Tentang Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia

Moh. Syahrul Zaky Romadloni
Universitas Siliwangi, Tasikmalaya

Apa yang terngiang dalam benak anda ketika disodorkan dua macam lembaga pendidikan yang ada di Indonesia; madrasah dan sekolah umum? Dapat ditebak, stereotype negatif akan menghinggapi pilihan pertama. Lusuh, miskin, beban pelajaran yang berat, kelas menengah ke bawah, buangan, dan kata negatif lainnya yang saya tidak tega menuliskannya di sini. Wajar apabila ada anak cerdas, meskipun dia lahir di keluarga yang mempunyai tingkat religiusitas tinggi atau dalam lingkungan yang memiliki kultur Islam yang kuat, dan orang tuanya menyekolahkannya ke madrasah, orang-orang akan menyayangkan sikap orang tua tersebut yang telah ‘membuang’ sia-sia potensi yang dimiliki anak tersebut. Sungguh tragis.

Suka-tidak suka, senang-tidak senang hal ini adalah fakta. Madrasah- dalam hal ini representasi pendidikan Islam di Indonesia- baik dari tingkat pra sekolah [raudlatul –atfal] sampai pendidikan tinggi [UIN/IAIN/STAIN] menjadi lembaga pendidikan nomor kesekian di Indonesia. Dan ini sudah berlangsung sejak sekian lama sampai detik saya menulis artikel ini.

Ada yang bilang siswa madrasah serba tanggung. Mereka belajar ilmu-ilmu kauniah di madrasah, tapi ketika berkompetisi dengan siswa-siswa sekolah umum mereka sangat tertinggal jauh. Mereka juga belajar ilmu-ilmu qauliyah [revealed knowledge] di sana, tapi ketika berhadapan dengan santri-santri pesantren mereka menjadi minder. Lalu apa yang dapat diunggulkan dari sistem pendidikan seperti ini? Meskipun toh ada beberapa ahli, pembela madrasah, yang mengatakan bahwa statemen ini mestinya dibalik. Siswa madrasah lebih unggul dalam bidang ilmu kauniah dari santri pesantren, dan lebih maju dalam bidang ilmu qouliah dari anak sekolah umum.

Fakta menyedihkan dan menyesakkan dada bagi setiap muslim Indonesia yang peduli terhadap perkembangan pendidikan Islam. Tentunya, sebagai muslim yang peduli, tidak akan diam namun akan bergerak untuk mencari solusi bagi permasalahan yang sudah mendarah daging ini.

Dan memang, umat Islam tidak diam. Madrasah unggulan, yang menjadi center of excellence, tumbuh di beberapa tempat. Ada Insan Cendidikia yang konsisten dengan pendidikan sains integralnya. Ada beberapa pesantren yang mencoba memadukan keunggulan pesantren dan sekolah umum dalam bentuk integrated boarding school. Bahkan memang ada lembaga pendidikan yang dari dulu konsisten mengajarkan pelajaran kauniah dan qouliyah berimbang, serta pendidikan karakter yang kuat seperti Gontor dan pondok alumninya. Tentu hal ini membuat kita sedikit lega bahwa perubahan itu memang ada.

Prof. Imam Suprayogo dengan proyek UIN Malangnya menjadi pioneer mencetak ilmuwan muslim yang komprehensif. Sekarang kita sudah bisa menemukan fisikawan yang hafidz al-Quran 30 juz. Bahkan menurut beliau 10 tahun kemudian akan ada 100-an huffadz di UIN Malang yang akan menjabat jabatan dekanat dan rektorat di perguruan tinggi tersebut. Alhamdulillah. Inilah yang selama ini kita tunggu.

Tentunya kita tidak boleh berpuas diri dengan pencapaian kecil yang telah kita raih ini. Umat Islam- baik birokrat, akademisi, dan masyarakat- harus konsisten dengan arah kebijakan pendidikan Islam seperti ini. Bahkan hal ini perlu diperkuat dengan landasan filosofis pendidikan Islam yang kuat dan berlandaskan pandangan alam Islami [Islamic worldview/tasawur islami]. Pendidikan Islam jangan hanya merupakan jiplakan dari filsafat pendidikan Barat yang sekuler dan jauh dari nilai-nilai Islami.

Saya optimis, sepuluh tahun kemudian pendidikan Islam model seperti ini akan menjadi mainstream di Indonesia, seoptimis Prof. Azyumardi Azra, mantan Rektor UIN Jakarta, dalam pengantarnya di buku Etos Studi Kaum Santri.

Taman Ilmu, 6 September 2010

20:24

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s