Selamat Datang Guru Masa Depan

M. Syahruzzaky Romadloni
Universitas Siliwangi, Tasikmalaya

Ada beberapa motif mengapa sebagian dari anak bangsa ini memutuskan untuk berkarir di dunia pendidikan, khususnya pendidikan Indonesia dewasa ini. Motif pertama, mungkin adalah keberpihakannya pemerintah, khususnya Kabinet Indonesia bersatu SBY saat ini, pada sektor pendidikan sehingga anggaran pendidikan meningkat tajam. Mereka yang terjun ke dunia pendidikan dengan bermodalkan motif pertama ini berharap ikut kecipratan berkah dari melimpahnya dana pendidikan. Motif kedua, adalah ketidaksengajaan atau juga ‘kecelakaan’ ketika sebagian dari anak bangsa ini melepaskan diri dari predikat sebagai siswa sekolah menengah untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Ada beberapa hal yang bisa membuat mereka ‘celaka’ seperti paksaan dari orang tua atau kurangnya informasi belajar di perguruan tinggi, sehingga mereka masuk ke fakultas pendidikan secara tidak sengaja. Terakhir motif ketiga, adalah motif idealisme di mana mereka memang mencintai dunia pendidikan dan semata-mata ingin berjuang dalam mencerdaskan anak bangsa. Orang yang bermotifkan ketiga ini biasanya memiliki jiwa keikhlasan dan perjuangan yang kuat dalam usaha untuk mencerdaskan ummat. Tanpa pamrih, mereka mendedikasikan hidup mereka untuk menjadi bagian dari solusi permasalahan ummat.

Akhir-akhir ini fakultas-fakultas pendidikan di beberapa universitas baik negeri maupun swasta kebanjiran mahasiswa. Profesi keguruan yang pada zaman dahulu tidak termasuk dalam profesi elit, kini banyak digandrungi oleh kaum muda bangsa ini. Profesi ini dalam beberapa hal mengalahkan beberapa profesi elit lainnya seperti dokter, polisi, dll.

Fenomena ini tidak lain adalah bentuk respon dari kebijakan pemerintah SBY yang memberikan stimulus segar dalam dunia pendidikan, terutama kucuran dana melimpah dalam dunia pendidikan. Setidaknya 20% dana APBN dialokasikan untuk dunia pendidikan. Belum termasuk kucuran dana segar dari APBD provinsi dan kota/kabupaten. Dalam tulisan saya beberapa waktu lalu, saya sempat menyatakan bahwa profesi pendidikan dewasa dibanjiri oleh beberapa tunjangan mulai dari fungsional sampai sertifikasi. Tentunya, dalam hal ini guru negeri meraup porsi besar karena pemerintah secara berkala menaikan gaji pokok mereka.

Maka wajar, profesi keguruan semakin diminati oleh jutaan penduduk Indonesia atas beberapa dorongan di atas. Mereka berpandangan bahwa profesi ini tidak sekelam seperti apa yang digambarkan oleh Iwan Fals dalam lagu legendarisnya Oemar Bakri. Profesi keguruan menjanjikan masa depan yang cerah karena saat ini pemerintah memang sedang berpihak pada sektor ini.

Guru-guru atau calon guru yang bermotif untuk mengejar kemapanan materi ketika terjun ke dunia pendidikan seperti ini tentunya akan menyandarkan setiap gerak langkah mereka dalam profesinya dengan kaca mata materi. Ketika mereka lulus pendidikan tinggi keguruan dan mulai menapaki karir dalam dunia pendidikan, terus ditakdirkan untuk menjadi guru swasta (dalam prakteknya terdapat berbagai istilah seperti honorer, sukwan, bantu, tidak tetap, dll) dan menemukan bahwa profesi keguruan tidak seindah apa yang mereka bayangkan maka mereka akan meringis, berteriak, menangis dan meratapi nasib tragis mereka ini. Ada beberapa target yang akan menjadi bahan cercaaan mereka mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan di mana tempat mereka bekerja, universitas, bahkan diri mereka sendiri.

Di sisi lain, ketika ada segelintir guru yang ditakdirkan untuk menjadi guru negeri dan menemukan mereka mendapatkan kenyamanan dan fasilitas melimpah ruah seperti gaji besar, tunjangan besar, fasilitas pendidikan lengkap dan berbagai kemudahan lainnya tidak serta merta membuat mereka memberikan yang terbaik bangsa ini. Wajah elit guru negeri kita dewasa ini seperti pergi ke sekolah dengan membawa mobil, menenteng laptop, berpakaian klimis, dst tidak menggambarkan jawaban atas carut marutnya pendidikan Indonesia saat ini. Bak meminum air laut, yang terjadi justeru sebuah anomali di mana mereka semakin haus akan materi ketika menjalani profesinya. Ungkapan ada duit, baru bekerja atau istilah lahan basah dan lahan kering adalah celotehan yang sangat wajar di kalangan guru negeri. Mereka baru mau bekerja kalau ada uang transport, atau memberi pelajaran tambahan kalau ada fee tambahan dari sekolah, pergi ke seminar untuk profession refreshment kalau ada uang lelahnya, dst.

Maka wajar, segala tunjangan yang ditawarkan oleh pemerintah dewasa ini tidak akan cukup untuk membuat mereka puas, bahkan justeru menjadi stimulus bagi mereka untuk meraup materi sebanyak-banyaknya. Program sertifikasi saja, yang hakikatnya berfungsi untuk meningkatkan kinerja guru, malah berubah menjadi pengangkat gengsi. Ketika sertifikasi pendidikan telah diraih, maka segalanya telah usai, tinggal istirahat saja karena predikat tertinggi dari profesi kependidikan telah diraih.

Karena profesi keguruan yang menjanjikan ini, maka anak bangsa yang berbondong-bondong memilih fakultas keguruan sebagai jembatan masa depan mereka datang dari berbagai latar belakang, baik itu keluarga cerdas, sedang, kurang cerdas, kaya, sederhana bahkan miskin.

Diversifikasi latar belakang ini pula yang menjadikan profesi ini tidak ekslusif tapi inklusif, terbuka bagi setiap warga negara tanpa memandang latar belakang. Namun, di antara sekian banyak anak bangsa ini, ada segelintir orang yang terbawa arus untuk ikut dalam hingar bingar dunia pendidikan, meskipun hal ini bukan atas keinginan mereka.

Otoritas orang tua yang menginkan anak mereka meraih masa depan gemilang menjadi aktor utama dalam membentuk orang-orang yang tanpa sengaja ‘terjerumus’ di dunia ini. Tanpa memerhatikan minat, bakat dan potensi anak, mereka langsung memasukan anak mereka untuk kuliah di fakultas keguruan. Walhasil, anak tersebut yang merasa dipaksa, tidak betah bahkan di tengah jalan banyak yang banting setir. Namun, adapula yang berhasil melewati seleksi alam di pendidikan keguruan universitas. Namun, karena memang track record mereka yang masuk ke fakultas keguruan adalah paksaan, maka menjadi guru pun bagi mereka adalah sebuah paksaan. Guru-guru macam ini akan merasa tidak enjoy dalam menjalankan profesi mereka dan memiliki sifat-sifat negatif sebagai guru seperti tidak adanya idealisme, kecakapan dalam mengajar, aspek profesionalitas guru, dll. Sehingga, tatkala berkecimpung dalam dunia mengajar sehari-hari tampak banyak yang harus dibenahi dari sikap mereka yang pada level ekstrim menjadi sebuah problem gunung es yang seringkali dinamakan: problem profesionalisme Sumber Daya Manusia pendidikan.

Di antara sekian juta penduduk negeri ini yang berprofesi sebagai pendidik, ada segelintir dari mereka yang memang mendedikasikan profesi ini sebagai pengabdian bagi negara dan agama. Bagi mereka, berkecimpung dalam dunia pendidikan adalah perjuangan dalam mencerdaskan bangsa. Mereka ingin ikut serta memberikan kontribusi bagi negeri ini dan menjadi bagian dari solusi keterpurukan bangsa.

Guru tipikal seperti ini sadar bahwa pendidikan adalah jawaban dari lemahnya daya saing bangsa dengan negara-negara lain. Pendidikan adalah usaha wajar dan logis dalam memberikan solusi bagi permasalahan bangsa yang terus menggunung. Namun, mereka juga sadar bahwa pendidikan yang dapat memberikan solusi adalah pendidikan yang mengedepankan kualitas, beretika, dan beradab.
Karena memang tujuan awalnya adalah dedikasi terhadap bangsa, maka materi bukan merupakan tujuan akhir dari perjuangan mereka. Mereka bukan bekerja karena mereka dibayar tapi karena mereka mencintai dan menghayati pekerjaan ini. Kalau toh pemerintah memberikan mereka kesejahteraan, maka mereka anggap bahwa hal ini adalah penghargaan terhadap perjuangan mereka dalam mencerdaskan bangsa.

Tipikal guru seperti inilah yang akan mengurai benang kusut pendidikan Indonesia. Sejauh apapaun pemerintah melangkah dalam memberikan kebijakan-kebijakan pendidikan dalam rangka perbaikan sistem pendidikan nasional akan menemui kegagalan dalam tahap implementasi apabila tidak disertai dengan meningkatnya guru-guru masa depan yang memiliki idealisme seperti ini. Maka, jika anda seorang guru, dosen, calon guru, atau calon dosen serta menginginkan menjadi solusi atas kesemrawutan sistem pendidikan nasional, mengapa tidak memilih untuk menjadi guru yang ikhlas mendedikasikan pekerjaannya sebagai bentuk pengabdian bagi ummat dan negara?

Taman Ilmu,
Tasikmalaya, 15 Oktober 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s