Mengurai Problematika Pendidik di Dunia Pendidikan Islam

M. Syahruzzaky Romadloni*

Apa yang akan terjadi apabila praktek pendidikan Islam mengabaikan aspek profesionalisme di kalangan para pendidiknya? Sudah pasti, seluruh tatanan pendidikan baik dalam ranah makro, meso maupun mikro akan hancur tak bersisa. Pendidikan Islam akan carut marut dan terus berkubang dalam rantai permasalahan tak bertepi. Setidaknya ini yang terjadi dalam praktek pendidikan Islam di Indonesia dewasa ini.

Berbicara tentang kesejahteraan, yang merupakan salah satu unsur penting dalam pembentukan budaya profesionalisme, nampaknya pendidik di lembaga pendidikan Islam berada pada ‘kasta’ paling rendah. Bagaimana tidak mayoritas guru-guru di madrasah harus berkubang dalam rantai kemiskinan. Mereka adalah guru-guru honorer yang rata-rata gajinya tak lebih dari Rp. 500.000 per bulan. Hal ini wajar karena lebih dari 90% madrasah berstatuskan swasta yang notabene pendapatannya mengandalkan swadaya masyarakat dan bantuan BOS dari pemerintah yang minim. Hal ini diperburuk dengan rendahnya manajemen keuangan yang ada di madrasah-madrasah swasta yang tentunya berimplikasi signifikan terhadap kesejahteraan para guru.

Keadaan yang lebih parah akan kita temukan ketika melihat fenomena pendidik-pendidik Islam di lembaga pendidikan non-formal. Di pesantren misalnya, karena Kyai tak memungut biaya sepeser pun ke santri-santrinya dan tidak ada subsidi sama sekali dari pemerintah, mereka harus hidup dalam suasana serba pas-pasan. Biasanya, mereka memiliki garapan sawah ala kadarnya untuk menyambung hidup di pesantren. Kalaupun tak punya sawah mereka nyambi pekerjaan lainnya yang halal seperti membuka warung, membuat kerajinan tangan, dan lain sebagainya.

Guru ngaji di madrasah-madrasah diniyah lebih memperihatinkan lagi. Mereka mungkin harus mencukupi kebutuhan bulanan dapur di rumah dengan hanya Rp. 50.000 saja. Maklum, madrasah Diniyah belum mendapatkan legalitas sebagai institusi formal di negara kita. Maka wajar, perhatian pemerintah nol sama sekali terhadap lembaga pendidikan yang merupakan usaha solutif swadaya masyarakat Muslim Indonesia dalam menanggapi minimnya Pendidikan Agama Islam di sekolah-sekolah negeri. Parahnya lagi, mereka tidak memiliki lahan garapan seperti sawah atau ladang sebagaimana para kyai di pesantren sehingga tidak memiliki lahan lain untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Terkejut? Ini baru aspek kesejahteraan yang menurut penulis penting untuk kita perhatikan. Mari kita lanjut ke aspek selanjutnya.

Sebagai implikasi dari kurang menjanjikannya profesi ini, maka peminatnya dari kalangan generasi muda muslim sangatlah rendah baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Khusus untuk yang kedua, di lembaga pendidikan Islam, realita yang berkembang adalah siapapun boleh mengajar di madrasah entah itu lulusan SD, SMP, SMA ataupun perguruan tinggi. Yang penting ada kemauan untuk mengajar itu saja sudah cukup. Saya prediksikan ribuan guru di madrasah mengajar tidak sesuai disiplin ilmu yang mereka geluti dan tidak memiliki kompetensi pedagogik yang mumpuni. Walhasil, wajar apabila kita melihat mutu pendidikan Islam tidak bisa bersaing dengan lembaga pendidikan umum lainnya apalagi dengan sekolah-sekolah Katolik.

Keadaan ini semakin parah ketika guru-guru di lembaga pendidikan Islam belum terbiasa dengan program ‘Continuous Professional Development’. Padahal kita tahu bahwa program CPD sangat penting dalam rangka meningkatkan kompetensi mereka sebagai pendidik supaya tetap updated dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan meningkatkan kualitas pengajaran mereka. Program CPD bisa berbentuk seminar, pelatihan, workshop, MGMP dan lain sebagainya. Sayangnya, banyak sekali stakeholder lembaga pendidikan Islam yang menganggap remeh program ini. Tentunya mereka memiliki dalih untuk tidak melakukan program ini yaitu; kekurangan dana!

Tingkat kualitas pendidik di lembaga pendidikan Islam akan lebih merosot apabila kita mencoba memasuki ranah kompetensi kepribadian mereka, terutama kepribadian islami. Sebagaimana kita ketahui, tujuan pendidikan Islami tidak akan pernah terwujud tanpa adanya dukungan dari pendidik yang benar-benar faham cita-cita luhur pendidikan Islam dan memberikan contoh kepribadian Islami di kalangan anak didik mereka. Tujuan pendidikan Islam akan terwujud apabila pendidik-pendidik yang ada di dalamnya memiliki dedikasi yang tinggi, ikhlas dalam beramal, ulet dalam bekerja, berakhlakul karimah, rajin beribadah dan akhlak-akhlak terpuji lainnya. Kriteria pendidik ini hanya akan ada apabila lembaga pendidikan Islam mampu untuk mengadakan seleksi ketat dalam penerimaan guru baru. Selain itu latar belakang pendidikan guru juga menentukan kualitas diri mereka.

Sayangnya, seleksi perekrutan guru baru di madrasah belum menghasilkan guru-guru yang mumpuni karena madrasah kurang diminati oleh orang-orang terbaik bangsa ini yang telah terserap oleh lapangan pekerjaan yang lebih menjajikan. Madrasah terpaksa berpenghunikan guru-guru yang ‘kalah’ dalam persaingan mendapatkan pekerjaan yang layak. Realitas yang menyakitkan ini cukup memberatkan bagi kita untuk meraih cita-cita luhur dari pendidikan Islami.

Lalu apa sebenarnya yang membuat problem pendidik di lembaga pendidikan Islam begitu rumit seperti yang telah tergambarkan di muka? Ada beberapa hal yang perlu kita luruskan dalam paradigma berpikir para stakeholders dan masyarakat pendidikan Islami. Prof. Ahmad Tafsir, Guru Besar Pendidikan Islam UIN Bandung, sudah lama mengulasnya dalam bukunya ‘Ilmu Pendidikan Perspektif Islam’.

Hukum pendidikan dalam Islam adalah wajib. Hal ini merujuk kepada hadits Nabi Muhammad SAW yang menunjukan bahwa mencari ilmu adalah faridlhoh bagi setiap muslim dan muslimaat. Karena hukumnya wajib, maka sudah seyogyanya pendidikan itu menjadi hal yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat atau dengan kata lain murah bahkan kalau bisa tidak dibebankan biaya sama sekali. Pendidikan haruslah murah bahkan gratis. Titik.

Konsekuensinya, fasilitas pendidikan yang didapat oleh peserta didik seadanya saja mengingat minimnya dana yang tersedia. Hal ini berimbas juga pada kesejahteraan para guru. Karena minimnya dana pendidikan, mereka mendapatkan kesejahteraan yang sangat rendah bahkan jauh dari Upah Minimum Regional yang menjadi patokan layaknya atau tidaknya upah di suatu wilayah. Bahkan, seringkali para guru harus menerima kenyataan bahwa mereka tidak mendapkan gaji bulanan karena sumber gaji mereka berasal dari Bantuan Operasional Sekolah yang cairnya setiap tiga bulan.

Karena kesejahteraan yang mereka dapatkan dari sekolah sangat rendah, sedangkan keluarga mereka perlu makan tiap harinya, para guru ini harus membagi konsentrasinya dengan pekerjaan lain. Biasanya mereka bekerja di sektor lain untuk mendapatkan tambahan pundi-pundi keuangannya. Atau mereka mengajar di beberapa sekolah supaya mendapatkan uang lebih. Beban kerja mereka pun sangat padat dan berat. Dalam satu minggu mereka harus bekerja 7 hari lamanya dengan durasi 12 jam sehari bahkan lebih.

Walhasil, beban kerja yang padat dan pikiran yang bercabang menjadikan kualitas pengajaran mereka sangat rendah. Belum lagi mereka dibebani dengan tugas-tugas administrasi mengajar yang sangat rumit dan tekanan dari pihak pengelola sekolah. Suasana kerja yang tidak kondusif ini tentunya akan membuat mereka capek, stress dan minim kreatifitas. Gejala inilah yang sering timbul di kalangan pendidik yang tentunya sangat berakibat fatal pada rendahnya pencapaian tujuan pendidikan Islam.

Selain faktor sosiologis di atas, yang membuat problem pendidik dalam dunia pendidikan Islam khususnya di Indonesia semakin rumit adalah asumsi teologis bahwa guru haram hukumnya mendapatkan gaji. Guru yang meminta gaji atas pekerjaan mengajar dianggap sebagai orang yang menjual ayat-ayat Allah dengan harga murah. Allah melaknat orang yang menjual ayat-ayatNya dengan harga murah.

Lebih jauh lagi, guru-guru di lembaga pendidikan Islam juga menghadapi doktrin teologis lainnya yang menyatakan bahwa mereka harus ikhlas dalam menjalankan profesi kependidikan mereka. Keikhlasan adalah pangkal dari ibadah, begitulah doktrin yang senantiasa berkembang di lembaga pendidikan Islam. Saya sangat setuju dengan doktrin ini. Namun sayangnya, doktrin ini harus membuat mereka hidup pas-pasan, menerima gaji seadanya karena yang berkembang di lembaga pendidikan Islam dewasa ini menunjukan bahwa ikhlas itu identik dengan berani tidak dibayar. Maka yang terjadi, guru-guru Islam harus rela hidup serba ketidakcukupan sebagai imbas dari pemahaman teologis seperti itu.

Merubah Paradigma

Lalu adakah solusi untuk carut marutnya masalah pendidik di lembaga pendidikan Islam? Tentunya pasti ada. Untuk mengurai benang kusut ini, kita harus memulainya dengan merubah paradigma masyarakat dan para pengelola lembaga pendidikan Islam yang menganggap bahwa pendidikan itu murah menjadi paradigma bahwa pendidikan itu mahal. Pendidikan memang mahal karena harus mengadakan fasilitas pendidikan yang lengkap, menggaji para guru, menyediakan sumber-sumber pembelajaran dan lain sebagainya. Tanpa biaya yang mahal, pendidikan Islam akan selamanya menjadi pendidikan yang termarjinalkan. Masalah apakah biaya yang mahal itu dibebabkan kepada murid atau disubsidi, saya telah membahasnya di tulisan-tulisan saya terdahulu.

Apabila biaya pendidikan sudah mengkover biaya kesejahteraan mereka, maka para guru di lembaga pendidikan Islam akan dengan tenang menjalankan tugas mendidiknya. Mereka tidak harus mengajar di beberapa lembaga pendidikan atau nyambi pekerjaan lain yang dapat menganggu konsenstrasi mereka dalam memberikan pendidikan yang maksimal bagi anak didik mereka. Para guru di lembaga-lembaga pendidikan Islam harus mendapatkan kesejahteraan yang cukup supaya mereka bisa lebih ikhlas dalam mendedikasikan hidup mereka untuk kemashlahatan ummat. Inilah paradigma yang harus kita bangun bersama, agar pendidikan Islam semakin baik dari masa ke masa.

Andai saja hal ini terwujud, saya yakin akan banyak sekali generasi muda muslim terbaik yang siap mendedikasikan hidup mereka untuk memperjuangkan tercapainya tujuan pendidikan Islam yang mulia.

Selanjutnya sekolah juga perlu memfasilitasi mereka dengan program-program bermanfaat seperti Continuous Professional Development dan training kepribadian Islami sehingga menghasilkan tenaga kependidikan yang updated dan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan serta memiliki keperibadian yang mulia yang terkejawantahkan dalam praktek mengajar mereka yang semakin berkualitas dari masa ke masa. Tentunya, anak-anak dan sekolah sendiri yang dapat memetik manfaatnya secara langsung dari kondisi pendidikan ideal seperti ini.

Murnikan Niat

Seringkali saya menyatakan dalam tulisan terdahulu bahwa sekolah bukanlah lembaga profit kapitalis yang berprinsip mengeluarkan modal sesedikit mungkin dan meraup keuntungan sebesar mungkin. Sekolah bukanlah alat bagi para pengelola dan pendidiknya dalam memupuk kekayaan dan memuaskan hasrat duniawi. Dalam pendidikan Islam, sekolah adalah ladang amal dalam rangka meninggikan kalimat Allah di muka bumi.

Maka yang seharusnya terjadi, para guru ikhlas dan ulet dalam menjalankan tugas-tugas profesi kependidikan. Mereka harus meluruskan niat mereka dalam memasuki dunia pendidikan Islam. Bukan kepentingan duniawi yang mereka cari, tapi jannatun na’im dan mardhotillah yang mereka inginkan. Apapun yang mereka dapatkan di sekolah sebagai kompensasi duniawi harus mereka syukuri dan ikhlas menerimanya.

Di sisi lain, pihak pengelola sekolah harus memiliki paradigma bahwa guru-guru harus hidup sejahtera supaya bisa lebih ikhlas, tenang dan professional dalam menjalankan profesi kependidikan mereka. Hal ini mengejawantah dalam usaha keras mereka dalam menggalang dana pendidikan sebanyak mungkin tanpa perlu terjebak dalam sistem kapitalis. Mereka bisa membangun unit-unit usaha, mencari donatur, menggandeng perusaha-perusahaan, memberdayakan potensi orang tua murid yang mampu dan usaha-usaha lainnya yang dapat mengkover biaya pendidikan. Dengan begitu Insya Allah sedikit banyak benang kusut masalah pendidik di dunia pendidikan Islam dapat kita urai dengan baik. Amin.

Taman Ilmu,
04:23:04
Sunday, September 04, 2011

*Penulis adalah Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum dan Ketua Tim Pengendali Mutu SMA Terpadu Pondok Pesantren Riyadlul-‘Ulum Wadda’wah Kota Tasikmalaya Jawa Barat.

About these ads

2 thoughts on “Mengurai Problematika Pendidik di Dunia Pendidikan Islam

  1. Huz mtsn karang 2 says:

    Inspiratif

  2. menulisdiari says:

    just sharing..

    Di Arab Saudi, guru2 dari tingkat sekolah dasar (juga TK) hingga perguruan tinggi diapresiasi pemerintah dengan gaji yang tinggi. Saya pernah baca slip gaji seorang guru tingkat tsanawyiah (SMP/SAM) tertulis ratib 6.000 SAR/bulan, 1 SAR = Rp 2200. Tidak cukup dg gaji yg hampir Rp 15 juta/bulan saja, tunjangan tempat tinggal dan transportasi juga ditanggung sekolah (pemerintah).

    Anak2 sekolah dari tingkat SD hingga kuliah tidak dipungut biaya, tapi justru diberi uang saku perbulannya yang hampir menyamai gaji saya saat awal kerja jadi TKI di sini.

    Dari dua hal di atas, yg paling menarik di dunia pendidikan di Saudi adalah kurikulumnya yang benar2 penuh gizi Al-Quran dan As-Sunnah. Rata2 anak tingkat SD sudah hafal beberapa juz Al-Quran. Pemahaman dasar agamanya pun, jauh di atas rata2 anak di negeri terbesar penduduk muslimnya, Indonesia.

    Kerjaaan Saudi lebih kaya daripada Republik Indonesia? Masih perlu diteliliti, kita punya banyak SDA yg tidak dimiliki di negeri Raja Abdullah…. kita punya laut dan daratan, dst…. Negeri kita juga mempunyai kuantitas muslim terbesar di atas muka bumi ini….. Tanya kenapa…. negeri kita lebih gemuruh dg berita2 miris daripada berita gembira yg terbaca dari luar negeri…. Wallahu muwaffiq fi umurrinaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s