yang kita yakini pengkajiannya bersifat fardu kifayah. Hal ini penting untuk menghindari ketidakadilan dalam menuntut ilmu.

Sungguh kita sayangkan, realitas yang terjadi di lapangan tidak mencerminkan semangat di atas. Pengembangan ilmu-ilmu di mayoritas lembaga pendidikan Islam saat ini telah mengkerucut pada ilmu-ilmu tanziliyah saja seperti Fiqh, Tasawuf, Nahwu, Sharaf, Faroidl, dlsb dan meninggalkan eksplorasi dalam bidang ilmu-ilmu kauniyah seperti Fisika, Kimia, Biologi, Politik, Ekonomi, dlsb. Suatu hal yang musykil apabila kita ingin melihat kegiatan penyelidikan alam semesta di lembaga-lembaga pesantren atau madrasah kecuali sebagian kecil saja, karena menurut mereka ilmu terbatas pada ilmu tanziliyah saja.

Realitas seperti ini ternyata membawa efek negatif terhadap kehidupan sosial umat Islam selama berabad-abad lamanya. Dalam berbagai lini, kita selalu tertinggal dari kelompok sosial lainnya karena tidak memiliki pengetahuan yang memadai untuk survive dalam kehidupan sosial. Masyarakat muslim adalah masyarakat miskin dan termarjinalkan karena selalu kalah dalam persaingan dengan masyarakat lainnya. Dalam kehidupan ekonomi, kita tak ada ruang untuk bersaing dengan para kapitalis yang telah menggurita. Dalam bidang politik, suara umat Islam selalu menjadi korban penindasan. Dalam bidang pendidikan, kualitas SDM masyarakat muslim sangat rendah dengan kelompok lainnya. Walhasil Muslim (bukan Islam) identik dengan kebodohan, kemiskinan, penindasan dan ketidakadilan. Keadaan ini menurut hemat saya adalah imbas dari pemahaman yang salah terhadap ilmu pengetahuan.

Kita sudah kenyang menjadi penonton dalam berbagai lini kehidupan. Ketika bangsa Indonesia hendak merumuskan dasar negara, kita harus mengelus dada karena aspirasi umat Islam (baca: piagam Jakarta) harus ditanggalkan. Aspirasi umat pun seringkali terabaikan karena para penyelenggara negara mayoritas berasal dari orang-orang yang dididik dalam sistem pendidikan sekuleristik. Walhasil, kesejahteraan umat selalu menjadi nomor dua, karena mereka tidak bisa memasuki birokrasi pemerintahan.

Teknologi adalah produk budaya manusia yang dapat memudahkan manusia untuk melakukan suatu pekerjaan. Dalam hal ini pula, umat Islam seringkali tertinggal karena sistem pendidikan yang berkembang di lembaga-lembaga pendidikan Islam tidak diarahkan pada penguasaan teknologi untuk kemaslahatan ummat. Tertinggalnya umat dalam bidang teknologi seringkali membuat mereka kalah langkah dalam persaingan di era globalisasi.

Yang lebih mengkhawatirkan, corak pendidikan Islam yang berkembang saat ini seringkali menghasilkan praktek-praktek keagamaan yang penuh bau khurafat, takhyul serta menyimpang dari ajaran Islam seperti praktek-praktek sufisme ekstrim yang meninggalkan dunia sepenuhnya serta pendewaan dan penuhanan para wali dan sufi. Di India, sebagian muslim India meninggalkan kehidupan dunia dan memenuhi pojok makam Syekh Waliyullah, sufi masyhur asal India dan memercayai bahwa Syekh Waliyullah adalah titisan Tuhan. Di makam-makam Wali Songo ribuan umat Islam Indonesia meminta pertolongan kepada Wali yang sudah meninggal dan tidak berdaya apa-apa. Ziarah Wali Songo telah tercemar oleh bau syirik karena menduakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sudah jelas, praktek keagamaan seperti ini akan tetap membawa masyarakat muslim pada keadaan status-quo; kemiskinan, kebodohan, penindasan dan lain sebagainya.

Beberapa Penyebab

Seperti yang telah saya paparkan di muka tulisan, Islam menganjurkan para pemeluknya mencari ilmu pengetahuan yang bersumber dari ‘kitab kecil’ dan ‘kitab besar’. Akan halnya pergeseran paradigma tentang hal ini di mata ummat Islam adalah sebuah kenyataan sejarah yang memang produk dari peradaban Islam yang memasuki masa surut. Praktek tibbun nabawi dan cemerlangnya kedokteran Islam di masa kejayaannya adalah salah satu bukti bahwa dua ranah tersebut adalah bagian integral dari pendidikan Islam.

Tentunya, ada beberapa sebab yang menyebabkan pergeseran ini di kalangan umat Islam. Saya akan mengulasnya dengan singkat.

Ketika peradaban Islam sedang berada pada puncak kejayaannya, teradapat serangan hebat dari para kaum cendikiawan muslim rasionalis yang menusuk jantung ajaran Islam. Seperti yang kita ketahui, mayoritas cendikiawan muslim saat itu terpengaruh oleh sisa-sisa peradaban Yunani dan mencoba mencampuradukkan antara kedua peradaban asing tersebut dengan ajaran Islam. Ijtihad mereka itu mendapat serangan hebat dari para cendikiawan muslim tradisionalis karena memasukan unsur-unsur asing dalam akidah Islam yang sudah mapan.

Salah satu ulama yang mengkritisi pemikiran kaum rasionalis adalah Imam al-Ghazali melalui bukunya tahafut al-falasifah dan al-munqidz min ad-dhalal. Dalam kedua bukunya tersebut al-Ghazali menyerang beberapa pemikiran cendikiawan Muslim yang dia anggap telah keluar dari koridor aqidah Islam seperti menafikan adanya hari kebangkitan. Kritikan al-Ghazali ini mendapat respon besar dari umat Islam. Sayangnya, respon tersebut adalah sebuah gerakan yang menutup rapat penggunaan rasio dalam kegiatan keilmuan. Padahal, al-Ghazali tidak pernah bermaksud seperti itu. Beliau hanya ingin membentengi aqidah umat dari produk-produk pemikiran Islam yang terlah tercampur budaya asing. Disini ada misintrepetasi dari umat Islam terhadap apa yang al-Ghazali lakukan dalam perannya sebagai hujjatul Islam. Al-Ghazali tidak pernah menganjurkan umat Islam untuk meninggalkan penggunaan rasio dalam menuntut ilmu!

Walhasil, lembaga-lembaga pendidikan dalam hal ini madrasah lebih memfokuskan diri pada pengkajian ilmu-ilmu tanziliyah saja seperti Ilmu Fiqh untuk mencetak para Qadhi, Tasawuf untuk menetak Qadhi, dst. Dan tradisi ini terus berlanjut sampai saat ini seperti yang terjadi di salah satu representasi lembaga pendidikan Islam; pondok pesantren.

Selain kenyataan sejarah di atas, imprealisme dan kolonialisme Barat terhadap dunia Islam yang mengakibatkan kekacauan dalam bidang politik, sosial dan ekonomi juga memiliki peran yang sangat besar dalam memperkuat paradigma dikotomi ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam. Untuk melanggengkan kekuasannya di daerah penajajahan, Barat membangun sistem pendidikan sekuleristik dimana sains mereka pisahkan dengan agama. Sekolah-sekolah bentukan pemerintahan kolonial hanya memuat mata pelajaran ‘umum’ saja dan tidak mencantumkan mata pelajaran agama. Hal ini berimbas sangat besar dengan lahirnya generasi Muslim yang teralienasi dari dasar-dasar keislaman mereka karena hasil dari sistem pendidikan tersebut. Lucunya, sistem pendidikan sekuleristik seperti ini masih tetap berlangsung meskipun secara fisik Barat telah ‘menyelesaikan’ misi imprealismenya di dunia Islam. Lihat saja bagaimana mata pelajaran Biologi, Fisika, Kimia, Ekonomi dan lainnya dibuat seolah-olah terpisah dari agama!

Kondisi sosial umat Islam pasca penyerangan Bangsa Mongol ke jantung peradaban Islam dan semakin menyelewengnya sultan-sultan kerajaan Muslim dari ajaran Islam juga sangat berperan dalam membawa sistem pendidikan Islam pada jurang kehancuran selama berabad-abad lamanya, yang serta merta membawa dampak sistemik pada seluruh sendi kehidupan masyarakat muslim.

Menyalakan Kembali Cahaya Islam

Tak pelak lagi usaha untuk menghilangkan dikotomi ilmu pengetahuan di kalangan muslim awam adalah kewajiban setiap intelektual Muslim. Cahaya-cahaya Islam yang sempat redup harus kita raih kembali dengan kerja keras sehingga bisa bersinar kembali. Pendidikan dalam hal ini memiliki peran kunci sebagai katalisator dari usaha kita ini.

Selain itu, perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat di dunia Barat dewasa ini tentunya tidak boleh serta merta kita campakkan karena itu adalah bagian dari sejarah perkembangan ilmu pengetahuan. Kita tahu bahwa kebangkitan Barat sedikit banyak merupakan kepanjangan tangan dari peradaban Islam. Kegigihan Barat untuk menguasai alam semesta harus kita tiru dengan beberapa catatan di dalamnya. Salah satu catatan yang urgen kita lakukan adalah dengan usaha Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemprer sebagaimana yang diusung oleh Al-Attas yang bertitik tolak dari dewesternisasi ilmu pengetahuan. Dalam artian apa yang berasal dari Barat harus mampu kita filter sehingga tidak bertentangan dengan koridor ajaran Islam. Dengan ini, insya Allah, cahaya Islam yang redup akan bersinar kembali. Amin.

Wallahu A’lam.

*Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMA Terpadu Riyadlul-‘Ulum Kota Tasikmalaya dan Ketua Tim Pengembang Sekolah.

7 thoughts on “Pendidikan Islam dan Dikotomi Ilmu Pengetahuan

  1. rumahbelajaribnuabbas

    Bismillah. Menurut saya bukannya tak ada dikotomi ilmu di dalam Islam. Tetapi cara pandang terhadap ilmu itulah yang telah menciptakan dikotomi yang keliru dan tidak tepat. Dan demi mengembalikan cara pandang yang tepat terhadap ilmu, marilah kita menggunakan istilah “ilmu syar’iy/agama” untuk ilmu-ilmu yang berkaitan langsung dengan penegakkan syari’at Islam, kemudian “ilmu ghairu syar’iy/dunia” (-bukan ilmu umum-) untuk ilmu-ilmu yang tidak berkaitan langsung dengan penegakkan syari’at Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s