Mendesain Tujuan Pendidikan

Syahruzzaky Romadloni
Universitas Siliwangi, Indonesia

Konon, sebelum penciptaannya manusia pernah bersaksi kepada Allah subhanahu wa ta’ala bahwa Dia adalah Tuhan mereka (Al-A’raf:172). Janji ini menjadi fitrah manusia, bahwasanya ketika jiwa mereka ditiupkan dalam rahim dan lahir ke dunia ini, mereka dalam keadaan patuh dan tunduk kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Hal ini dibuktikan dengan ketaataan mereka terhadap aturan kosmos Allah SWT. Baru setelah mereka berintekrasi dengan ayah bunda serta lingkungan, mereka tersilap dari kesaksian yang mereka berikan dahulu. Akhirnya melencenglah mereka dari fitrah penciptaan. Begitu kata Rasullullah SAW dalam haditsnya.

Sifat asali manusia adalah bersaksi dan beriman akan keesaan Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka dari itu dalam Islam tidak ada istilah pembaptisan karena mereka dilahirkan dengan fitrah keimanannya. Dalam perpektif kita, manusia dikatakan meraih kemerdekaannya yang hakiki apabila dapat kembali kepada fitrah mereka: bersaksi dan beriman kepada Allah Sang Pencipta. Kemerdekaan dalam perspektif Islam bukan bebas sebebas-bebasnya dari pelbagai aturan dan mengikuti hawa nafsu manusia, karena hal itu cenderung mengarah ke perbuatan destruktif. Fakta dan sejarah telah banyak mengajarkan kita tentang itu.

Konsekuensi dari kesaksian dan keimanan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah taat dan tunduk terhadap aturan yang digariskan Allah subhanahu wa ta’ala bagi kesejahteraan manusia di muka bumi. Hal ini dapat dengan jelas dilihat dari aturan-aturan yang terdapat dalam al-Quran ‘kecil’ dan al-quran ‘besar’. Al-Quran ‘kecil’ adalah ayat-ayat Allah yang termaktub dalam mushaf yang sering kita baca sehari-hari sedangkan al-Quran ‘besar’ adalah ayat-ayat Allah yang terkandung dalam alam semesta beserta isinya. Selain itu, panduan praktis dari Rasulullah SAW melalui haditsnya juga dapat dijadikan pegangan dalam menjalani kehidupan.

Bagaimana dengan panduan yang berasal dari akal manusia, padahal Allah telah ‘bersusah payah’ memberikan anugerah tersebut bagi manusia dan dengannya menjadikan mereka spesial dari makhluk hidup yang lainnya? Tentunya kita akan dengan bijak menjawab bahwa produk akal manusia dapat digunakan untuk membuat peraturan di muka bumi selagi digunakan dengan perspektif pandangan hidup Islami yang sesuai dengan al-Quran dan sunnah. Jangan khawatir untuk tidak dapat mengeksplorasi ‘kebrilianan’ akal manusia karena toh kedua sumber utama itu hanya memberikan garis besar bagaimana seharusnya manusia hidup di dunia ini. Selanjutnya, akal manusia berperan besar dalam menafsirkan implementasi ayat-ayat tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dan itu lebih selamat, karena akal kita dibimbing oleh wahyu. Jadi tidak perlu ribut-ribut dengan sekulerisasi, menyimpan al-Quran dan as-sunnah dalam kehidupan pribadi setiap muslim, karena itu menunjukkan arogansi kita pada Sang Pencipta. Kok tidak mau diatur oleh Sang Pencipta, dasar tak tahu untung!

Menuju kemerdekaan yang hakiki itulah tujuan pendidikan harus dirumuskan mau kemana. Hendaknya, pendidikan yang kita berikan kepada anak didik kita membimbing mereka pada fitrah dan memperingatkan mereka apabila sewaktu-waktu menyimpang dari kesaksian yang telah diberikan ketika ruh ditiupkan. Pendidikan harus membuat manusia semakin memperbaharui keimanan dan komitemen mereka akan tunduk dan patuh terhadap aturan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Semakin mereka tahu, semakin mereka menyadari kekurangan mereka dan betapa luasnya ilmu Allah, bukan sebaliknya, semakin mereka congkak dan tidak mau patuh terhadap aturan Tuhan.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang menitik beratkan pada keberhasilan setiap individu untuk menjadi manusia sempurna (insan kamil)  dan beradab. Pendidikan yang mencetak insan kamil merujuk kepada pendidikan holistik, dalam artian proses pendidikan terjadi di seluruh aspek manusia baik itu kognitif, psikomotorik, afektif, spiritual dan lain sebagainya. Menyeluruh dan tidak setengah-setengah. Sedangkan pendidikan yang mencetak manusia beradab memiliki semangat untuk membimbing manusia pada fitrahnya yang hakiki, yaitu kesaksian terhadap keesaan Allah Subhanahu wa ta’ala. Selain itu insan beradab juga senantiasa melihat sesuatu dalam perspektif keadilan menyimpan sesuatu pada tempatnya yang proporsional.

Lalu bagaimana sistem pendidikan holistik itu bisa diterapkan? Tentunya praxis pendidikan nasional yang kita temui di negara kita tidak dapat dijadikan sebagai model pendidikan holistik karena sangat menitikberatkan pada kemampuan kognitif siswa. Pendidikan holistik tidak dapat diterapkan apabila implementasinya telah direduksi menjadi sekumpulan pelajaran yang dibonsai dalam sekat kelas, sekolah dan waktu meskipun dalam tataran praktis pendidikan tersebut dapat disimpan di tempat-tempat tersebut asal tidak ada proses pembonsaian dan tetap memperhatikan hal-hal esensial dari pendidikan holistik.

Maka seharusnya pendidikan holistik harus bertumpu pada ciri totalitasnya dimana seluruh elemen yang ada dalam lingkungan peserta didik diarahkan pada proses penciptaan lingkungan pendidikan (albiah atarbawiyah). Apa yang didengar, dilihat dan dirasakan oleh peserta didik haruslah bagian dari proses pendidikan yang membing mereka secara konstan ke arah yang lebih baik. Pihak pengelola pendidikan harus bekerja sekuat mungkin secara kreatif untuk mentransformasikan hal-hal yang secara sekilas tidak ada hubungan dengan proses pendidikan menjadi salah satu komponen yang ikut serta mendidik para peserta didik.

Untuk lebih jelasnya, saya berikan contoh. Sekilas kegiatan antri di Kantor Tabungan Pelajar adalah perihal sepele dan tidak ada kaitannya dengan proses pendidikan, tetapi apabila pihak pengelola pendidikan jeli dalam memandang kegiatan remeh ini ternyata di dalamnya terdapat proses pendidikan akhlak yang sangat banyak. Dengan membudayakan sikap antri, berarti sekolah secara tidak langsung mendidik peserta didik untuk bersikap sabar dalam meraih cita-cita mereka. Selain itu, budaya tertib dalam beraktivitas akan tumbuh di benak para peserta didik. Dan yang lebih penting adalah penanaman sikap jujur dalam kondisi sulit sekalipun. Kita tahu bahwa dalam antri seringkali kita ingin cepat-cepat sampai pada ujung antrian, meskipun hal itu harus dilakukan dengan hal-hal yang biadab. Nah, jelas bahwa dari hal sepele seperti kegiatan antri, kita bisa menyisipkan aspek-aspek pendidikan yang memiliki peran signifikan dalam perkembangan peserta didik. Dan kita memiliki banyak contoh untuk merealisasikan hal tersebut.

Terwujudnya cita-cita pendidikan holistik tidak akan tercapai apabila pola pikir bahwa pendidikan identik dengan kursi, bangku dan pengajaran searah guru-murid dihapus dari benak para stakeholders pendidikan. Pendidikan tidak cukup dengan itu saja. Pendidikan seyogyanya didefinisikan secara luas dimana proses pendidikan dengan totalitasnya digiring ke arah usaha mendidik para peserta didik. Maka, hal ini berimbas pada penggunaan secara paksa terma-terma ‘non-pendidikan’ menjadi identik dengan proses pendidikan itu sendiri. Pendidikan adalah penugasan, dimana ketika para peserta didik mendapatkan tugas, lalu mengerjakannya dan menyelesaikannya adalah juga bagian proses pendidikan. Pendidikan juga adalah proses pembiasaan, pemaksaan, pemberian hukuman, dan pemberian pujian bagi setia peserta didik. Terma-terma ini digunakan tidak lain adalah untuk memberikan defenisi seluas-luasnya bagi proses pendidikan agar pendidikan holistik dapat terwujud.

Pada awalnya, pendidikan harus memfokuskan diri pada pembentukan individu-individu supaya menjadi insan kamil dan beradab seperti yang telah dibahas di muka tulisan. Lalu, ketika individu-indivdu peserta didik telah memahami dan menghayati kemanusiaan mereka, hendaknya mereka digiring pada orientasi pendidikan kemasyarakatan. Hal ini penting mengingat Rasulullah SAW pernah berujar bahwa manusia yang terbaik di antara kita adalah mereka yang bermanfaat bagi sesamanya. Outcome pendidikan tidak boleh menjadi menara gading yang melangit tercerabut dari akarnya. Insya Allah model pendidikan seperti ini akan mashlahat bagi kemajuang ummat. Amien.

*Terima kasih kepada Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan Kyai-kyai Gontor yang telah mengenalkan penulis sistem pendidikan seperti ini.

15 April 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s