Guru dan Fenomena Materialisme: Refleksi Hari Guru 2010

M. Syahruzzaky Romadloni, pendidik

Adalah sebuah kesedihan bagi saya bahwasanya kita sekarang ini hidup di sebuah sistem kehidupan yang menggerus aspek-aspek ruhani sebagai salah satu aspek integral manusia. Nampaknya memang materialisme telah menjadi pilihan final manusia modern saat ini dengan melupakan sisi-sisi transedental mereka. Kalau begitu saya agak sedikit percaya bahwa tesis Francis Fukuyama dalam the End of History-nya memanglah sebuah kenyataan yang menyeruak dalam kehidupan di sekeliling kita.

Praktik kehidupan materialistik masuk meresap ke seluruh nadi kita. Yang tidak bersifat material akhirnya harus dibuang dengan berbagai alasan, tidak tangible lah, atau tidak measured lah, dan berbagai macam alasan lainnya. Menarik sekali bahwa konsep Barat tentang ‘visi’ sebuah lembaga atau organisasi ternyata menghilangkan hal-hal yang tidak terukur [unmeasured] dan hal itu berarti menghilangkan sisi-sisi ruhani yang memang tidak dapat diukur dan tidak terlihat. Padahal konsep ini diamini oleh para mahasiswa yang mengambil kuliah-kuliah di bangku S3 dan S2 di berbagai universitas.

Sebagai bagian dari globalisasi dan generalisasi fenomena ini, dunia pendidikan kita tidaklah merupakan sebuah pengecualian. Sisi materialistis begitu diagung-agungkan dan menjadi prioritas utama dalam pengambilan kebijakan-kebijakan pendidikan [educational policies] oleh pemerintah. Sebaliknya, sisi-sisi keruhanian mulai sedikit-sedikit tergerus dan hilang dari pembicaraan para praktisi dan teoritikus pendidikan kita.

Dan ternyata, fenomena global ini ikut menjangkiti korps guru yang memiliki peran vital sebagai garda terdepan sukses atau tidaknya pendidikan bagi anak-anak kita. Bagaimana tidak, kita dapat melihat dengan jelas bahwa sisi matarialistik telah menjadi darah daging bagi kebanyakan guru Indonesia. Sisi-sisi ruhani yang dulu menjadi trademark mereka kini telah hilang terkikis dimakan zaman. Guru yang ikhlas berdedikasi dan berkorban nampaknya dapat dihitung dengan jari kalau tidak untuk mengatakan tidak ada sama sekali.

Dan hal ini nampaknya tidak disadari sama sekali oleh pemerintah kita dalam hal bagaimana menyikapi kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh guru-guru kita dan penanganannya untuk perubahan yang lebih baik. Lihat saja bagaimana pemerintah kita berkesimpulan bahwa ketidakprofesionalan guru kita ini adalah diakibatkan oleh rendahnya gaji mereka yang berimplikasi pada kinerja. Program sertifikasi guru dan peningkatan gaji pokok adalah solusi yang dipilih oleh pemerintah dalam mengurai benang kusut permasalahan yang melingkupi guru Indonesia. Maka, dapat kita lihat dengan jelas bahwa memang pemerintah kita ini memakai premis-premis materialistik dalam menyelesaikan problematika ini.

Dapat dengan jelas saya melihat guru kita memang merupakan korban dari kebijakan filosofis yang pemerintah pilih. Sebagai pengelola lembaga pendidikan yang masih peduli dalam pendidikan keruhanian bukan hanya bagi peserta didiknya tapi juga bagi para pendidiknya, saya melihat guru kita selalu memakai pendekatan materialistik dalam menjalankan tugas-tugasnya. Saya harus berkali-kali mengelus dada ketika guru-guru kita yang terhormat ini saling tunjuk menunjuk ketika disodori sebuah ladang amal dalam menekuni tugasnya. Mereka dapat saja berkilah tidak ada amplopnya lah, atau insentifnya sangat kecil lah, sehingga pendekatan materialistik bekerja dalam kasus ini. Maka dalam hal ini insentif ruhani berupa kepuasan, dedikasi, perjuangan bahkan ganjaran yang Tuhan berikan bagi mereka seakan menutupi mata mereka.

Dan yang lebih membuat hati saya pilu adalah ketika mereka mempermasalahkan insentif materialistik yang lembaga berikan sebagai salah satu bentuk apresiasi bagi pekerjaan mereka. Atau tatkala mereka mempermasalahkan ‘si A dapat insentif lebih besar dari saya’ tanpa instropkesi terhadap kinerja diri. Atau tatkala bentuk-bentuk apresiasi duniawi yang minimal itu membuat mereka merasa enggan untuk memberikan yang terbaik dalam mendidik anak-anak kita untuk kehidupan yang lebih baik.

Saya tidak menafikan bahwa guru pun manusia yang harus bekerja untuk mengisi perut dirinya dan keluarganya namun apakah hidup kita ini didedikasikan hanya untuk makan? Saya pun tahu bahwa guru pun harus diberi penghargaan duniawi yang cukup agar mereka dapat fokus pada pekerjaannya dalam mendidik, namun apakah insentif yang relatif kurang itu menjadi alasan untuk memberikan yang terbaik bagi umat? Jika jawaban dari kedua pertanyaan itu ya, maka derajat guru itu tidak semulia apa yang dia keluarkan dari apa yang ia makan [saya minta maaf dalam memakai analogi ini].

Baik kembali pada permasalahan kita. Hendaknya premis-premis materialistik yang merupakan ciri khas dari nilai-nilai Barat kita hilangkan apabila kita mempunyai cita-cita untuk meraih tujuan pendidik dalam mencetak manusia-manusia yang baik. Ketika saya belajar ilmu pendidikan di bangku sekolah menengah saya pernah mendapatkan sebuah adigum yang sangat menarik yang berbunyi:

Cara lebih penting daripada materi. Guru lebih penting dari cara. Dan ruh guru lebih penting daripada guru itu sendiri.

Pernyataan terakhir dari adigum tersebut yang membawa saya pada sebuah kesimpulan bahwa selama ruh guru luput dari perbincangan pemerintah dalam mengurai benang kusut permasalahan pendidikan kita, maka apa yang pemerintah lakukan hanya akan menjadi sebuah tragedi sebagaimana yang terjadi di dunia barat. Atau bahkan apa yang pemerintah lakukan akan menjadi buah simalakama; maju kena, mundur pun kena. Memang, saya tidak menafikan bahwa permasalah akan selalu ada dalam praktis pendidikan, namun setidaknya pertarungan kita dengan permasalahan pendidikan dapat keluar dari zona permasalahan filosofis ke zona permasalahan teknis yang tidak memiliki dampak sistemik bagi peserta didik kita.

***

Ada kekhawatiran dalam benak saya bahwa apabila hal ini dibiarkan berlarut-larut maka akan menjadi sebuah gunung es yang sewaktu-waktu akan meledak. Tujuan pendidikan kita akan diobrak-abrik. Praktik pendidikan kita akan dihancur luluh lantahkan. Alumni-alumni pendidikan kita akan menjadi seorang materilalis yang tidak memahami aspek transenden dalam diri mereka dan makna mereka sebagai makhluk sosial yang memiliki tanggunjawab sosial dalam pengembangan ummat.

Maka, dalam tulisan-tulisan saya [kemarin, hari ini dan esok] tentang refleksi identitas kita sebagai pengajar, guru, dan pendidik [muaddib], saya akan tetap konsisten pada sebuah pendidirian bahwa sisi-sisi transenden harus diutamakan sebagai bagian integral dari konsep pendidikan. Karena saya yakin bahwa pendidikan itu adalah sebuah konsep integral yang harus bersatu padu antar setiap komponennya. Maka ketika fenomena pendidikan materilistik semakin menggejala dari hari kehari, izinkan saya sebagai orang terdepan untuk melawannya. Wallahu A’lam.

Taman Ilmu,

Tahun Baru Hijriah 1432 H

6:24

One thought on “Guru dan Fenomena Materialisme: Refleksi Hari Guru 2010

  1. arief sk

    Hal ini memang suatu kenyataan, jika para guru d lingkungan pesantren diberikn ‘kesejahteraan’ (walaupun tdk seberapa). Lalu bagaimana mrk (guru) yg mengajar n mendidik d sekolah2 umum?? Kita butuh solusi.
    Hanya usul, lembaga pemerintah harusnya mampu memperhatikan kesejahteraan para guru. Kesejahteraan dlm hal apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s