Islamisasi Ilmu Pengetahuan di Lembaga Pendidikan

Moh. Syahrul Zaky Romadloni
Universitas Siliwangi, Tasikmalaya
http://syahruzzaky.wordpress.com

Islam adalah sebuah dien yang tidak hanya mengatur peribadatan manusia pada Tuhannya akan tetapi juga mencakup seluruh sistem kehidupan manusia; sistem perekonomian, etika, moral, pendidikan, politik dan lainnya. Hal ini dimungkinkan, karena Islam, seperti halnya Marxisme, mempunyai worldviewnya sendiri sehingga ranah kajian Islam adalah universal dan komprhensif [syumuli]. Penyempitan Islam menjadi hanya sebuah sistem peribadatan saja adalah proses pengebirian dan distorsi terhadap hakikat Islam itu sendiri. Toh, dalam hal-hal kecil saja, seperti makan dan tidur, Islam mengaturnya apalagi hal-hal yang menyangkut hajat hidup umat manusia seperti ketatanegaraan, ekonomi, etika, tentu Islam tidak mungkin tidak mengaturnya.

Distorsi pemahaman Islam sebagai dien tidak dapat dimungkiri adalah hasil dari imperialisme epistemologi barat terhadap intelektual-intelektual muslim. Ali Syari’ati menyiratkan bahwa intelektual-intelektual muslim banyak teralienasi ketika mereka berhadapan dengan pemikiran-pemikiran barat. Mereka secara serta merta mengadopsi pemikiran-pemikiran tersebut tanpa daya filterisasi. Padahal  Filsafat Islam sendiri –dalam sejarahnya– memiliki sifat filter terhadap ilmu-ilmu di luar Islam. Tentunya untuk diislamkan. Walhasil, tatkala pemikiran dengan epistemologi barat yang melenceng dari akidah Islam diadposi secara membabi buta, pemahaman Islam sebagai dien akan terdistorsi dengan sendirinya.

Beberapa intelektual muslim –raushanfikr– telah membuktikan bahwa mereka mampu memberikan daya filter dan mengadaptasi pemikiran-pemikiran dengan epistemologi barat sehingga menjadi berepistemologi Islam. Ali Syari’ati, seorang reformis Iran jebolan Sorbonne University, berhasil menunjukan bahwa ‘humanisme’ Islam lebih unggul dari humanisme yang diusung oleh filosof Barat baik itu dari kalangan Marxis maupun ekstensialis. Syed Naquib Al-Attas, seorang ilmuwan terkenal dari Malaysia, bahkan berhasil menganggas konsep islamisasi ilmu pengetahuan dengan cara dewesternisasi ilmu pengetahuan. Artinya, ilmu harus dibersihkan dari racun epistemologi barat.

Hal ini berbeda dengan beberapa intelektual muslim yang –dalam istilah Ali Syari’ati– terasingkan. Mereka bersifat pragmatis dan menganggap bahwa mengusung Islam dalam kehidupan sehari-hari adalah sesuatu yang utopia. Seorang ‘intelektual muslim’ jebolan Universitas Melbourne yang juga pendiri Jaringan Islam Liberal dan aktivitas Freedom Institute begitu bangga dengan mengkultuskan konsep humanisme Barat. Padahal dalam sejarah, humanisme Barat telah membawa manusia pada dilema yang besar. Lebih-lebih ketika ia dengan gegabah mengatakan bahwa kalau mau selamat jangan memakai isu Islam. Pandangan ini menyiratkan kalahnya idealisme Islam dengan realita yang terjadi di masyarakat. Padahal idealisme Islam datang untuk mengubah realita yang menyimpang dari worldview Islam. Sungguh aneh.

Pandangan ‘Islam Yes, Partai Islam No’ menunjukan terdistorsinya pemikiran para pengusungnya tentang pandangan Islam yang komprehensif. Sekulerisasi adalah bentuk keputusasaan dalam pengaplikasian syariat Islam dalam kehidupan. Padahal revolusi Iran dan Generasi Salahuddin Al-Ayyubi adalah contoh konkret bahwa syariat Islam bisa terbentuk apabila memang umat telah siap untuk menggapainya. Alih-alih memperjuangkan Islam malah mengebirinya dari kehidupan sehari-hari.

 

Lembaga Pendidikan

Benih-benih tumbuhnya pemahaman yang mendistorsi hakikat Islam sebagai dien menurut hemat penulis lahir dari lembaga-lembaga pendidikan yang mengajarkan Islam hanya secara parsial. Di kebanyakan lembaga pendidikan, ‘Islam’ hanya dibahas dalam kajian-kajian keagamaan saja seperti Fiqh, Tauhid, Tasawuf, dll. Ketika siswa mengaji ilmu-ilmu ‘umum’, mereka tidak disentil dengan ayat-ayat kauniah yang beratu-ratus jumlahnya dalam al-Quran, sehingga mereka berpikiran bahwa ilmu pengetahuan adalah satu kutub dan Islam adalah kutub lain.

Padahal dalam al-Quran, terdapat kurang lebih 750 ayat tentang ilmu kauniah yang membahas tentang sains yang semuanya mengajak umat Islam untuk mengambil pelajaran darinya. Bandingkan dengan ayat tentang fiqh yang ‘hanya’ berjumlah 150-an. Hal ini menyiratkan bahwa kajian terhadap sains adalah penting dan diwajibkan oleh al-Quran.

Islamisasi ilmu pengetahuan di lembaga-lembaga pendidikan bisa dimulai dengan memberikan landasan pemikiran bahwa Islam sebagai dien harus menjadi landasan berpikir bagi setiap siswa dalam mengaji sains. Tentunya hal ini tidak mengebiri aspek rasional karena memang rasionalisme –dalam batas-batas tertentu– tidak  dilarang dalam Islam bahkan dianjurkan. Pemahaman dasar ini akan mengingkari pandangan epistemologi barat yang menganggap bahwa ilmu adalah netral dan akan menganggap bahwa ilmu itu penuh dengan nilai. Walhasil, ketika pembelajaran ilmu pengetahuan telah berhasil diislamkan pemanfaatannya akan dilakukan secara bijak karena mengindahkan fitrah seperti digariskan Allah dalam sumber ajaran Islam.

Syukur alhamdulillah bahwa program IIPK [Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer] mulai memasuki kalangan guru-guru yang nota bene adalah pejuang lapangan yang bersentuhan langsung dengan aspek praxis pendidikan. Ketika para guru memilki pemahaman Islam yang syumuli tentunya mereka akan melandaskan seluruh kegiatan pengajarannya dengan pandangan alam Islam [Islamic Worldview].

Wallahu A’lam Bishowab.

10 November 2009

5:03

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s