Momentum Kebangkitan Ilmu Pendidikan Islam

Standard

Muhammad Syahruzzaky
Universitas Siliwangi, Tasikmalaya

Sekitar tahun 1990-an geliat Ekonomi Syariah di Indonesia mulai tumbuh. Hal ini ditandai dengan berdirinya Bank Muamalat, Bank pertama di Indonesia yang memakai prinsip-prinsip syariah dalam menjalankan operasinya. Beberapa tahun kemudian sejumlah bank syariah lahir baik itu berbentuk bank maupun baru sebatas Unit Bank Syariah (UBS). Biasanya perbankan syariah ini merupakan ekspansi bisnis dari bank-bank konvensional yang telah ada sebelumnya. Kini, Ekonomi Syariah sudah menjadi tren di kalangan masyarakat Indonesia dan tidak lagi hanya menjadi sebatas pilihan alternatif.

Konsekuensinya, mulai dibukalah program studi Ekonomi Syariah di beberapa universitas baik swasta ataupun negeri, di lingkungan Kemenag maupun Kemdiknas. Beberapa Sekolah Tinggi berkualitas yang memasok SDM Ekonomi Syariah mulai lahir seperti STEI Tazkia, Universitas Trisakti, STEI SEBI dan lain sebagainya. Begitu pula pembukaan Program Studi Ekonomi Syariah pada level Pascasarjana ikut memberikan andil dalam meramaikan geliat ekonomi Syariah di Indonesia.

Hasil dari sinergitas antara industri Ekonomi Syariah dan pembukaan program studi Ekonomi Syariah di beberapa Perguruan Tinggi, berkembanglah ilmu Ekonomi Syariah di Indonesia. Kini Ilmu Ekonomi Syariah mulai berkembang pesat seiring dengan kebutuhan industri perbankan Syariah. Meskipun akhir-akhir ini ilmu Ekonomi Syariah mulai mendapat tantangan yang besar karena harus bersinggungan dengan sistem ekonomi global yang masih memakai paradigma kapitalis, ia tetap berkembang dan mengejawantahkan perbedaan esensial dengan Ilmu Ekonomi lainnya, baik pada tataran teoritis maupun praktis.

Momentum kebangkitan industri Ekonomi Syariah di era tahun 90-an diikuti juga dengan bangkitnya pendidikan Islam dari keterpurukan. Di era sebelum tahun 90-an kita sangat susah menemukan sekolah Islam yang bonafid dan memiliki kualitas yang bagus. Para orang tua muslim harus menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah Kristen/Katolik untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Bahkan Prof. Ahmad Tafsir berseloroh ketika menyelesaikan penelitian disertainya tentang lembaga pendidikan Islam, “Sulit mencari sekolah islami yang baik, sama sulitnya dengan mencari sekolah Katolik yang buruk”.

Kualitas sekolah Islam yang rendah pada masa itu, menurut hemat penulis, merupakan dampak sistemik dari pengebirian pendidikan Islam oleh pemerintahan kolonial Belanda. Melalui kebijakan-kebijakannya yang diskriminatif, pemerintah Belanda mengucilkan pendidikan Islam dan memberikan banyak peluang kepada sekolah-sekolah Kristen/Katolik untuk berkembang. Hal ini tentunya ada kaitan dengan kepentingan agama dan penjajahan pada masa itu. Salah satu bentuk dari diskriminasi pendidikan Islam pada masa itu adalah dikeluarkannya kebijakan ordonansi guru agama Islam yang terbit pada tahun 1905 untuk guru-guru di Jawa dan Madura, serta pada tahun 1925 untuk guru-guru di luar Jawa dan Madura. Isi dari kebijakan tersebut adalah pengawasan yang ketat terhadap implementasi pendidikan Islam di lembaga-lembaga pendidikan Islam.

Kebijakan yang mendiskreditakan pendidikan Islam berlanjut ketika pemerintahan beralih ke tangan Soeharto dengan orde barunya. Melalui kebijakan-kebijakannya, pendidikan Islam dalam hal ini diwakili oleh madrasah dan pesantren menjadi lembaga pendidikan nomor dua yang termarjinalkan. Bahkan, pada tahun 1970an, atas saran dari CSIS, presiden Soeharto mengeluarkan kepres yang mendiskreditkan pendidikan Islam yaitu dengan melimpahkan proses pendidikan nasional hanya kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Perlu diketahui bahwasanya lahirnya Kementerian Agama, yang salah satu fungsinya adalah pengelolaan lembaga pendidikan Islam, adalah bentuk kompensasi pemerintah bagi aspirasi politik umat Islam yang ‘kalah’ dalam memperjuangkan dasar Negara Republik Indonesia (salah satunya adalah dihapuskannya Piagam Jakarta). Tentunya, hal ini ditentang oleh para cendikiawan muslim, karena dianggap memuat misi sekulerisasi pendidikan di Indonesia, meskipun pada akhirnya pemerintah mencabut keputusan ini dan menggantinya dengan  SKB tiga menteri.

Kini, seiring dengan berhembusnya keran kebebasan di zaman reformasi, lembaga pendidikan Islami yang bonafid mulai berjamuran dan menjadi pilihan utama keluarga muslim Indonesia. Sekolah-sekolah ini bisa menyaingi hegemoni sekolah Kristen/Katolik dalam torehan prestasi baik level regional maupun internasional. Sekedar mengambil contoh kita memiliki Jaringan Sekolah Al-Azhar dan MAN Insan Cendikia yang telah bermain dalam level nasional. Belum lagi sekolah-sekolah Islam bonafid di daerah yang menjadi pilihan utama para orang tua di daerah dan mampu menjadi terdepan dalam torehan prestasi.

Sayang, beda dengan nasib Ilmu Ekonomi Syariah, Ilmu Pendidikan Islam (di IAIN dikenal istilah Kependidikan Islam) tidak berkembang pesat mengikuti perkembangan lembaga-lembaga pendidikan Islam. Sampai saat ini ilmu pendidikan Islam masih jalan di tempat dan tidak mampu menghasilkan teori-teori pendidikan Islam yang signifikan. Yang terjadi selama ini adalah penggunaan teori-teori pendidikan sekuler dan memolesinya dengan ayat-ayat quran dan hadits-hadits secukupunya untuk sekedar membedakannya dengan ilmu pendidikan sekuler.

Perkembangan ilmu pendidikan Islam sangat lambat kalau tidak untuk mengatakan stagnan sama sekali. Dalam bukunya ‘Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru’ Prof. Azyumardi Azra, mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah, menyatakan kekecewaannya yang mendalam tentang kurangnya perhatian terhadap Ilmu Pendidikan Islam. Para ahli Ilmu Pendidikan Islam di Indonesia kurang begitu serius dalam mengembangkan disiplin ilmu ini sehingga tertinggal dengan disiplin ilmu yang lain.

Perkembangan disiplin ilmu pendidikan Islam yang lambat sedikit banyak berpengaruh terhadap praksis pendidikan Islam khususnya di lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Saat ini, mayoritas lembaga pendidikan Islam tidak memiliki landasan-landasan praksis yang berdasarkan teori-teori pendidikan Islam. Justru, realitas yang terjadi di lapangan adalah penggunaan teori-teori pendidikan sekuleristik yang seringkali keluar dari koridor-koridor syariat Islam. Walhasil sekolah-sekolah Islam hanya mampu mengejawantahkan spirit pendidikan Islam hanya pada tataran labelnya saja.

Kegagalan para ahli pendidikan Islam dalam mengembangkan disiplin ilmunya akan berakibat fatal terhadap usaha untuk membangun masyarakat Islami yang berdasarkan ajaran-ajaran Islam. Setelah itu, pendidikan Islam, baik ranah teoritis maupun praktis, akan susah untuk bersaing dengan pendidikan kapitalis maupun komunis. Apabila keadaan ini dibiarkan berlarut-larut, maka kita khawatirkan arah pendidikan Islam di Indonesia akan semakin kabur dan Indonesia akan semakin berkubang di perangkap pendidikan sekuleristik yang menyerang Islam sampai ke jantungnya.

Bangkit Menuju Sebuah Kemajuan

Usaha untuk mengembangkan ilmu pendidikan Islam sebenarnya telah dimulai sekitar tahun 1993 dengan diselenggarakannya Musyawarah Ilmu Pendidikan Islami di Ciawi Bogor. Musyawarah ini menghasilkan sebuah rekomendasi kepada Departemen Agama (Kementerian Agama) untuk membentuk semacam konsorsium Pendidikan Islam yang bertugas mengembangkan ilmu pendidikan Islami pada level nasional.

Sungguh kita sayangkan, rekomendasi untuk membentuk sebuah konsorsium pendidikan Islam tidak mendapatkan respon dari Kementerian Agama. Pada tahun 1995, atas dasar kegelisahan tidak diresponnya rekomendasi musyawarah ilmu pendidikan Islami, Prof. Ahmad Tafsir, Guru Besar Pendidikan Islam UIN Bandung, dan rekan-rekannya mendirikan Asosiasi Sarjana Pendidikan Islam (ASPI). Organisasi ini baru sebatas pada penyelenggaraan seminar dan pelatihan tentang pendidikan Islam dan menerbitkan buku-buku yang berkaitan dengan pengembangan pendidikan Islam.

Masih pada tahun 1995, dalam kurikulum IAIN dibuka Jurusan Kependidikan Islam. Jurusan ini memfokuskan diri pada pengembangan ilmu pendidikan Islam pada level sarjana. Hal ini menandai tonggak menggeliatnya pengkajian ilmu pendidikan Islam di Indonesia, meskipun pada tataran pelaksanaan masih banyak kekurangan.

Meskipun telah memiliki perangkat yang mapan berupa fasilitas pengembangan teori dengan dibukanya jurusan kependidikan Islam baik dalam level sarjana maupun pascasarjana dan semakin menjamurnya sekolah Islam, nampaknya ilmu pendidikan Islam belum mendapatkan momentum kemajuannya. Hal ini dapat kita buktikan dengan rendahnya produksi teori-teori pendidikan Islam dan sedikitnya lembaga-lembaga pendidikan Islam yang menggunakan teori-teori tersebut dalam menjalankan proses pendidikannya. Apabila kita biarkan keadaan ini berlarut-larut tanpa ada usaha konkrit untuk mencari solusi, bukan tidak mungkin Ilmu Pendidikan Islam akan terkubur dalam dunia  intelektual muslim Indonesia. Bukankah hal itu tidak kita harapkan? Wallahu A’lam.

Taman Ilmu,
9:50:54 PM
Monday, August 29, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s