Menengok Kembali Peran ‘Tradisional’ Sang Ibu: Refleksi Hari Ibu 2010

M. Syahrul Zaky Romadloni, pendidik

Hari ini adalah hari ibu. Peringatan yang telah berlangsung sejak ditetapkannya oleh presiden Soekarno pada tahun 1959 ini menyisakan banyak refleksi bagi kita dalam berbagai hal, termasuk signifikasi peran ibu dalam membangun peradaban bangsa, terutama pendidikan keluarga. Namun, beberapa fenomena masa kini terasa sangat menyesakkan dada, terutama tingah laku para pengusung kesetaraan gender, yang mulai mengsubordinasikan peran ibu dalam institusi keluarga. Alih-alih memperjuangkan hak kaum perempuan, mereka malah berpotensi merusak generasi bangsa ini.

Saat ini peran domestik ibu dalam institusi keluarga mulai diabaikan. Tidak sedikit kaum perempuan yang menganggap remeh peran mereka dalam membangun peradaban bangsa dari unit terkecil. Aktivitas para pengusung kesetaraan gender nyatanya telah berhasil membuat suatu wacana bahwa pekerjaan mendidik anak-anak dalam institusi keluarga adalah sebagai pekerjaan hina, yang kata mereka, memosisikan perempuan pada level paling rendah manusia. Tentunya, oleh mereka logika dijungkir balikan.

Sebagai seorang pendidik yang mengelola lembaga pendidikan selama beberapa tahun, saya menemukan betapa ibu memiliki peran yang signifikan dalam membangun generasi bangsa yang beradab. Namun sayangnya, peranan tersebut sedikit demi sedikit mulai tergerus dan banyak ditinggalkan. Saya menemukan sebuah indikasi bahwa kebanyakan peserta didik saya yang ‘gagal’ adalah mereka yang memiliki pendidikan yang sangat buruk dalam institusi keluarga dikarenakan beberapa hal seperti broken home, ibu dan bapak yang telalu sibuk bekerja, perselingkuhan dan percekcokan keluarga, dan lain sebagainya. Suatu waktu, saya menemukan salah seorang murid saya kabur dari pesantren sebagai bentuk protes kepada orang tuanya yang sama-sama sibuk bekerja, dan kalau toh ada di rumah mereka sering mempertontonkan pertengkaran di hadapan anaknya. Dalam hal ini anak lah yang menjadi korban.

Peranan ‘tradisional’ ibu seakan berada pada titik nadir ketika banyak kaum perempuan memutuskan untuk meninggalkan rumah dan menghabiskan sebagian banyak harinya di kantor. Kalau sudah begini, siapakah yang mendidik anak-anak mereka tentang akhlak terpuji, keperibadian baik, tata krama, disiplin dan agama di rumah? Lalu siapakah yang memberikan balutan cinta kasih dan ASI bagi anak-anak mereka yang nota-bene hal tersebut sangat membantu perkembangan anak? Akhirnya mereka cukup menitipkan anak mereka pada babysitter yang ‘hanya’ berpendidikan SD, guru-guru di play group dan sekolah full day school, nenek mereka dan institusi lainnya. Kalau sudah begini, jangan salahkah kalau anak kita enggan untuk berterima kasih kepada kita apabila mereka telah besar.

Baik, saya bukannya hendak memosisikan kaum perempuan berujung pada satu profesi saja yaitu Ibu Rumah Tangga, tidak-tidak sama sekali, dan kalau ada pendapat seperti itu saya juga berada pada barisan terdepan yang menentangnya. Kaum perempuan juga adalah manusia yang memiliki derajat dan potensi yang sama dengan kaum laki-laki. Tentunya juga kaum perempuan berhak untuk mengembangkan potensi tersebut seperti halnya kaum laki-laki. Yang ingin saya garis bawahi di sini adalah hendaknya seorang ibu, sesibuk apapun, tidak melupakan tugas mulia mereka dalam mempersiapkan tunas-tunas bangsa dalam institusi pendidikan keluarga. Tanpa mengebiri peranan seorang ayah, nampaknya seorang ibu memiliki insting dan anugerah lebih baik dalam mendidik seorang anak. Dan oleh sebab itu saya hendak memberikan beberapa saran bagaimana seorang ibu memerankan peran mereka dengan baik sebagai the first school and guru for our children.

***

Merupakan suatu pendapat ‘tradisional’ bahwa seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Kata ‘pertama’ di sini bisa dilihat dari dua sisi; masa-masa pertama pertumbuhan anak dan materi-materi pertama yang anak dapatkan dalam proses pendidikan. Tentunya, apabila seorang ibu berkomitmen untuk menjadi pendidik yang baik, hendaknya dia memberikan yang terbaik pula dalam dua hal tersebut.

Dalam dunia psikologi perkembangan dikenal istilah ‘golden age’ yang berarti masa emas yang dimiliki oleh setiap anak. Masa ini sangat penting karena terjadi perkembangan dan pertumbuhan yang cukup signifikan pada diri anak-anak kita dimana terjadi pertambahan berat otak, pertambahan sel otak, dan pertambahan koneksi antar sel otak. Beberapa penelitian menyebutkan, bahwa jumlah sel dan koneksi antar sel mempengaruhi tingkat kecerdasan seorang anak.

Dalam beberapa literatur yang pernah saya baca, masa emas adalah masa yang sangat potensial bagi orang tua untuk menumbuh kembangkan seluruh potensi yang dimiliki oleh anak-anaknya; potensi jasmani, rohani, sosial, intelektual, dan lain sebagainya. Dan yang membuat saya tertarik ternyata pendidikan pada fase ini akan memiliki pengaruh bagi kehidupan anak tersebut di fase-fase kehidupan setelahnya.

Mungkin anda masih ingat cerita tentang seorang bapak dan anaknya yang sedang jalan-jalan di sebuah taman kota. Mereka sangat menikmati perjalanan itu karena taman tersebut berhiaskan bunga-bunga yang sangat indah. Namun, di salah satu bagian dari taman, sang anak menemukan sebatang pohon mawar yang memiliki bunga yang indah, namun sayangnya, memiliki dahan yang bengkok. Sang anak pun bertanya pada ayahnya kenapa dahan tersebut bengkok, tidak seperti pohon lainnya. Sang ayah pun menjawab bahwa hal itu terjadi karena pemilik pohon tersebut membiarkan dahan bengkok ketika pohonnya masih kecil. Namun, tatkala si anak memberi saran pada ayahnya untuk meluruskan dahan tersebut, sang ayah tertawa kecil dan menjawab bahwa suatu kemustahilan untuk bisa meluruskan dahan bengkok tersebut karena pohonnya sudah beranjak dewasa. Kalau pun bisa, toh dahannya pasti bakalan patah.

Cerita di atas tentunya sangat relevan untuk diangkat dalam konteks perkembangan anak pada masa emas. Bahwa pendidikan pada masa kecil sangat mempengaruhi keadaan seseorang di masa yang akan datang. Seringkali para psikater harus trace back ke masa kecil pasiennya ketika mencoba untuk memberikan solusi bagi permasalahan kejiwaan sang pasien, karena seringkali permasalahan kejiwaan seorang insan disebabkan oleh kurang kondusifnya pendidikan yang ia dapatkan pada masa kecil.

Lalu apa yang seharusnya seorang ibu, tentunya disertai dukungan bapak, berikan pada anaknya mengingat dia adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya pada masa emas mereka? Tentunya jawaban dari pertanyaan tersebut harus disertai dengan keyakinan bahwa sentuhan pertama yang baik akan memberikan kehidupan yang lebih baik.

Masa anak-anak yang sangat potensial dalam menekankan ajaran-ajaran dan keyakinan hendaknya digunakan oleh seorang ibu untuk menanamkan akidah dan perilaku keagamaan ‘universal’ bagi anak-anaknya. Bagaimana dia memosisikan dirinya sebagai agen yang mengajarkan ajaran dan anjuran keagamaan universal seperti: kejujuran, kerja keras, akhlak baik, saling menghormati, toleransi, suka memberi dan lain sebagainya.

Tentunya penanaman nilai-nilai tersebut hendaknya disampaikan dengan cara halus dan elegan. Di sini peran qudwah hasanah, memberikan contoh yang baik, adalah metode efektif dalam menanamkan nilai-nilai tersebut dalam benak anak-anak. Hal ini disandarkan pada sebuah fakta dalam ilmu psikologi bahwa anak-anak masih belum bisa mencerna hal-hal yang bersifat abstrak akan tetapi baru bisa meraba hal-hal yang visible secara indrawi.

Disamping itu, asupan nutrisi makanan bagi anak-anak juga memberikan peran yang sangat signifikan dalam proses perkembangan dan pertumbuhan mereka. Hendaknya, ibu yang baik mengetahui macam makanan apa yang harus dia kasih atau kesampingkan bagi anak-anaknya, karena nutrisi makanan akan sangat memengaruhi perkembangan otak mereka. Kita melihat anak-anak yang mendapatkan asupan gizi yang baik akan lebih unggul daripada mereka yang mendapatkan asupan yang kurang.

Tentunya, seorang ibu juga harus piawai dalam memperlakukan anak-anaknya secara psikologis. Jangan sampai perlakuan ibu mematikan potensi-potensi anak sejak dini. Pandangan-pandangan salah tentang cara mengasuh anak seperti sikap overprotektif hendaknya dihindari. Hal ini mengingat pandangan-pandangan tersebut justeru mengebiri potensi mereka sejak dini.

***

Tulisan ini memang kalau dilihat dari kacamata materialistik seakan sangat menindas kaum perempuan. Bagaimana tugas-tugas ‘tradisional’ yang saya tulis di atas memberikan beban yang sangat berat bagi kaum hawa untuk mengembangkan dan mengepakan sayap-sayap potensi mereka.

Apabila pendapat tersebut sejenak berkelebatan di hadapan anda maka saya akan balik bertanya: Lalu siapa yang akan mendidik anak-anak kita dalam instutusi keluarga kalau bukan seorang ibu yang telah diberikan insting dan keperigelan yang sangat baik dalam mendidik anank-anaknya sebagaimana saya akan bertanya siapakah yang akan mendidik anak-anak kita dalam institusi sekolah kalau bukan seorang guru yang telah menjalani pendidikan di fakultas keguruan?

Dan selanjutnya saya akan bertanya lagi: apakah anda siap bertanggungjawab terhadap kelangsungan generasi muda bangsa ini apabila ibu-ibunya dan guru-gurunya emoh untuk mendidik dengan tulus ikhlas anak-anak mereka? Kalau tidak, sebaiknya anda pertimbangkan tulisan saya ini!

Taman Ilmu,

22 Desember 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s