Pendidikan Keteladanan

Moh. Syahrul Zaky Romadloni

Universitas Siliwangi, Tasikmalaya

Apa yang menyebabkan pendidikan pesantren lebih unggul daripada sekolah/madrasah konvensional? Saya berpendapat bahwa pesantren memiliki pendidikan budi pekerti yang kuat, sehingga peserta didiknya relatif memiliki akhlaqiyat yang lebih baik dibandingkan dengan anak-anak sekolahan. Selain itu, santri-santri pesantren senantiasa menghadapi bimbingan dan pengawasan dari kyai selama 24 jam penuh. Hal ini berbeda dengan anak sekolahan, yang bimbingannya hanya sebatas 6-12 jam di waktu sekolahan saja. Di luar itu guru ‘tidak berhak’ untuk mengatur apa yang di lakukan oleh anak. Kalau orang tua mereka tidak begitu peduli, tentu mereka akan mengikuti ‘pendidikan’ liar yang mereka temui di lingkungan sekitar mereka seperti gangster, geng motor, dan lain sebagainya. Maka, kalau ada orang yang berbicara tentang solusi geng motor yang semakin merebak, menurut hemat saya jawabannya adalah pendidikan ala pondok pesantren.

Tapi di sini, saya tidak hendak membahas dua dari banyak kelebihan pendidikan pondok pesantren di atas. Dengan tidak menafikan beberapa kekurangan yang ada di pesantren, saya tertarik sekali dengan aplikasi pendidikan keteladanan yang diterapkan di pondok pesantren, yang memang selama ini hal itu sudah menjadi trademark baginya.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa ciri khas dari pendidikan pesantren adalah lekatnya peran kyai dalam roda kehidupan pesantren sehari-hari. Dalam hal ini kyai, di samping masjid, adalah pusat dari kegiatan yang berjalan di pondok pesantren. Bagaikan sang raja, kyai berhak dan biasanya mempunyai otoritas absolut dalam mengatur aktivitas pesantren, meskipun di beberapa pesantren menerapkan sistem sebagai landasan dalam menjalankan roda pendidikan, akan tetapi toh peran kyai sebagai penggerak sistem tersebut tetap memiliki peranan yang paling utama.

Sebagai kompensasi dari tradisi unik yang sudah berjalan bertahun-tahun lamanya di atas, maka wajarlah segala tindak-tanduk kyai senantiasa menjadi sorotan bagi seluruh warga pondok. Kyai harus memikul beban yang sangat berat. Di samping mereka harus menjalankan roda kepesantrenan, segala tindak-tanduk mereka harus menjadi suri tauladan bagi seluruh warga pesantren.

Maka di pesantrenlah, pendidikan budi pekerti berlangsung, ketika para santri melihat teladan baik dari kyai dan ustadz-ustadz mereka. Di sana jugalah para santri mendapatkan pendidikan perjuangan, keikhlasan, kemandirian dan prinsip-prinsip hidup yang akan menjadi landasan mereka dalam berpijak. Dan uniknya hal itu tidaklah berbentuk sekumpulan teori belaka yang membusuk di sekat-sekat kelas, akan tetapi santri-santri tersebut melihat dan merasakannya sendiri dalam suasana pendidikan pesantren yang hangat.

Mereka pun melihat kyai-kyai dan ustadz-ustadz mereka sebagai contoh sosok yang mempunyai kadar intelektualitas tinggi, sehingga tidak jarang mereka menjadi inspirator dan motivator bagi masa depan mereka kelak. Tingkat intelektualitas dan keperibadian kyai yang mumpuni seringkali menginspirasi santri-santrinya dalam meraih kesuksesan hidup.

Ada memang, kyai yang berhasil menjalankan peran mereka sebagai uswatun hasanah bagi setiap warga pesantren. Biasanya tipikal kyai seperti ini memiliki rasa ikatan emosional yang kuat dengan santri-santrinya. Kita melihat sosok Kyai Ilyas Ruhiat dari Cipasung, Kyai Khoer Affandi dari Miftahul Huda atau Kyai Imam Zarkasyi dari Gontor, sebagai sosok kyai sukses dalam menjalankan peran ini. Mereka adalah di antara sekian ribu kyai yang berhasil menjalankan peran mereka sebagai contoh baik bagi para santrinya, sehingga beribu-ribu santri dan alumninya tak kuasa menahan rasa haru dan tangis ketika mereka ‘menyelesaikan’ tampuk kepemimpinannya di pesantren. Bahkan tak jarang, santri-santri mereka yang hidup pasca meninggalnya mereka masih ikut merasakan sima ketauladan mereka. Luar biasa.

Namun sayang, ada juga beberapa kyai yang gagal melaksanakan peran ini. Justeru, tipikal kyai seperti ini memanfaatkan ‘ketidakberdayaan’ santri-santrinya untuk memuaskan nafsu pribadinya di dunia. Kyai seperti inilah yang memanfaat otoritasnya sebagai kyai sebagai modal untuk menjadi caleg, cabup, cagub bahkan capres dan ca-ca-ca lainnya. Dalam ungkapan kasarnya, mereka ‘menjual’ pesantren mereka untuk mendapatkan kenikmatan duniawi. Walhasil, pesantren yang mempunyai pimpinan seperti ini biasanya tidak dapat bertahan lama. Dan sudah banyak contoh kita saksikan, yang sungguh tidak etis saya menuliskannya di sini.

Kembali kepada pendidikan ketauladan. Dalam kaitannya perbaikan pendidikan nasional, tidak salahnya sekolah-sekolah konvensional mulai mengikuti jejak pesantren dalam aplikasi pendidikan ketauladan bagi peserta didik mereka. Semua stakeholder tentunya dapat ikut berpartisipasi dalam program ini dari mulai pemerintah, pejabat daerah, kepala sekolah, guru, pengawas, dan peserta didik tentunya.

Selanjutnya pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional harus mulai serius membidik guru agar mereka memiliki akhlak dan keperibadian yang dapat menjadi tauladan yang baik bagi peserta didik mereka. Guru pun harus ikut menyadari bahwa mereka itu adalah sosok yang digugu dan ditiru, baik dalam akhlak, kepribadian maupun intelektualitas. Tatkala guru telah menyadari posisinya sebagai sosok yang digugu dan ditiru, maka kita tidak akan melihat kasus guru yang selingkuh, malas mengajar, tidak professional, money-oriented, membiarkan praktik contek-menyontek, dan hal-hal buruk lainnya yang berimbas langsung pada pendidikan peserta didik.

Hal yang tidak kalah pentingnya lagi adalah peran sentral para Kepala sekolah dalam menjalankan roda pendidikan di sekolah. Hendaknya, mereka harus belajar kepada para kyai tentang konsep keikhlasan, perjuangan, berdikari dan prinsip-prinsip esensial pendidik lainnya, sehingga mereka bisa menerapkan nilai-nilai pendidikan holistik ini pada seluruh warga sekolah. Sudah tiba saatnya, kita meninggalkan konsep pendidikan ala Barat yang mengebiri aspek spiritualitas manusia dan hubungan transendennya dengan Sang Pencipta bagi anak-anak kita yang tak lama lagi akan menjadi penerus bangsa ini.

Taman Ilmu, 9 September 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s