Sekolah Muslim Versus Sekolah Islam

Moh. Syahruzzaky Romadloni
Universitas Siliwangi, Tasikmalaya

Dewasa ini, pasca runtuhnya Order Baru, berjamuran sekolah-sekolah berlabel Islam di Indonesia. Ini adalah berkah dari reformasi yang membuka kran kebebasan selebar-lebarnya bagi rakyat Indonesia untuk mengekspresikan keyakinan mereka. Sayangnya, sekolah-sekolah berlabel Islam tersebut, menurut pengamatan penulis, sebagian besar maju dalam kuantitas sedangkan kualitas masih kalah bersaing dengan sekolah-sekolah negeri maupun misionaris Kristen meskipun dalam beberapa kasus ada beberapa sekolah berlabel Islam yang menjadi leading di daerahnya masing-masing karena kualitas yang ditawarkan pada masyarakat. Hal ini cukup menggemberikan mengingat ummat Islam Indonesia kini tidak perlu lagi menggadaikan akidah dengan menyekolahkan putra-putri mereka ke sekolah misionaris demi untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, toh kini bertebaran sekolah berlabel Islam yang juga memberikan pendidikan lebih baik.

ang cukup melegakan pula, menjamurnya sekolah-sekolah berlabel Islam yang memiliki kredibiltas tinggi diimbangi dengan semakin mudahnya kita menemukan perguruan tinggi Islam yang mampu bersaing dengan perguruan tinggi negeri dan misionaris. Kran reformasi semakin membuka mata para pengelola pendidikan tinggi Islam untuk fastabiqul khairaat dalam meningkatkan kualitas lembaga mereka sehingga para outcomenya mampu bersaing dengan lulusan perguruan tinggi lain. Walhasil, ada beberapa universitas Islam, meskipun jumlahnya belum signifikan, yang memberikan mutu dan pelayanan sangat baik bagi para mahasiswanya.

Nyatanya semakin menjamurnya lembaga pendidikan berlabel Islam menyisakan banyak pertanyaan-pertanyaan yang bersifat mendasar. Apakah memang benar lembaga pendidikan tersebut mengusung nilai-nilai keislaman dalam menjalankan roda pendidikannya sehingga layak disebut sebagai lembaga pendidikan Islam (Islamic educational institution) atau justru hanya merupakan kumpulan para pendidik yang beragamakan Islam dan bersiswakan Muslim dan menomorduakan nilai-nilai Islam sehingga lebih pantas disebut sebagai lembaga pendidikan Muslim (Muslim education institution)? Nampaknya hal ini memerlukan penelaahan yang lebih dalam agar kebahagiaan kita dengan fenomena menjamurnya sekolah berlabel Islam tidak menjadi semu dan sia-sia.

Penelaahan pertama tentang sekolah Islam harus diarahkan pada nilai-nilai yang diusung oleh suatu lembaga pendidikan yang meliputi: visi, misi dan tujuan. Sebagaimana kita ketahui bahwasanya nilai-nilai yang dimiliki sebuah lembaga pendidikan adalah potret mendasar yang menjiwai seluruh aktivitasnya. Nilai-nilai tersebut adalah ruh atau jiwa dari seluruh warga sekolah. Tatkala ruh yang terkandung di dalamnya telah rusak, maka sudah dapat ditebak bahwa seluruh komponen lainnya dari lembaga pendidikan tersebut akan otomatis rusak dan berimplikasi langsung terhadap output dan outcomenya. Maka penilaian nilai-nilai tersebut memiliki peran yang sangat sentral dalam menentukan Islamikah lembaga pendidikan tersebut.

Tentunya sebagai turunan dari filsafat pendidikan Islam, nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah lembaga pendidikan harus merupakan pengejawantahan dari grand design filsafat pendidikan Islam di atasnya. Tatkala sebuah lembaga pendidikan ‘Islam’ ternyata memasukan unsur nilai yang tidak sesuai dengan filsafat pendidikan Islam, tentunya kita tidak dapat serta merta menyebut sekolah tersebut sebagai bagian dari lembaga pendidikan Islam. Sinkronisasi antara nilai-nilai lembaga pendidikan dengan filsafat pendidikan Islam mutlak terjadi karena bila hal itu gagal dilakukan maka jiwa dari lembaga pendidikan tersebut telah tercerabut. Dan bila hal itu terjadi maka sendi-sendi lembaga tersebut akan serta merta tidak Islami.

Setelah penelaahan terhadap nilai-nilai lembaga pendidikan dilakukan, maka kita lanjutkan dengan meneliti konten mata pelajaran yang ditransferkan kepada peserta didiknya. Seringkali kita menemukan sekolah ‘Islam’ yang ada di Indonesia belum mampu mengislamisasikan konten yang mereka berikan kepada peserta didiknya. Sungguh tragis ketika kita dengan mudah menemukan para pelajar Islam tercerabut dari akar-akar keislaman mereka justru di lembaga-lembaga pendidikan ‘Islam’. Konsep ilmu yang diajarkan kepada mereka ternyata adalah konsep yang disodorkan oleh Barat yang menyimpang dari fondasi akidah agama Islam. Bagaimana mungkin seorang pelajar Islam belajar dan meyakini konsep ekonomi kapitalis yang berlandaskan unsur ribawi, teori evolusi Darwin, dan konsep politik sekuler di lembaga-lembaga pendidikan ‘Islam’ padahal Islam sendiri sudah memiliki bangunan konsep-konsep tersebut dengan mapan. Dengan begitu mereka merasa inferior dengan apa sesungguhnya telah mereka miliki. Sungguh sangat tragis, pelajar Muslim teralienasi dan menjadi inferior di lembaga pendidikan ‘Islam’!

Kesadaran akan mengislamisasikan konten mata pelajaran di lembaga pendidikan Islam nampaknya belum banyak terjadi. Seringkali pendidikan pelajaran-pelajaran ‘umum’ dipisahkan dengan nilai-nilai pandangan hidup Islam. Mata pelajaran umum diajarkan dengan metodologi dan konsepsi Barat tentang ilmu. Ilmu-ilmu ‘keagamaan’ didesain sedemikan rupa supaya kelihatan tidak ada hubungannya sama sekali dengan ilmu-ilmu ‘umum’. Maka wajar bahwa lembaga pendidikan Islam tersebut tidak menjawab persoalan dikotomis tentang ilmu. Dan dengan sendirinya model pendidikan seperti ini mengamini program sekulerisasi lembaga pendidikan Islam. Hal ini pernah terjadi di lembaga pendidikan Islam terkemuka Aligarh di bawah bendera pendirinya, Sayyid Ahmad Khan.

Program islamisasi ilmu pengetahuan yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam mutlak dilakukan. Tanpa itu, cita-cita filsafat pendidikan Islam untuk membentuk insan kamil yang beradab tidak dapat diraih. Nampaknya perlu ada semacam konsorsium pendidikan Islam yang dikelola bersama, mengingat program ini bukanlah persoalan sepele yang dapat dipecahkan dalam tataran mikro.

Selanjutnya, aktivitas-aktivitas lembaga pendidikan tersebut sebagai implementasi dalam tataran praksis nilai-nilai pendidikan Islam perlu dimonitoring agar pelaksanaannya tidak jauh panggang dari api. Seringkali kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh stakeholders lembaga pendidikan Islam melenceng dari jati diri pendidikan Islam itu sendiri. Salah satunya adalah pendekatan bahwa lembaga pendidikan Islam adalah sebuah lembaga profit yang bertujuan untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya tanpa harus harus berkorban secara maksimal. Prinsip-prinsip bisnis modern diterapkan secara membabi-buta sehingga sekolah Islam menjadi lahan kapitalisme baru. Guru-guru pun yang tadinya berada pada posisi mulia sebagai warosatul anbiyaa bertransformasi menjadi buruh/kuli yang menggantungkan hidupnya pada akad jual beli ilmu.

Menuju Sekolah Islam

Eksperimen Sayyid Ahmad Khan yang melakukan modernisasi pendidikan Islam melalui lembaga pendidikannya, Aligarh adalah bukti dari tidak cocoknya sistem pendidikan yang hanya berlabelkan Islam tanpa mengindahkan nilai-nilai dasar yang terkandung dalam filsafat pendidikan Islam. Nampaknya Sayyid Ahmad Khan mengalami sindrom inferior dengan mengadopsi sistem pendidikan Barat secara membabi buta dan meninggalkan sistem pendidikan Islam yang dianggap sudah usang. Maka sistem pendidikan seperti ini, menurut Ismail Raji Al-Faruqi, hanya akan mencetak seorang Muslim yang teralenasi dari kepribadiannya sebagai Muslim.

Proses transformasi dari hanya sekedar sekolah Muslim menjadi sekolah Islam menurut penulis tidak akan berhasil tanpa melalui proses Islamisasi. Artinya, seluruh aspek dari sekolah tersebut baik dari filsafat, nilai-nilai, kurikulum, manajemen, administrasi, dan lain sebagainya harus berlandaskan fondasi-fondasi al-Quran dan Sunnah. Dari sini akan terpancar cahaya Islam secara mendarah daging dari semua komponen yang ada dari lembaga pendidikan Islam tersebut.

Dalam menetapkan visi, misi dan tujuannya, lembaga pendidikan Islam harus mengacu kepada pembentuk insan kamil yang beradab dan berorientasi kepada sa’adah fiddaroin. Manusia beradab adalah manusia yang ketika ilmunya bertambah akan merasa semakin kurang dan semakin mengerti bahwa ilmu Allah itu sangat luas dan mengantarkannya pada penghambaan yang total kepada Sang Pencipta. Mereka akan dengan semangatnya menginternalisasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan mereka, karena mereka yakin apa yang dilaksanakan di dunia akan berimbas kepada apa yang mereka dapatkan di akhirat. Unsur-unsur duniawi saling berkaitan dengan unsur ukhrowi. Mereka yakin bahwa addunya mazro’atul akhirah. Dunia adalah ladang beramal untuk kehidupan di akhirat kelak.

Sekolah Islam adalah lahan perjuangan dalam rangka mensyi’arkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat dan mengislamisasikan mereka. Di dalamnya terdapat guru-guru yang ikhlas mengajar dan menggantungkan amal pekerjaannya sebagai implementasi tunduk kepada Sang Pencipta. Sekolah Islam bukanlah ladang penghidupan sebagai tempat bersandar dalam meraih keuntungan-keuntungan duniawi, apalagi sebagai lembaga bisnis yang mengedepankan untung semata dengan melupakan nilai-nilai ideal pendidikan Islam.

***

Tentunya pembicaraan kita sekarang ini akan menjadi omong kosong dan hanya menjadi percakapan searah apabila kita tidak memandang Islam sebagai Weltauschaung yang harus menjadi landasan dalam memandang persoalan-persoalan dunia. Apabila anda percaya dengan sekulerisme atau memosisikan Islam hanya sebagai perangkat ibadah ritual maka dengan serta merta akan memandang tulisan ini sebagai sampah dan angan-angan. Anda serta merta akan berseloroh bahwa pandangan saya dalam tulisan ini hanya sekedar ide sampah merubah sekolah-sekolah publik menjadi majlis ta’lim. Bukan begitu?

Taman Ilmu,

Kamis, 2 Juni 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s