Pendewaan Aspek Kognitif dan Problematika Ujian Nasional

Syahruzzaky Romadloni
Universitas Siliwangi, Tasikmalaya

Dalam tulisan ini izinkan saya untuk (kembali) mengkritisi fenomena praxis pendidikan di Indonesia. Bukan, kawan, tidak bermaksud saya melontar kritikan-kritikan pendidikan yang terkadang pedas ini kecuali untuk perbaikan-perbaikan praxis pendidikan yang ada di negara kita tercinta ini, supaya kita tidak lagi menjadi bangsa yang disepelekan di kancah internasional. Tentunya perbaikan ini harus dimulai oleh para pioner praktisi pendidikan yang peduli terhadap mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa praktek pendidikan di Indonesia selama ini cenderung kepada pendewaan terhadap aspek kognitif dalam pembelajaran. Fenomena ini bukan hanya terjadi di level grass-root, akan tetapi telah mendarah daging dalam kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional. Masih terngiang dalam benak saya betapa saya dielu-elukan oleh guru-guru, orang tua, teman-teman dan saudara-saudara lainnya karena saya mendapatkan nilai-nilai besar dalam raport pembelajaran tanpa peduli bahwa saya memiliki beberapa kelemahan dalam bidang-bidang tertentu. Yang saya sayangkan, rekan-rekan saya yang memiliki bakat dalam bidang kesenian, kepemimpinan dan retorika dan kebetulan nilai mereka kecil-kecil harus puas dengan cibiran dari orang-orang di sekitarnya. Di sinilah bukti terjadinya pendewaan terhadap aspek kognitif dalam pembelajaran.

Dulu, tatkala mendapat pujian-pujian tersebut betapa sumringahnya saya karena saya dikategorikan sebagai orang ‘cerdas’ dalam pandangan mereka. Namun, semakin bertambah umur, saya tahu bahwa cerdas itu banyak macamnya. Dan realitas pun berkata bahwa teman-teman yang sering menjadi bahan cibiran ketika mendapatkan nilai raport yang banyak merahnya itu tidak lebih jelek dari saya bahkan banyak dari mereka yang lebih sukses. Mereka sukses bukan dengan otak mereka yang cerdas, tetapi ada banyak kecerdasan jenis lain yang membawa mereka meraih kesuksesan dalam hidup.

Lucunya, meskipun wacana kecerdasan majemuk telah menjadi tren dalam dunia pendidikan, bangsa ini masih mendewa-dewakan aspek kognitif dalam assesment pendidikan. Pemerintah masih berpihak berat sebelah pada aspek kecerdasan kognitif dalam menentukan kelulusan siswa. Hal ini dibuktikan dengan kuatnya hegemoni hasil ujian nasional, yang nota bene hanya mengetes aspek kognitif siswa, dalam penentuan kelulusan siswa SMP-SMA tahun ini.

Lalu cerita-cerita memalukan yang tahun-tahun sebelumnya terjadi akan kembali bermunculan mengiringi praktek ujian nasional tahun ini. Para Kepala Sekolah akan berlomba-lomba untuk membentuk tim sukses agar sekolah mereka selamat dari cercaan dan makian atasan mereka di Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten. Para kepala dinas merasa bertanggungjawab untuk menjadikan kota/kabupaten mereka terbaik dalam raihan nilai ujian nasional meskipun harus menempuh cara-cara yang biadab. Pun dengan Dinas Provinsi. Mereka tidak mau daerah mereka menjadi bahan cemoohan atau evaluasi dari kementerian pendidikan pusat. Mereka pun berusaha bagainamana caranya supaya tingkat kelulusan UN tinggi. Puncaknya, menteri pendidikan nasional pun ternyata mempunyai kepentingan untuk ‘menykseskan’ ujian nasional demi raihan rapor positif di hadapan Bapak presiden. Begitu dan seterusnya.

Alkisah ada perkumpulan antara dinas pendidikan dengan para kepala sekolah dan staf mereka di salah satu kota di Indonesia. Mereka melakukan rapat konsilidasi tentang schedule rententan ujian bagi siswa kelas XII SMA meluputi Ujian Sekolah, Ujian Praktek, dan Ujian Nasional. Disepakati bahwa hasil ujian sekolah dikumpulkan 10 hari sebelum Ujian Nasional ke Dinas Pendidikan. Ketika itu salah satu kepala sekolah bertanya kepada perwakilan dari dinas pendidikan kota, “Nilai yang dikumpulkan itu nilai murni atau 2 tax, pak?” Kontan perwakilan dari disdik kota menginstruksikan untuk mengumpulkan yang kedua, nilai 2 tax!

Maka sekarang bukan hanya pendewaan terhadap ranah kognitif saja yang menjadi masalah akan tetapi pengkultusan terhadap ego pribadi. “Kami ingin selamat,” kata kepala sekolah. “Kami ingin menjadi kota/kabupaten teladan,” tukas Bapak kepala dinas. Ego pribadi ini lantas menjadi gejala nasional menjelang pelaksanaan Ujian Nasional dan akan terus berulang apabila Kementerian Pendidikan Nasional melalui gurita pendidikannya, BNSP, tetap bersikukuh untuk melaksanaan ujian nasional sebagai salah satu syarat kelulusan siswa.

Tentunya yang menjadi korban dalam rententan kesalahan ‘orang tua’ ini adalah anak didik, siswa. Pertama, peserta didik menjadi korban malpraktik pendidikan dimana mereka hanya didiagnosis dan diapresiasi dalam ranah kognitif saja. Bagi mereka yang memiliki IQ rendah maka akan menjadi masyarakat nomor dua dalam lingkungan sekolah. Mereka harus puas dengan cercaan, penyepelean, penomorduaan dan yang lainnya selama memiliki label siswa di lembaga pendidikan.

Kedua, dengan pelaksanaan ujian nasional anak-anak tidak memiliki gairah belajar. Sudah menjadi rahasia umum, dan anak-anak pun sudah pada tahu, bahwa setiap sekolah memiliki ‘tim sukses’ yang merupakan pengejawantahan dari pihak disdik daerah dalam rangka mengamankan daerah mereka dari evaluasi pusat. Walhasil, anak emoh belajar, toh mereka pun yakin akan lulus ujian nasional. Dalam hal ini esensi ujian telah kabur. Salah satu fungsi ujian adalah untuk membelajarkan siswa. Maka ketika anak tidak mau belajar maka apalah artinya ujian kecali hanya untuk mengejar nilai tanpa makna. Dalam hal inilah saya merekomendasikan penghentian pelaksanaan ujian nasional.

Ide penghapusan ujian nasional yang tidak hanya cacat dalam ranah sosiologis – dimana terjadi banyak penyimpangan dan pembusukan di dalamnya, juga cacat dalam aspek filosofis – dimana hanya menguji aspek kognitif saja, kiranya perlu dipertimbangkan kembali saat momentum ujian nasional di ambang mata. Tentunya, hal ini harus berlandaskan kesadaran masif bahwa pendidikan Indonesia harus kita selamatkan dari ambang kehancuran. Sadarkah kita bahwa kita secara tidak sadar mengajarkan ketidakjujuran kepada anak-anak kita? Tidak merasa berdosakah kita melakukan malpraktek pendidikan dengan mendewakan kemampuan kognitif siswa? Dan dengan kesadaran ini pula saya yakin bahwa bangsa ini masih memiliki harapan untuk bangkit dari keterpurukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s