Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Nasional

Moh. Syahrul Zaky Romadloni
Universitas Siliwangi, Tasikmalaya

Praktisi pendidikan Islam yang juga pimpinan salah satu pesantren ternama di Jawa Timur, Kiyai Syukri Zarkasyi, pernah diminta untuk berbicara di depan anggota dewan yang terhormat untuk memberikan saran bagi pengembangan pendidikan di Indonesia. Beliau dengan kapasitasnya sebagai pendidik selama berpuluh-puluh tahun mengatakan bahwasanya benang kusut carut marutnya pendidikan Indonesia terletak pada lemahnya penidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia.

Selama ini memang pendidikan Indonesia dituding tidak jelas entah mau dibawa kemana. Prof. Winarno Surakhmad, mantan Rektor IKIP Jakarta, mengatakan bahwa pendidikan Indonesia setelah diurus oleh lebih dari 33 Menteri Pendidikan Nasional tetap berjalan di tempat dan tidak mempunyai visi dan misi yang jelas. Pak Win, sapaan akrab beliau, sering mengkritik kebijakan-kebijakan pendidikan nasional yang sangat lemah landasan filosofisnya sehingga dalam tataran implementasi penyerapannya sangat lemah. Hal ini wajar, karena menurut beliau, para birokrasi pendidikan Indonesia tidak mau bersusah payah untuk sekedar memperbaiki kebijakan yang akan diimplementasikan.

Nyatanya jelas, visi dan misi pendidikan nasional sangat kabur dan walaupun ada melenceng dari landasan filosofis yang telah disepakati oleh para founding fathers. Pendidikan Indonesia telah digiring pada suatu keadaan di mana komersialisasi dan industrialisasi pendidikan merajalela. Tengok saja, sekolah-sekolah mahal, yang mengebiri hak-hak kaum papa untuk mengenyam pendidikan, bertaburan di mana. Sekolah-sekolah RSBI yang nyata-nyata mematok kursi mahal bagi peminatnya muncul di setiap kota/kabupaten. BSNP, yang oleh Prof. Tilaar disebut sebagai gurita pendidikan, dengan bebasnya tanpa beban membuat standar-standar kaku yang mengebiri hak-hak anak untuk mendapatkan pendidikan.

Kembali kepada pendidikan karakter. Selama ini memang birokrat pendidikan nasional mengabaikan pendidikan karakter. Standarisasi-standarisasi yang mana para ‘gurita pendidikan’ mempunyai andil di dalamnya mengabaikan pendidikan karakter sebagai mainstream pendidikan nasional. Yang ada adalah standar-standar kaku yang mana setiap sekolah wajib untuk melaksanakannya. Hal ini wajar karena pendidikan nasional telah digiring pada industrialisasi dengan mematok standar-standar ORBEX [Organizing for Business Excellence]. Fordisme, yang merupakan titik tolak kemajuan dunia industri nyatanya diagung-agungkan dalam dunia pendidikan nasional.

Sangat wajar pemerintah Indonesia mengabaikan pendidikan karakter karena sekolah-sekolah kini telah berubah menjadi pabrik. Manusia Indonesia kini menghadapi suatu permasalahan serius dalam hal pendidikan karena pemerintah Indonesia menghendaki masyarakat Indonesia yang seragam dan mengebiri diversitas unik yang merupakan fitrah manusia. Pemerintah Indonesia dalam menjalankan amanat pendidikan nasional telah mencapai prestasi yang ‘luar biasa’ yaitu menyamakan manusia dengan mobil, motor, kapal terbang, bahkan sapu lidi! Sungguh tragis.

***

Akhir-akhir ini banyak orang berbicara tentang pendidikan karakter. Mukhtar Bukhori, seorang pendidik, menuliskan kegelisahannya tentang tidak adanya pendidikan karakter di Indonesia. Dia mengatakan bahwa kata character building telah menjadi ungkapan klise yang kosong tak bernyawa. Beliau lalu menunjuk beberapa bukti yang memang menjadikan pendidikan karakter mati. National assessment yang sejak kemunculannya mendapatkan kritikan tajam di kalangan masyarakat luas adalah salah satu bukti yang menunjukan bahwa pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional, telah menutup celah untuk pendidikan karakter di Indonesia.

Ada yang memang sadar dan mau mengakui akan kesalahan orientasi pendidikan selama ini. [Meskipun sampai detik ini Kementerian Pendidikan Nasional masih menutup telinga mereka]. Akhir-akhir ini pemerintah D.I Yogyakarta merilis pendidikan karakter bagi sekolah-sekolah di daerahnya. Cukup melegakan dan patutlah kita mengapresiasinya. Tapi ingat, pendidikan karakter bukan hanya sebatas pemberian ceramah yang hanya menekankan aspek kognitif, tapi seharusnya pendidikan karakter adalah sebuah totalitas yang dimiliki oleh pihak sekolah dalam mendidik peserta didiknya.

Totalitas pendidikan itulah yang diterapkan di Pondok Modern Gontor, yang mana Kyai Syukri Zarkasyi berada di garda paling depan dalam mengawalnya. Anak-anak tidak belajar teori-teori tentang pendidikan karakter di sekat-sekat kelas tapi mereka merasakannya sendiri di dalam totalitas kehidupan mereka. Para kyai-kyai ikhlas mendidikan santri-santrinya dengan memberikan penugasan, pendidikan, pembelajaran, kegiatan, teladan baik, keikhlasan dan lain sebagainya. Para kyai di sana dengan detail berusaha agar dalam setiap kegiatan yang santri hadapi ada unsur pendidikan. Di saat mayoritas kader bangsa Indonesia yang mengenyam pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai tingkat pendidikan tinggi tanpa dosa leluasa menyontek ketika ujian tiba, di Gontor, santri yang berani nyontek saat ujian dipersilahkan untuk keluar dari alam pendidikan Gontor karena dia telah belajar memulai untuk menjadi seorang koruptor. Luar biasa!

Taman Ilmu, 7 September 2010

7:59

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s