Nilai-nilai Dalam Pendidikan

Moh. Syahrul Zaky Romadloni
Universitas Siliwangi, Tasikmalaya

Prof. Winarno Surakhmad meringis ketika melihat pendidikan nasional melenceng dari falsafah yang digariskan oleh para pendiri bangsa. Kebijakan-kebijakan pendidikan nasional seringkali merupakan produk yang tidak memperhatikan aspek-aspek filosofis dari bangsa ini, sehingga implikasinya berpengaruh langsung kepada proses dan hasil pendidikan. Kebijakan-kebijakan pendidikan, ujarnya, akan kuat dan mapan jika setiap stakeholder pendidikan konsisten dalam mengusung filsafat pendidikan yang telah disepakati bersama.

Setali tiga uang, Andreas Harefa, seorang motivator ulung Indonesia abad ini, dalam bukunya On Becoming a Learner, mencak-mencak sistem pendidikan nasional yang jauh dari landasan filosofis yang kuat. Sistem pendidikan dogmatis yang mengebiri perkembangan intelektual peserta didik menjadi sasaran tembak penulis beberapa buku national best seller ini. Dia sampai-sampai memutuskan untuk keluar dari Fakultas Hukum UGM, dan memutuskan untuk menjadi pembelajar sejati di Universitas Kehidupan.

Lalu timbul pertanyaan: ada apa dengan segelintir orang yang begitu konsisten mempertanyakan kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik pendidikan yang mereka anggap keluar dari nilai-nilai filosofis pendidikan? Sebarapa pentingkah nilai-nilai tersebut terhadap praksis pendidikan? Saya kira jawabannya adalah mereka menganggap urgen akan pentingnya pemahaman nilai-nilai dan landasan filosofis dalam melaksanakan praksis pendidikan. Landasan filosofis pendidikan, bagaimanapun bentuknya, harus masuk ke seluruh sendi-sendi praktek pendidikan, dan semaksimal mungkin segala bentuk penyelewengan terhadap landasan filosofis tersebut harus kita minimalisir.

Yah, sekali lagi kita harus melandasi setiap praktek pendidikan dengan nilai-nilai filosofis pendidikan yang telah disepakati, agar setiap gerak langkah kita dalam menjalankan proses pendidikan berada dalam sebuah koherensi yang kuat, tidak saling bertabrakan satu sama lain. Ini jugalah yang Andreas Harefa tekankan dalam bukunya Membangkitkan Roh Profesionalisme, bahwa suatu organsiasi yang baik, baik itu lembaga pendidikan ataupun perusahaan, akan bertahan lama apabila mereka memiliki visi, misi dan tujuan yang jelas. Segala bentuk kebijakan dalam organisasi tersebut bersumber dari perenungan dan pengejawantahan dari visi, misi dan tujuan organisasi tersebut.

Hal itulah yang membuat perusahaan-perusahaan besar di dunia tetap eksis sampai saat ini. Honda memiliki The Honda Way-nya, yang menjadi inspirator bagi setiap pergerakan perusahaan tersebut. Perusahaan mobil Amerika terkemuka Ford, memiliki sistem Fordisme yang senantiasa menjadi pegangan bagi setiap pengambil kebijakan dalam perusahaan tersebut dalam bertindak. Perusahaan-perusahaan multi-nasional lainnya seperti McDonalds, Coca Cola, dan lain sebagainya bergerak maju dengan visi, misi dan tujuan jelas yang mereka usung.

Dan kondisi yang sama dapat kita lihat pada beberapa lembaga pendidikan yang memiliki landasan filosofis yang kuat. Al-Azhar University Cairo dapat eksis berkembang selama lebih dari seabad lamanya karena konsisten dengan pengembangan wakafnya. Oxford dan Harvard University mampu eksis menjadi leading college selama beratus-ratus tahun lamanya karena mereka istiqomah dalam memberikan kebebasan berpikir dan penguatan metodologi bagi para mahasiswanya. Dan itupun yang menjadi penyebab utama mengapa pesantren-pesantren besar seperti Gontor, Tebu Ireng, Sidogiri masih bisa eksis meskipun pesantren-pesantren lainnya kini sedang mengalami suatu krisis kepercayaan di kalangan masyarakat. Lembaga-lembaga pendidikan ini memiliki landasan filosofis yang kuat yang senantiasa menginspirasi setiap stakeholdernya dalam mengambil kebijakan-kebijakan penting.

Tentunya, memiliki visi, misi dan tujuan yang jelas tidak akan cukup dalam mengantarkan suatu lembaga pendidikan pada jalur kejayaan selama mereka tidak konsisten untuk menyosialisasikan falsafah tersebut di semua kalangan stakeholder. Memang, sistem manajemen modern sekarang ini, yang banyak diterapkan di hampir seluruh lembaga pendidikan di Indonesia dari tingkat dasar sampai pendidikan tinggi, mensyaratkan bagi setiap pengelolanya untuk memiliki visi, misi  dan tujuan yang jelas sebelum mereka membuat program-program dan perencanaan-perencanaan pendidikan. Namun masalahnya, pengalaman saya di lapangan, mengindikasikan bahwa visi, misi dan tujuan tersebut terdampar hanya sebagai tulisan hampa tanpa makna, tanpa ada usaha dari pihak pengelola sekolah untuk menjadikannya landasan dalam pengelolaan pendidikan. Seakan mereka merasa masa bodoh dan berpikir bahwa bekerja sekarepe dewe akan membuat mereka berhasil dalam menjalankan program-program pendidikan. Dan itulah pertanda, bahwa lembaga pendidikan tersebut tinggal menunggu kehancurannya.

Taman Ilmu, 7 September 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s